Home / Artikel / ”Scientific Misconduct”, Tren Mencemaskan

”Scientific Misconduct”, Tren Mencemaskan

Isu yang kerap terkait kegiatan penelitian adalah plagiarisme, yang secara umum didefinisikan sebagai mencuri ide orang lain lalu diaku karya sendiri. Kalau dicermati, plagiarisme hanyalah bagian dari scientific misconduct, suatu pelanggaran kode etik standar ilmiah dan perilaku etis dalam penelitian ilmiah.

Bagian lain dari scientific misconduct adalah fabrication dan falsification. Fabrikasi dapat disebut secara singkat sebagai mengarang (make up), sementara falsifikasi adalah memalsukan (changing the true description).

Ketiganya merupakan tantangan terhadap integritas ilmiah yang memang harus dipertahankan. Integritas ilmiah, dalam arti luas, tidak dapat dipisahkan dari penanganan yang bertanggung jawab dari keinginan manusia untuk pengetahuan dan rasa ingin tahu manusia.

Selain scientific misconduct, dikenal pula praktik-praktik riset yang dipertanyakan (questionable research practices/QRP), seperti konflik nama penulis, konflik kepentingan, serta publikasi ganda dan etika riset. Pertanyaannya mengapa isu scientific misconduct menjadi tren yang mencemaskan?

Hasil penelitian Gawrylewski (2009) yang diterbitkan dalam jurnal The Scientist menunjukkan, fabrikasi dan falsifikasi menduduki 61 persen diikuti oleh plagiarisme 35 persen dan lain-lain 4 persen. Artinya, plagiarisme termasuk di dalamnya plagiarisme diri sendiri (self plagiarism) bukanlah satu-satunya isu terkait dengan integritas ilmiah.

Berbeda dengan plagiarisme yang akan diketahui setelah tulisan ilmiah diterbitkan, fabrikasi dan falsifikasi adalah kasus yang terjadi di dalam laboratorium atau ruang pribadi.
Semua terlibat

Hal lain yang lebih mencemaskan dari penelitian Gawrylewski terkait dengan peringkat dari mereka yang melanggar integritas ilmiah atau melakukan scientific misconduct.

Sungguh menyedihkan ternyata semua tingkatan dalam masyarakat ilmiah terlibat di dalamnya, yaitu peneliti posdoktoral (26 persen), peneliti senior atau profesor (21 persen), peneliti muda/profesor yunior (17 persen), mahasiswa pascasarjana (16 persen), dan lain-lain (20 persen).

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ini bisa terjadi?

Beberapa faktor ditengarai sebagai penyebab terjadinya scientific misconduct, semisal publish or perish yang menjadi tekanan untuk menghasilkan publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi baik. Hal lain adalah adanya keinginan untuk tampil di muka dibandingkan dengan lainnya.

Selain itu, juga ada grant or gone, yaitu peneliti dituntut bisa mendapatkan dana riset kompetitif eksternal atau dikeluarkan jika tidak mampu. Namun, bisa juga merupakan masalah personal terkait dengan integritas ilmiah.

Scientific misconduct memiliki beberapa konsekuensi bagi pelakunya. Bisa berhenti kariernya atau hancur reputasi serta kerugian finansial juga. Jejak rekam yang dibangun bertahun-tahun diiringi kerja keras hilang dalam sekejap.

Salah satu kasus fabrikasi menimpa Eric Poehlman, ilmuwan di bidang obesitas manusia dan penuaan dari University of Vermont, School of Medicine, Amerika Serikat.

Dia mempresentasikan data yang curang dalam kuliah dan dalam makalah yang diterbitkan dan ia menggunakan data ini untuk mendapatkan jutaan dollar dalam bentuk hibah federal dari National Institutes of Health (NIH). Kasus ini terungkap berkat laporan teknisi laboratorium, Walter DeNino, di mana Eric Poehlman menjadi peneliti utamanya.

Konsekuensi lain dari scientific misconduct adalah penarikan (withdrawal) artikel yang telah terbit dari jurnal tertentu. Kasus ini dikenal dengan istilah retraction atau retraksi, yaitu jurnal tertentu akan mengumumkan bahwa suatu artikel ditarik dari publikasi dengan disertai alasan penarikannya. Namun, tren interval waktu retraction yang semakin pendek juga mencemaskan.

Ada blog yang khusus berkaitan dengan retraction yang disebut Retraction Watch. Menarik sekali, jika tahun 2002 dibutuhkan waktu 55 bulan sampai suatu artikel masuk retraction, maka pada tahun 2012 hanya butuh waktu empat bulan dari saat artikel dikirimkan ke jurnal, di-review dan dipublikasikan, hingga diindikasikan masuk kategori retraction.

Konsekuensi lain yang akan dihadapi pelaku scientific misconduct terkait dengan penerbitan artikel ilmiah pada jurnal ilmiah bereputasi adalah banning (pelarangan) untuk menerbitkan artikelnya pada jurnal tersebut selama 3-5 tahun disertai dengan pemberitahuan kasusnya kepada rekan sejawat serta jurnal-jurnal ilmu terkait.

Penanganan
Bagaimana kasus-kasus scientific misconduct ini bisa dihindari atau dicegah? Kalaupun terjadi, bagaimana harus ditangani? Oleh siapa? Melaporkan ke mana?

Edukasi merupakan cara efektif mencegah terjadinya scientific misconduct. Perlu guideline jelas tentang pelaksanaan riset yang bertanggung jawab. Kita harus jujur bahwa pemahaman tentang scientific misconduct masih relatif rendah di Indonesia. Penekanan terhadap isu plagiarisme lebih kuat meskipun kasus ini memang terus mencuat.

Mentoring aktif dari peneliti senior terhadap kolega dan yunior tentang pentingnya praktik ilmiah yang baik serta integritas ilmiah harus dilakukan terutama melalui contoh nyata para senior. Selanjutnya adalah pembentukan zero tolerance environment terkait dengan pelanggaran guideline yang disepakati serta implementasi penalti yang jelas.

Pada kasus scientific misconduct, perlu dibuat mekanisme pelaporan dan investigasi yang jelas, dilengkapi dengan komite pengawasan untuk penyelidikan yang adil.

Upaya yang paling tepat adalah membentuk Office of Research Integrity (Kantor Integritas Penelitian) dengan mekanisme dan sistem terpadu yang memungkinkan pencegahan dan penanganan kasus yang fair dan termonitor baik.

Ocky Karna Radjasa, Guru Besar Ilmu Kelautan dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: