Plagiasi dan Pembusukan Akademik

- Editor

Minggu, 24 Februari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maraknya kasus plagiasi sungguh memprihatinkan. Lingkungan pendidikan tinggi masih berjuang menegakkan standar etik dan jati diri. Masa depan pendidikan, peradaban, dan martabat bangsa menjadi taruhan.

Plagiasi atau plagiarisme kembali menjadi pembicaraan hangat. Sebenarnya, akademisi dan media massa, termasuk Kompas, sudah sering mengangkat isu ini. Paling mutakhir adalah dugaan plagiasi yang melibatkan para pengelola beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Terkuaknya informasi praktik plagiasi membuka tabir tentang karut-marut dan kekumuhan pengelolaan dan standar pendidikan tinggi di Indonesia. Fakta itu mengonfirmasi adanya pelanggaran norma, etika, dan standar mutu akademik yang parah dan perlu diperbaiki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelanggaran etika
Plagiasi merupakan salah satu pelanggaran etika dan standar akademik atau perilaku akademik yang tidak jujur dan melanggar integritas akademik.

Ketidakjujuran akademik (academic dishonesty) adalah perbuatan yang tidak jujur dalam rangka pendidikan, pengajaran, pembelajaran, riset, dan kegiatan akademik lain. Hal ini berlaku bukan hanya kepada mahasiswa, melainkan juga kepada setiap orang di lingkungan akademik.

Pelaku tindakan semacam itu umumnya akan berusaha mencari beragam dalih untuk menjustifikasi perbuatannya. Tidak jarang, pelaku plagiasi berdalih atau bersembunyi pada celah ketidaklengkapan regulasi yang tersedia.

Plagiasi merupakan pelanggaran etik, metode, dan standar mutu akademik. Pendekatan legal tidak akan selalu menuntaskan masalah karena perlu pembuktian hukum, proses hukum, dan penegakan hukum yang berliku dan panjang.

Namun, ketiadaan atau ketidaklengkapan regulasi atau aturan legal tentang plagiasi tidak berarti bahwa tindakan tersebut dapat dibenarkan dan dibiarkan berlanjut dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Melihat maraknya gejala plagiasi dan kemungkinan dampaknya, sangat penting bagi setiap perguruan tinggi untuk mencegah dan menetapkan sanksi yang tegas, adil, dan konsisten. Penetapan sanksi yang tegas, adil, dan konsisten dapat menimbulkan efek jera sehingga tidak terjadi pengulangan tindakan serupa.

Plagiasi perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak buruk terhadap pendidikan tinggi.

Pembusukan
Dampak buruk yang mungkin terjadi, antara lain, demoralisasi pendidikan tinggi, menurunnya standar proses dan mutu akademik sehingga perguruan tinggi kita makin tidak kompetitif, terjadi involusi pada pendidikan dan pengembangan ilmu. Pada ujungnya dunia pendidikan Indonesia menjadi mundur.

Pendidikan merupakan kunci pokok dalam membentuk masyarakat yang berperadaban dan berdaya saing. Semua negara berupaya memajukan pendidikan dengan segala daya.

Negara maju yang disegani dan mampu bersaing di tingkat global adalah mereka yang mampu menyediakan pendidikan bermutu di semua jenjang bagi warganya. Tidak ada negara yang maju yang tidak didukung sistem pendidikan yang kuat dan bermutu.

Keunggulan sistem pendidikan tinggi menjadi salah satu tolok ukur kemajuan dan keunggulan suatu negara di hadapan negara lainnya.

Sejatinya misi fundamental perguruan tinggi adalah menyelenggarakan pendidikan akal budi, merawat dan mengembangkan karakter mulia manusia, mencari dan mengungkapkan kebenaran melalui penelitian yang dilakukan, serta menyumbangkan hasil pencarian kebenaran itu bagi kemajuan peradaban dan kemakmuran bangsa.

Penyelenggaraan misi pendidikan tinggi itu dibingkai oleh nilai-nilai etis, kaidah akademik, dan tata kelola yang menjaga standar mutu dan reputasinya. Nilai-nilai etis dan integritas akademik menjadi panduan dan harus selalu dirawat serta dipertahankan sivitas akademika.

Pendidikan tinggi bukanlah pendidikan biasa. Ia menuntut suatu pribadi kesarjanaan dan tradisi kecendekiawanan dengan adab dan karakter yang mulia. Memperoleh gelar kesarjanaan dari perguruan tinggi merupakan kehormatan.

Secara tradisional, para sarjana mendapat sebutan sebagai orang ”yang amat terpelajar”. Suatu sebutan yang menyiratkan standar capaian, karakter, dan komitmen pada nilai-nilai etis dan integritas akademik. Alasannya sangat sederhana dan mendasar.

Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa dan perbaikan peradaban. Namun, penyelenggaraan pendidikan tinggi yang membiarkan terjadinya pelanggaran nilai, tradisi, dan kaidah akademik oleh sivitas akademika—dan tidak dicegah oleh para pemangku kepentingan di dalamnya—cepat atau lambat justru akan meruntuhkan standar mutu dan reputasi.

Pengabaian terhadap jati diri dan misi dasar tersebut telah merendahkan martabat perguruan tinggi dan mereka yang berproses di dalamnya. Menjebak perguruan tinggi tak ubahnya lingkungan yang anarkistis dan kumuh.

Tanpa komitmen merawat dan mempertahankan nilai-nilai etis dan integritas akademik, institusi pendidikan tinggi akan terperosok pada pembusukan akademik.

Martabat bangsa
Kemajuan pendidikan, termasuk standar etik dan mutu pendidikan tinggi, dapat meningkatkan martabat negara dan bangsa. Kerusakan pendidikan menjadi jalan bagi kemunduran bangsa dan hancurnya peradaban.

Di hadapan kompetisi global yang kian ketat, pendidikan tinggi di Indonesia dituntut menjadi tulang punggung inovasi dan kemajuan produksi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sungguh memprihatinkan jika ternyata lingkungan pendidikan tinggi masih berjuang menegakkan standar etik dan jati diri.

Masa depan pendidikan, peradaban, dan martabat bangsa menjadi taruhan.

Sigit Riyanto, Guru Besar dan Dekan Fakultas Hukum UGM

Editor: YOHANES KRISNAWAN

Sumber: Kompas, 23 Februari 2021

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:27 WIB

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB