Etika Ilmiah Mendukung Integritas Pengetahuan

- Editor

Rabu, 20 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi ataupun ilmuwan diharapkan selalu menjunjung tinggi pentingnya etika ilmiah dalam setiap tahapan proses penelitian.

Etika ilmiah menuntut kejujuran dan integritas akademisi ataupun ilmuwan di semua tahapan proses saintifik. Hasil kerja yang menjunjung tinggi etika ilmiah mampu mendukung kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan.

Anggota Komisi Ilmu Sosial Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Harkristuti Harkrisnowo, yang dihubungi seusai webinar ”Etika dalam Pengembangan dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan”, Selasa (16/3/2021) di Jakarta, mengatakan, secara umum, etika adalah sikap hidup. Oleh karena itu, sebagai sikap hidup, etika semestinya diajarkan mulai dari rumah dengan sasaran sejak anak usia dini. Di Jawa Tengah, misalnya, sekolah dasar tertentu mengajarkan etika melalui nyanyian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kalau menanamkan kesadaran pentingnya etika di pendidikan tinggi, itu telat,” ujarnya.

Etika ilmiah yang disadari penting oleh semua akademisi dan ilmuwan membentuk budaya integritas akademik. Menurut Harkristuti, memulai kesadaran etika ilmiah seharusnya melalui pendidikan, bukan melulu melalui pengawasan hukum.

Melalui paparan presentasi berjudul ”Mencoba Beretika dalam Masyarakat Tak Berwatak: Sebuah Catatan Otobiografi”, Guru Besar Universitas Indonesia Riris K Toha Sarumpaet mengatakan, ilmu pengetahuan mengabdi kepada masyarakat. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan menjadi sarana kemajuan.

Kaitan ilmu terhadap nilai-nilai membuat ilmu tidak terpisahkan dari etika. Ketika akademisi ataupun ilmuwan bersikap penuh tanggung jawab etis terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan yang digali melalui semua tahapan proses saintifik tidak akan kehilangan hak istimewanya untuk mengabdi kepada manusia.

Menurut dia, perguruan tinggi seharusnya berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan wajib menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi semestinya paham landasan etika akademik sehingga unggul dalam pertumbuhan pemikiran dan ilmu. ”Dalam Magna Charta Universitatum tahun 1988 disebutkan, universitas bertanggung jawab atas masa depan masyarakat, sosial, dan ekonomi,” ujar Riris.

Sophia Mubarika Haryana, anggota Center for Bioethics and Medical Humanity Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, menyoal tentang ”Bioetika sebagai Fondasi Integritas Ilmiah dalam Pengembangan dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan” dalam paparannya. Dia menjelaskan bahwa etika berkaitan dengan kehidupan. Bioetika secara khusus bertujuan melindungi manusia dari implikasi etik dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang cepat.

”Bioetika itu multi dan interdisiplin ilmu. Bioetika digunakan untuk menjaga martabat manusia dan ekosistem alam,” katanya.

Bioetika menjembatani kemajuan pengembangan ilmu dengan nilai moral manusia. Bioetika juga menghindarkan manusia dari eksploitasi moral.

”Jadi, ilmuwan dalam mengembangkan ilmu tetap harus dengan memperhatikan rasa kemanusiaan,” ujar Sophia.

Beberapa faktor
Riris memandang, fenomena hilangnya konteks besar ilmu yang belakangan terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya, dimensi sosial, politik, dan ekonomi kampus; dorongan neoliberal berupa kecenderungan mengejar ranking, publikasi kilat, dan asyik menanti tayangan ranking dunia; hibah tumpah; dan berbagai kebijakan pemerintah yang mau tak mau mengikuti pasar.

Sementara itu, berbagai bentuk pelanggaran etika di kampus mencakup, antara lain, plagiasi, diam-diam menerbitkan penelitian bersama, dan terjadinya inflasi nilai.

Ketua Komisi Ilmu Sosial Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Mayling Oey Gardiner saat dihubungi berpendapat, sistem pendidikan tinggi cenderung hanya menghasilkan pekerja dan mengisi birokrasi. Padahal, keutamaan pendidikan tinggi adalah mencetak ilmu pengetahuan.

Dia mengatakan, selama webinar itu berkembang seruan agar ada pedoman etika dalam penelitian ilmiah. AIPI diharapkan bisa memelopori perumusan pedomannya.

”Moralitas penting sekali,” ujarnya.

Oleh MEDIANA

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 16 Maret 2021

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB