Home / Berita / Rupiah Melemah, Momentum Bagi Pangan Lokal

Rupiah Melemah, Momentum Bagi Pangan Lokal

Penyediaan bahan makanan berbasis impor menghadapi persoalan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Tantangan juga muncul dari cuaca ekstrem yang menurunkan pasokan pangan global. Hal ini seharusnya jadi momentum untuk lebih serius mengembangkan keberagaman pangan lokal.

?Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa, dihubungi pada Minggu (16/9/2018) di Jakarta mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ini akan berpengaruh terhadap penyediaan pangan nasional, terutama yang berbasis gandum yang seluruhnya dari impor. Selain impor gandum, Indonesia juga masih tergantung pada impor beras.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Pengolahan sagu alam di pabrik PT ANJAP di Distrik Metamani, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, Selasa (4/9/2018). Mereka bisa mengolah sekitar 1.000 tual (1 meter batang sagu) per hari atau sekitar 10 ton per hari.

?Andreas yang juga Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia ini mengatakan, penurunan konsumsi beras secara nasional sebesar 200.000 ton ton per tahun. Namun demikian, penurunan konsumsi beras ini digantikan dengan peningkatan konsumsi gandum yang mencapai 150.000 tiap tahunnya atau tumbuh sekitar 0,6 persen.

Penurunan konsumsi beras secara nasional sebesar 200.000 ton ton per tahun. Namun demikian, penurunan konsumsi beras ini digantikan dengan peningkatan konsumsi gandum yang mencapai 150.000 tiap tahunnya atau tumbuh sekitar 0,6 persen.

?Proporsi gandum sebagai pangan pokok telah meningkat dari 21 persen pada tahun 2015 menjadi 25,4 persen pada tahun 2017. Padahal, 100 persen gandum kita dari impor.

?“Tidak hanya impor sumber karbohidrat, saat ini sumber protein nasional juga tergantung impor. Hampir 100 persen pakan ayam dan DOC (day old chicken) kita impor, selain juga impor daging, juga buah-buahan. Ketergantungan pangan dari impor ini melemahkan ketahanan pangan kita,” kata dia.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Dwi Andreas Santosa

?Menurut dia, ketersediaan pangan ke depan secara global berpotensi berkurang seiring dengan terjadinya cuaca ekstrem yang kini melanda sejumlah produsen pangan, termasuk gandum. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (11/9/2018) lalu telah merilis laporan tentang ancaman meningkatnya kelaparan di dunia akibat cuaca ekstrem.

?Dalam laporan ini disebutkan, jumlah penderita kekurangan gizi di dunia tahun 2017 telah menjadi 821 juta orang. Angka ini naik dari angka tahun 2016 yang berjumlah 804 juta orang.

?“Kita perlu upaya sangat serius untuk mengembangkan diverifikasi pangan dari sumber lokal. Jangan hanya jadi slogan, harus ada program nyata karena kondisinya sudah mendesak,” kata dia.

Butuh keberpihakan
?Ketua Masyarakat Sagu Indonesia Hasjim Bintoro mengatakan, dari aspek ketersediaannya di alam, pati sagu berpotensi menjadi sumber karbohidrat pengganti yang bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional.

“Kita memiliki cadangan sagu alam terbesar di dunia, yaitu di Papua. Selain itu, sagu budidaya juga telah diproduksi di Riau. Potensi sagu juga ada di Sulawesi, selain Maluku,” kata dia.

KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J–Perwakilan Provinsi Riau menyuguhkan ‘burger’ berbahan dasar tepung sagu dalam acara Gelar Pangan Nusantara di Jakarta, Sabtu (29/7/2018).

?Bintoro menambahkan, saat ini Badan Ketahanan Pangan Nasional tengah menyiapkan regulasi agar produksi tepung terigu yang berbahan gandum impor agar dicampur dengan pati sagu, minimal 10 persen untuk sagu. “Jika itu bisa diwujudkan akan menghemat devisa dan sekaligus mengembangkan industri sagu nasional. Kuncinya pada keberpihakan pemerintah pada pangan lokal,” kata dia.

Badan Ketahanan Pangan Nasional tengah menyiapkan regulasi agar produksi tepung terigu yang berbahan gandum impor agar dicampur dengan pati sagu, minimal 10 persen untuk sagu.

Penambahan sagu hingga 20 persen tidak akan mengubah karakter tepung terigu. “Masih bisa untuk roti atau mi. Bahkan, dari bahan 100 persen sagu juga bisa dibuat mi dan dari aspek kesehatan lebih baik karena bebas gluten dan indeks glikemik yang rendah,” kata Bintoro.

?Andreas mengatakan, langkah taktis lainnya yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor adalah dengan menaikkan tarif impornya.

“Selama ini tepung lokal kalah bersaing karena harga terigu dari bahan impor jauh lebih murah. Kunci produk gandum impor yang rata-rata dari negara maju ini bisa murah karena besarnya subsidi yang diberikan pemerintahnya kepada petani,” kata dia.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Sejumlah hasil produk yang dikembangkan melalui teknologi tepat guna dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 17 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: