BPPT Hasilkan Formula Pangan Alternatif Pengganti Padi dan Gandum

- Editor

Jumat, 22 Juni 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebutuhan gandum, terutama untuk bahan baku mi bagi penduduk Indonesia, sebagian masih dipenuhi dengan produk impor. Untuk menekan impor bahan pangan tersebut, dibuat formula dari sumber karbohidrat yang kemudian diolah dan dicetak menjadi mi. Formula itu terdiri dari sagu, jagung, dan singkong.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TAB-BPPT) Soni Solistia Wirawan, Senin (11/6/2018), mengatakan, pola makan masyarakat Indonesia saat ini mulai bergeser, yakni banyak mengonsumsi mi yang dibuat dari terigu yang berbahan baku gandum.

Pola makan masyarakat Indonesia saat ini mulai bergeser, yakni banyak mengonsumsi mi yang dibuat dari terigu yang berbahan baku gandum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konsumsi mi ini mencapai 124 kilogram per kapita per tahun dan merupakan angka yang tinggi dibandingkan dengan konsumsi beras yang rata-rata hanya 60 kg per kapita per tahun atau 50 persennya. ”Konsumsi mi instan mencapai 53 bungkus per kapita per tahun,” kata Soni.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO–Agustina memangkur sagu sambil menggendong anaknya, Lobeca, di hutan di pinggir Sungai Welderman, Distrik Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua, Sabtu (24/8/2013).

Karena itu, kata Hardaning Pranamuda, Deputi Teknologi AgroIndustri BPPT, BPPT berupaya mengembangkan sumber daya pangan lokal lain yang memiliki keragaman yang sangat kaya dan masih belum termanfaatkan secara optimal, seperti sagu, singkong, dan jagung.

Ia mencontohkan sagu. Sagu merupakan sumber daya pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Saat ini luas hutan sagu di Indonesia mencapai 1,25 juta hektar, 1,2 juta hektar di antaranya di Papua. Sementara di luar Papua, yaitu di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan 120.000 hektar.

Hutan sagu di Papua yang telah dibudidayakan secara semikultivasi baru 14.000 hektar. Dengan 1,2 juta hektar lahan sagu, Papua mampu menghasilkan 10-20 ton sagu per hektar per tahun. Dengan demikian, diharapkan akan tersedia sumber cadangan karbohidrat 12 juta-24 juta ton per tahun.

”Cadangan sagu yang besar itu merupakan potensi bagi pangan sebagai bahan baku industri dan sebagai sumber energi. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga diharapkan menjadi salah satu pijakan kuat bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Papua dan Papua Barat, khususnya di Indonesia timur, agar pemerataan pembangunan nasional terus meningkat,” harap Soni.

Selain sebagai sumber pangan, sagu juga diharapkan menjadi salah satu pijakan kuat bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Papua dan Papua Barat, khususnya di Indonesia timur.

Meski begitu ia menyadari pengembangan pemanfaatan sagu menghadapi tantangan karena lokasi terpencil dengan infrastruktur yang belum memadai untuk akses transportasi dan akses pasokan energi. ”Untuk itu, perlu diskusi bersama antara pemangku kepentingan dan masyarakat agar dicapai solusi terbaiknya supaya pemanfaatan sagu dapat menjadi salah satu sumber pangan,” ujar Soni.

Potensi sagu
Dari sagu kemudian diolah menjadi bahan makanan alternatif, yaitu beras sagu dan mi sagu. Pembuatannya ditunjang dengan mesin proses yang dirancang perekayasa BPPT. Untuk beras sagu, sebanyak 20 persen adalah tepung beras merah. Adapun mie 100 persen dari pati sagu.

Keunggulan produk pangan ini, kata Hardaning, memiliki indeks glikemik lebih rendah atau berkisar 30-50 dibandingkan dengan beras padi yang sekitar 90. Keuntungan lainnya, kandungan serat pangan dan resistant starch (pati tahan cerna) juga tinggi sehingga sangat baik dikonsumsi mereka yang berpotensi diabetes serta untuk memenuhi kebutuhan diet guna mendukung pola hidup sehat.

Beras sagu memiliki indeks glikemik lebih rendah atau berkisar 30-50 dibandingkan dengan beras padi yang sekitar 90.

”Hasil riset inovasi teknologi ini perlu lebih didorong agar dapat menjadi tulang punggung industri pangan nasional dan demi terwujudnya ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Pemanfaatan sagu diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan. Saat ini berbagai masalah harus dihadapi dalam membangun ketahanan pangan, antara lain ketergantungan impor pangan yang semakin besar mencapai 70 persen, pertambahan penduduk 1,49 persen per tahun, iklim dan bencana alam, alih fungsi lahan, kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat termasuk perubahan pola makan, dan masalah keamanan pangan.

Saat ini implementasi kebijakan pemerintah di bidang diversifikasi (penganekaragaman) juga belum optimal. ”Semua masalah itu terakumulasi menjadi semakin rendahnya ketahanan pangan Indonesia,” papar Soni.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 12 Juni 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB