Home / Berita / Riset Teripang LIPI Menjanjikan

Riset Teripang LIPI Menjanjikan

Tahun Ini, Tim Targetkan Senyawa Aktif
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memelopori inovasi riset yang berujung pada suplemen makanan dan obat dari hewan laut teripang. Produk dari biota laut yang melimpah di Indonesia itu berpeluang menggantikan produk impor dari Malaysia.


Selama ini, selain Malaysia, beredar luas suplemen makanan berbasis teripang dari Amerika Serikat. Malaysia juga memproduksi pangan berbahan gamat (bahasa Malaysia untuk teripang) dalam bentuk jeli.

Oleh karena itu, riset menghasilkan suplemen makanan dan obat dari teripang merupakan upaya menghadirkan substitusi impor. LIPI juga memilih jenis teripang (Stichopus vastus) yang sangat jarang dikonsumsi dan bernilai ekonomi rendah agar tidak berbenturan dengan kebutuhan pangan masyarakat.

Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI menjadikan riset teripang tersebut sebagai salah satu program berkelanjutan periode 2015-2019. “Bioteknologi kelautan merupakan unggulan P2O. Untuk lima tahun mendatang, karena anggaran terbatas, kami fokus menggarap teripang dulu,” kata Pelaksana Harian Kepala P2O LIPI Dirhamsyah, Jumat (8/5), di Jakarta.

tripang-emasDi level internasional, biota-biota laut Indonesia diincar sejumlah negara. Mereka ingin bekerja sama mengkaji potensi manfaat biota laut di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian potensi manfaat biota laut, termasuk teripang, mendesak dilakukan guna mengamankan kekayaan hayati Indonesia.

Sekretaris Kelompok Penelitian Budidaya dan Bioprospeksi Laut P2O LIPI Tutik Murniasih menambahkan, industri dalam negeri sama sekali belum memulai pengkajian teripang agar menghasilkan produk bernilai tambah.

Suplemen makanan
Peneliti kimia bahan alam laut pada P2O LIPI, Abdullah Rasyid, menulis potensi pemanfaatan spesies teripang tersebut sebagai suplemen makanan dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, Agustus 2014. Sebagai sampel, Rasyid mengumpulkan delapan individu Stichopus vastus dengan total bobot basah 2,5 kg dari Teluk Ratai, Lampung Selatan, Lampung, pada Juni 2013.

Menurut dia, spesies itu berpotensi unggul dijadikan suplemen makanan karena tinggi protein dan rendah lemak. Teripang juga mengandung antioksidan sehingga membantu mempertahankan kekebalan tubuh.

“Efek samping calon suplemen masih dalam penelitian, tetapi kemungkinan besar tidak ada mengingat selama ini konsumsi teripang oleh masyarakat aman,” ujar Rasyid.

Ia melanjutkan, meskipun teripang jenis Stichopus vastus masih melimpah, P2O LIPI menyiapkan kajian budidaya jenis tersebut di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tujuannya, saat produksi massal suplemen makanan sudah berjalan, produsen tidak kesulitan bahan baku dan bisa mendapatkan teripang dewasa. Teripang dengan bobot minimal 200 gram per individu adalah yang sudah optimal untuk dimanfaatkan karena sudah menghasilkan senyawa aktif.

Tutik mengatakan, purwarupa suplemen makanan berbahan teripang yang siap diproduksi massal ditargetkan selesai 2016. Setelah itu, LIPI akan menawarkan purwarupa kepada industri. “Saat ini, kami masih harus menjalankan uji toksikologi (keamanan suplemen), termasuk uji invivo pada tikus, serta selanjutnya memproses paten,” ujarnya.

Pelindung saraf
Selain suplemen makanan, P2O LIPI juga menargetkan adanya obat berbahan senyawa aktif dari teripang Stichopus vastus, khususnya obat pelindung saraf (neuroprotective agent). Ratih Pangestuti, peneliti bioteknologi kelautan P2O LIPI, menargetkan purwarupa obat pelindung saraf tersebut siap tahun 2017.

Riset dijalankan bersama Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan anggaran Rp 300 juta-Rp 400 juta per tahun dan jangka waktu tiga tahun. Tahun ini, tim peneliti menargetkan memperoleh senyawa aktif (marker) spesifik berpotensi bahan baku obat pelindung saraf, terutama mencegah kematian sel saraf.

Fokusnya pada pencegahan, bukan pengobatan, terhadap sejumlah penyakit terkait saraf, seperti tekanan darah tinggi, stroke, dan alzheimer. Riset obat berbahan teripang dari area tropis belum ada. (JOG)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Mei 2015, di halaman 13 dengan judul “Riset Teripang LIPI Menjanjikan”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: