Home / Artikel / Teripang si Timun Laut

Teripang si Timun Laut

Dari pasir naik ke penggorengan

ADA satu di antara berpuluh bahkan beratus hewan laut yang sosoknya aneh. Bentuknya bulat panjang mirip buah ketimun, ada yang berbenjol-benjol, dan ada pula yang mirip sosis — tapi warnanya hitam. Selain hitam, teripang ada yang berwama merah, putih tua, cokelat, hijau pucat, oranye, violet, atau bergaris-garis kuning dan cokelat. Kalau dipegang terasa lembut.

Jika diperhatikan lebih lanjut agak membingungkan, lubang mulutnya lebih kecil daripada lubang anusnya. Di sekitar mulut terdapat tentakel-tentakel (mirip lengan pada cumi-cumi atau gurita).

Teripang biasa ditemukan di pantai-pantai berpasir —mereka membenamkan dirinya di pasir— tapi untuk jenis-jenis tertentu ada yang hidup sampai kedalaman beberapa meter dari per-mukaan laut. Ada pula yang hidup di dekat muara sungai, biasanya teripang putih.

Hewan yang senang pada perairan jernih, bebas dari polusi maupun ‘becak’ ini menyukai salinitas 28-30 permil dengan suhu 28-30 derajat Celcius. Namun teripang putih (Holothuria scabra) Idirena biasa hidup di perairan muara-muara sungai maka dapat tahan terhadap kekeruhan yang relatif tinggi. Hampir di seluruh perairan Indonesia terdapat teripang, seperti di Karimun-jawa, Kep. Seribu, Pulau Bommpies (lepas pantai Indramayu), Pulau Kangean dan Sapudi (Madura), Bali, Lombok, Kep. Riau, Kalimantan, Belitung, Kep. Maluku, Sulawesi, dll.

APA NAMANYA?
Masyarakat pesisir di Indonesia biasa menyebut hewan laut ini dengan ‘teripang’ atau ada pula yang memanggilnya ‘ketimun laut’. Dalam buku teks bahasa Inggris, biasa disebut sea cucumber, sedangkan bahasa Latinnya ada yang dipanggil Holothuria scabra, H. atra, Microthele nobelis, Thelonata ananas dan masih banyak yang lain.

Bames (1974) —seorang pakar taksonomi hewan rendah— memasukkan hewan ini ke dalam filum Echinodermata, yang masih terdiri lagi atas enam ordo: Dactylochirotida, Dendrohirotida, Aspidochirotida, Elasipodida, Malpodida, dan Apodida.

REPRODUKSI
Teripang termasuk hewan yang memiliki seks terpisah, istilah biologinya (berumah dua). Pada waktu kawin, si jantan akan mengeluarkan spermanya sedangkan betinanya akan mengeluarkan sel telur. Apabila sperma dan sel telur bertemu maka akan terjadi pembuahan. Selanjutnya, setelah melewati beberapa tahapan akan cullah larva yang melayang-layang (plankton) — biasa disebut auricularia.

MAKANAN
Dalam soal makan-memakan, teripang termasuk rakus, ia memakan apa saja yang ada di dalam perairan, misalnya organisme-organisme kecil, sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang mati (detritus), plankton, cangkang-cangkang kerang, algae, dsb.

Namun ada pula teripang yang pilih-pilih makanannya, misalnya: Acthyodinium chilensis memakan algae cokelat (Phaephyceae); Stichopus hanya bisa makan detritus.

Teripang biasanya mereka beroperasi mencari mangsa malam hari, sehingga disebut juga hewan nokturnal —aktif malam hari. Tetapi kebiasaan itu tidak berlaku bagi jenis-jenis yang rakg, tidak perduli malam atau siang, mereka terus aktif mencari makan.

Cara makan teripang sangat unik, mereka meraih pasir yang ada di sekitarnya dengan bantuan tentakel-ten takel yang menjulur dari mulut. Bagian yang dapat dimakan olehnya akan ditelan, sementara yang tidak, akan dikeluarkan lagi lewat mulut.

SISTEM PERTAHANAN
Hewan lunak yang satu ini tidak memiliki senjata apa-apa untuk melawan musuh. Memang ada beberapa di antaranya yang memiliki ‘tampang serem’, untuk menakuti-nakuti hewan lain. Senjatanya yang paling ampuh adalah benang-benang putih yang di-semprotkan lewat anusnya. Benang-benang putih tersebut dikeluarkan hanya pada saat keadaan bahaya —atau benar-benar terasa terganggu. Benang-benang yang lengket itu bersifat racun bagi hewan lainnya, dan menimbulkan rasa gatal pada manusia.

NAIK STATUS
Pada saat ini teripang banyak dicari orang, karena statusnya naik dari pasir ke penggorengan; menjadi lauk teman makan nasi. Jenis-jenis yang naik statusnya antara lain Holothuria scabra, Microtele nobilis, dan Thelonata ananas. Hebatnya, di Tokyo dan Hong Kong, teripang menempati daftar menu pada restoran mewah dengan naya ‘haysom’. Di Prancis sebutan komer-sialnya adalah ‘be-che-demer’. Konon kabarnya saat ini teripang digolongkan ke dalam komoditi ekspor hasil-hasil laut, dan namanya sudah tercatat dalam buku terbitan Biro Pusat Statistik. Hebatnya lagi, teripang sudah terbang ke negara-negara tetangga, seperti: Singapura, Jepang, Hong Kong, dan Amerika Serikat.

Di negara-negara tetangga, selain digunakan sebagai bahan makanan –mengandung protein tinggi— juga digunakan dalam industri obat-obatan. Namun di Indonesia sendiri, si timun laut ini belum sepopuler di luar negeri; baru terbatas di kalangan masyarakat peisisir. Di Sulawesi Selatan dan Tenggara teripang dijual dalam keadaan basah atau telah diasap.

Mengenai harga, cukup menguras kantong. Di Sulawesi, jenis teripang yang paling mahal adalah teripang putih, harganya dapat mencapai Rp.10.000,- sampai Rp.25.000,- per kilogram. Menyusul teripang koro dan teripang pandan. Ketiga jenis ini yang menjadi topstar dan menempati urutan keempat dari ekspor hasil-hasil laut di Sulawesi.

ANCAMAN KEPUNAHAN
Memang, makhluk yang berstatus manusia nampaknya sangat rakus. Mereka akan memanfaatkan semua yang ada di muka bumi ini tanpa memikirkan akibat sampingannya. Dalam hal kelestarian teripang, manusia pun turut berperan. Sebagai contoh kasus yang terjadi di Pulau Pari (Kep. Seribu). Saat ini keberadaan teripang jenis-jenis tertentu sangat meng-khawatirkan. Bila kita melakukan pencacahan terhadap teripang pasir, yang konon kabarnya paling mahal, mungkin kita hanya menjumpai 2-3 ekor di seluruh perairan yang mempunyai luas kira-kira 6 km2.

Apalagi sekarang, penduduk makin membabi buta mencari teripang. Dulu teripang pasir diburu, sekarang mereka beralih ke semua jenis teripang, bahkan teripang getah yang dulu tidak dijamah penduduk sekarang menjadi buruan mereka. Kesemua ini merupakan tuntutan perut yang tiada henti berkeriuk-keriuk. Menurut keterangan penduduk setempat harga teripang getah per kilogram kering Rp.400,-; teripang keling Rp.2.000,-; sedangkan teripang oler Rp.1.200,-.

USAHA PENGEMBANGAN
Sayangnya, produksi teripang-teripang ini masih tergantung pada alam, sehingga dikhawatirkan suata saat akan punah. Menurut Nessa & Arahman (1987), di Sulawesi Selatan dilakukan budidaya/ pemeliharaan teripang —bibitnya berasal dari perairan sekitarnya. Budidaya teripang itu menggunakan metode pan culture (sistem kerangkeng), yaitu memenjarakan atau memberi/ membuat kapling untuk tempat tinggal hewan tersebut.

Panen dapat dilakukan setiap enam bulan sekali, setelah beratnya mencapai 0,5-0,6 kg. Namun kedua cara tersebut di atas belumlah efektif, sehingga permintaan eksportir akan teripang belum dapat terpenuhi. Pengembangan lebih lanjut? Inilah tantangan bagi para pakar.

Oleh: Nurul Dhewani M.S., Staf Peneliti Lingkungan Laut Puslitbang Oseanologi LIPI – Jakarta

Sumber: Majalah AKU TAHU/EDISI 98 JUNI 1991

Share
%d blogger menyukai ini: