Home / Berita / Riset Obat Anemia; Darbepoetin, Awal yang Menjanjikan

Riset Obat Anemia; Darbepoetin, Awal yang Menjanjikan

Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta orang, fakta Indonesia masih menggantungkan urusan kesehatan kepada negara lain memunculkan ironi. Pengembangan Darbepoetin Alfa, Erythropoietin (EPO) generasi II, untuk dijadikan obat anemia menjadi harapan. Setidaknya, mandiri dalam produksi obat.

Wajah Adi Santoso, peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), semringah saat sejumlah pewarta foto mengabadikan dirinya memegang wadah berisi tiga tabung kecil bersegel oranye. Tabung berisi gen darbepoetin sintetik atau EPO generasi kedua itu baru saja diserahkan secara simbolis kepada Bio Farma, produsen vaksin dan obat milik pemerintah untuk dijadikan obat bagi pengidap anemia berat yang disebabkan gagal ginjal atau kemoterapi.

Darbepoetin dan EPO generasi sebelumnya mempunyai fungsi vital menstimulasi pembentukan sel darah merah. Meski butuh sekitar 200.000 obat EPO per tahun, Indonesia belum bisa membuatnya. Semua kebutuhan EPO harus diimpor.

Melalui ginjal, tubuh secara alami bisa memproduksi hormon erythropoetin. Hormon itu memicu pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang. Namun, bagi pengidap gagal ginjal, fungsi ginjal menghasilkan erythropoetin akan terganggu. Adapun bagi pasien kemoterapi, biasanya akan terpapar zat yang menghalangi pematangan sel darah merah.

19552c4810664b639d1ec80efe52cd44KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG–Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adi Santoso memperlihatkan bank riset gen darbepoetin sintetik di Bandung, Senin (28/12). Bank sel riset itu diharapkan bisa membantu pengobatan pasien gagal ginjal atau pasien kemoterapi.

Melalui obat Erythropoetin dan Darbepoetin, kemampuan tubuh membentuk sel darah merah bisa ditingkatkan.

Dibandingkan EPO, Darbepoetin diklaim lebih unggul dalam memicu pembentukan sel darah merah. Darbepoetinpunya 5 N-Linked gugus karbohidrat, sedangkan EPO hanya memiliki 3 N Linked gugus karbohidrat. Itu membuat Darbepoetin cukup diberikan seminggu sekali bagi penderita gagal ginjal atau pasien kemoterapi. EPO biasanya harus dua kali seminggu.

Adi mengatakan, Darbepoetin itu bukan produk pertama di dunia. Salah satu perusahaan asal Amerika Serikat sudah membuatnya lebih dahulu. Namun karena produksi terbatas dan belum beredar di Indonesia, harganya masih terhitung mahal.

Menurut Adi, pasien berusia 55 tahun dan sudah melakukan cuci darah setidaknya harus mengeluarkan dana hingga Rp 40 juta per tahun. Adapun uang Rp 10 juta per tahun harus disediakan pasien berusia 55 tahun, tetapi belum perlu cuci darah. “Harapannya, setelah diserahkan dan diproduksi Bio Farma, harganya bisa lebih murah,” katanya.

Bukan mimpi
Bukan perkara mudah bagi Adi dalam mengembangkan riset obat untuk menghasilkan Darbepoetin. Butuh 10 tahun baginya dan tim peneliti dari LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Bio Farma untuk mewujudkan dalam bentuk Bank Sel Riset (RCB). Namun, itu belum cukup. Butuh 4-5 tahun lagi sebelum siap dipasarkan.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Bambang Sunarko memaparkan, agar Darbepoetin diproduksi, pihaknya mengembangkan gen darbepoetin sintetik bersumber dari RCB. Penyerahan RCB kepada Bio Farma dilakukan di Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12).

“Gen yang dikembangkan dari gen mamalia yang punya kemiripan dengan gen di tubuh manusia yang berfungsi produksi eritropoetin,” kata Bambang.

Nama sel atau gen mamalia adalah CHO DG44. Gen EPO itu diperoleh secara sintetik yang dipesan pada perusahaan DNA 2.0. Secara alamiah, tubuh manusia memproduksi protein tersebut. Namun, yang dikembangkan LIPI ialah produksi EPO dalam sel DG44. “RCB yang diserahkan ke Bio Farma ialah sel DG44 yang mengandung protein EPO manusia,” kata peneliti Pustlit Bioteknologi LIPI, Ning Herawati.

Menurut Bambang, riset EPO dilakukan sejak 2005, melibatkan Konsorsium EPO, bagian dari Forum Riset Vaksin Nasional. Konsorsium antara lain terdiri dari peneliti pada Puslit Bioteknologi LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Bio Farma. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menilai kerja sama penelitian lembaga riset dan industri penting untuk hilirisasi inovasi.

Direktur Utama Bio Farma Iskandar mengatakan, sebelum diproduksi akan dilakukan karakterisasi gen RCB dan pengujian. “Bio Farma meneruskan karakterisasi RCB yang sebelumnya dilakukan LIPI berskala laboratorium. Karakterisasi lanjutan butuh enam bulan,” ujarnya.

Karakterisasi lanjutan bertujuan meningkatkan kestabilan RCB yang memproduksi darbepoetin sehingga berkinerja konstan saat diproduksi massal di pabrik. Setelah produksi stabil, skala ditingkatkan. Itu butuh tiga tahun.

Sebelum dilempar ke pasar, uji klinis akan dilakukan setahun demi menjamin keamanan produk. Setelah 4 tahun percobaan, baru bisa produksi komersial darbepoetin, yakni Darbepoetin alfa.

Menurut Iskandar, waktu 4-5 tahun tersebut diperlukan untuk membuat RCB benar-benar siap menjadi harapan hidup. Serangkaian riset, pengembangan karakteristik, dan uji klinis wajib dilakukan demi menjamin keamanan produk bagi pasien.

“Proses produksi akan dilakukan di Life Science Park Bio Farma di Jasinga, Kabupaten Bogor, dengan menggunakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Proses itu seperti yang diinginkan dunia saat menetapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) hingga tahun 2030,” ujarnya.

Iskandar optimistis, semua yang dibicarakan itu bukan mimpi, melainkan rencana besar demi mendukung kemandirian nasional. Jika selama ini Bio Farma membayar royalti ke perusahaan asal Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Australia, dalam hal ini royalti akan diberikan kepada LIPI untuk mendukung riset lainnya.

“Setelah teknologinya dikuasai, waktu pembuatan produk lainnya akan lebih cepat. Uangnya pun tak akan ke mana-mana. Ini modal besar menjawab tantangan kemandirian pembuatan obat yang diinginkan Pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Memelihara semangat
Kepala LIPI Iskandar Zulkarnaen menyatakan, Darbepoetin tak sekadar memberi harapan bagi dunia pengobatan. Darbepoetin diyakini ampuh memelihara semangat masa depan teknologi Indonesia. Kerja sama industri, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pemerintah yang kerap tak terlihat kini jadi generator utama. “Kerja sama itu diperlukan saat perhatian pemerintah pada riset nasional masih rendah,” katanya.

Setidaknya ada tiga indikator yang jadi acuan. Salah satunya, belanja penelitian dan pengembangan nasional yang minim. Belanja litbang baru 0,09 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Alokasi itu jauh lebih kecil dibandingkan dana yang disiapkan Korea Selatan sebesar 3,4 persen dari PDB nasional.

Jumlah peneliti di lembaga pemerintah pun tak seimbang dengan total penduduk Indonesia. Hanya ada sekitar 10.000 peneliti di antara 250 juta penduduk Indonesia.

Kondisi itu jauh berbeda dibandingkan Brasil dengan 700 peneliti per 1 juta penduduk, Rusia (2.000 peneliti per 1 juta penduduk), India (160 peneliti per 1 juta penduduk), Tiongkok (1.020 peneliti per 1 juta penduduk), atau Korea Selatan mencapai 3.500 peneliti per 1 juta penduduk.

“Tak heran, negara seperti Tiongkok maju pesat dalam pengembangan teknologi,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti minimnya jumlah institusi riset yang aktif meneliti. Di Indonesia, ada sekitar 10 lembaga riset. Di Amerika Serikat ada 256 lembaga riset.

Menurut Adi, demi mengembangkan riset, kolaborasi antarlembaga diperlukan “Peneliti harus merelakan penelitiannya dikembangkan bersama-sama. Kalau hanya dipegang sendirian, kemungkinan tak membuahkan hasil apa-apa,” ujarnya. (CORNELIUS HELMY/YUNI IKAWATI)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Januari 2016, di halaman 14 dengan judul “Darbepoetin, Awal yang Menjanjikan”.
————
“Darbepoetin” Berpotensi Jadi Terapi Gagal Ginjal

Darbepoetin-generasi II eritropoetin, temuan peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, akan diproduksi PT Biofarma. Penggunaan darbepoetin berpotensi meningkatkan harapan hidup pasien gagal ginjal.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Bambang Sunarko memaparkan, agar darbepoetin diproduksi, pihaknya mengembangkan gen darbepoetin sintetik bersumber dari Bank Sel Riset (RCB). Penyerahan RCB kepada Biofarma dilakukan di Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12). Acara tersebut dihadiri Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain.

“Gen yang dikembangkan berasal dari gen mamalia yang punya kemiripan dengan gen di tubuh manusia yang berfungsi produksi eritropoetin,” kata Bambang.

Nama sel atau gen mamalia ialah CHO DG44. Gen EPO itu diperoleh secara sintetik yang dipesan pada perusahaan DNA 2.0. Secara alamiah, tubuh manusia memproduksi protein tersebut. Namun, yang dikembangkan LIPI ialah produksi EPO dalam sel DG44. “RCB yang diserahkan ke Biofarma ialah sel DG44 yang mengandung protein EPO manusia,” kata peneliti Pustlit Bioteknologi LIPI, Ning Herawati.

Direktur Utama Biofarma Iskandar mengatakan, sebelum diproduksi, akan dilakukan karakterisasi gen RCB dan pengujian. “Biofarma meneruskan karakterisasi RCB yang sebelummya dilakukan LIPI berskala laboratorium. Karakterisasi lanjutan butuh 6 bulan,” ujarnya.

Karakterisasi lanjutan bertujuan meningkatkan kestabilan RCB yang memproduksi darbepoetin sehingga berkinerja konstan saat diproduksi massal di pabrik. Setelah produksi stabil, skala ditingkatkan. Itu butuh 3 tahun.

Sebelum dilempar ke pasar, uji klinis akan dilakukan setahun demi menjamin keamanan produk. Setelah 4 tahun percobaan, baru bisa produksi komersial darbepoetin, yakni Darbepoetin alfa.

Ahli Utama Pengembangan Produk Biofarma, Neni Nurainy, menjelaskan, darbepoetin punya gugus gula lebih banyak daripada EPO generasi pertama. Jadi, frekuensi pemberian ke pasien sekali seminggu. “Pada obat EPO generasi sebelumnya, dosis 2 kali seminggu. Darbepoetin 2 kali lebih efektif,” ujarnya.

Darbepoetin dan obat EPO terdahulu berfungsi menstimulasi pembentukan sel darah merah di tubuh. Itu untuk mengobati anemia berat yang kerap dialami pasien gagal ginjal dan yang dikemoterapi. Pada pasien itu, jumlah eritropoetin tak diproduksi ginjal tak cukup.

Menurut Bambang, riset EPO dilakukan sejak 2005, melibatkan Konsorsium EPO, bagian dari Forum Riset Vaksin Nasional. Konsorsium antara lain terdiri dari peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Biofarma. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menilai, kerja sama penelitian lembaga riset dan industri penting untuk hilirisasi inovasi. (YUN/CHE)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “”Darbepoetin” Berpotensi Jadi Terapi Gagal Ginjal”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: