Home / Berita / Riset Menggerakkan Ekonomi Desa

Riset Menggerakkan Ekonomi Desa

Batan memiliki berbagai varietas unggul padi, kedelai, sorgum, gandum, kacang tanah, kacang hijau, pisang, dan kapas. Batan bekerja sama dengan pemda agar berbagai hasil riset itu bisa dimanfaatkan masyarakat.

KOMPAS/MUCHAMAD ZAID WAHYUDI–Beberapa petani perempuan di Desa G1 Mataram, Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan ikut bergotong royong merontokkan malai padi untuk diambil gabahnya, Rabu (4/9/2019). Mereka bertugas menghentak-hentakkan batang padi untuk memastikan tidak ada gabah yang tertinggal. Saat itu, mereka memanen padi varietas Kahayan yang dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Matahari hampir di atas kepala. Sinarnya sangat terik. Namun itu tak menghalangi sejumlah petani di Desa G1 Mataram, Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan untuk memanen padi mereka yang sudah menguning. Meski hasil panen cukup baik, namun mereka dibayang-bayangi turunnya harga beras.

Memakai baju serba tertutup dari kepala hingga kaki guna melindungi dari panas dan gatal, petani berbagi peran. Petani laki-laki bekerja di sekitar mesin perontok padi, memasukkan malai padi ke mesin, mengumpulkan gabah, dan memasukkan gabah dalam karung. Sementara perempuan petani menghentak-hentakkan jerami untuk mengumpulkan gabah yang tersisa.

Saat itu, mereka sedang memanen padi varietas Kahayan yang dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Padi varietas ini mulai dikenalkan ke masyarakat sejak 2003. “Di sini, varietas ini baru ditanam satu sampai dua kali,” kata Jumari (56), salah seorang petani, Rabu (4/9/2019).

KOMPAS/MUCHAMAD ZAID WAHYUDI–Tanaman padi varietas Kahayan yang ditanam di persawahan Desa G1 Mataram, Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu (4/9/2019), menguning dan siap untuk dipanen. Untuk setiap satu hektar padi Kahayan yang ditanam mampu menghasilkan gabah kering giling hingga 6,5 ton.

Biasanya, petani di daerah itu menanam padi varietas IR-64 (1986) atau Ciherang (2000). Namun sejak terjalin kerja sama dengan pemerintah Musi Rawas, Batan mulai memperkenalkan sejumlah varietas padi hasil pemuliaan para penelitinya. Selain Ciherang, Batan juga memperkenalkan varietas Tropiko yang saat itu belum memasuki masa panen.

Kahayan diklaim memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan hama wereng coklat dan bakteri hawar daun. Untuk tiap hektar lahan padi Kahayan, mampu menghasilkan gabah kering giling hingga 6,5 ton. Adapun Tropiko memiliki ketahanan terhadap hawa wereng batang coklat dan mampu menghasilkan 7,2 ton padi kering giling per hektar.

Namun menurut Jumari, “Hasil panen padi antara varietas Kahayan dengan IR-64 dan Ciherang kurang lebih sama,” katanya.

Meski demikian, untuk penanaman varietas Kahayan di masa itu, saat puncak musim kemarau, petani mengeluhkan soal batang padi yang mudah rubuh meski belum tua. Pada masa penanaman sebelumnya di musim hujan, kondisi tanaman jauh lebih baik. Lokasi panen kali itu memang di bagian hilir dari sistem irigasi di daerah itu hingga pasokan air tak sebaik sawah yang ada di bagian hulu.

Petani juga mengeluhkan kurang lancarnya pasokan pupuk. Terbatasnya pasokan yang ada membuat petani padi seringkali harus berebut pupuk dengan petani perkebunan sawit atau karet yang ada di sekitar Musi Rawas.

Kepala Bidang Pertanian Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan, Irawan Sugoro, mengatakan batang rubuh bisa diakibatkan penggunaan pupuk yang berlebihan. Terlalu banyak pupuk urea akan membuat kandungan nitrogen di tanah menjadi terlalu tinggi hingga membuat akar kurang menghunjam ke tanah. Konsekuensinya, batang padi jadi mudah rubuh.

“Penggunaan benih padi varietas unggul saja tidak cukup, perlu disertai tata kelola tanah dan pengendalian hama lebih baik,” katanya. Karena itu, penyuluhan penggunaan pupuk yang baik perlu terus dilakukan pada petani.

KOMPAS/MUCHAMAD ZAID WAHYUDI–Petani mengarungi gabah yang baru saja di rontokkan dari malainya di persawahan Desa G1 Mataram, Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu (4/9/2019). Saat itu mereka memanen padi varietas Kahayan yang dimuliakan peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional. Untuk tiap satu hektar padi Kahayan yang ditanam mampu menghasilkan gabah kering giling hingga 6,5 ton.

Meski hasil panen kali ini cukup menggembirakan, namun petani dibayang-bayangi oleh turunnya harga jual beras. Ketiadaan koperasi membuat penjualan beras petani bergantung sepenuhnya pada tengkulak.

“Kalau kondisi bagus, harga beras bisa mencapai sekitar Rp 9.000 per kilogram. Namun saat masa panen raya seperti saat itu, harganya bisa turun jadi Rp 7.000-Rp 8.500 per kilogram,” kata Ngatijo (60), petani lainnya.

Situasi itu menunjukkan, hasil riset varietas padi yang baik tidak akan memberikan hasil optimal jika tidak didukung cara tanam, pengairan, pemupukan, dan tata kelola pascapanen yang baik. Sistem penjualan yang tertata juga akan memberikan keuntungan lebih baik bagi petani.

Hilirisasi
Batan memiliki puluhan padi varietas unggul, juga berbagai varietas unggul kedelai, sorgum, gandum, kacang tanah, kacang hijau, pisang, dan kapas. Namun sistem yang rumit membuat banyak hasil riset itu sulit diterapkan ke masyarakat.

Untuk mengatasi tantangan itu, Batan bekerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar berbagai hasil riset itu bisa dimanfaatkan masyarakat langsung. Upaya itu salah satunya diwujudkan melalui pembangunan Agro Techno Park (ATP) di tiga kabupaten. Selain di Musi Rawas, ATP juga dibangun di Polewali Mandar (Sulawesi Barat) dan Klaten (Jawa Tengah).

Melalui ATP Musi Rawas, Batan juga mengenalkan kedelai unggul varietas Mutiara ke pengusaha tahu tempe setempat. Agung Purbaya (27) sebagai pengelola perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) Kedelai Corner Purbaya mengatakan kedelai Mutiara Batan memberikan hasil lebih baik pada produk-produknya.

“Dengan 1,2 kilogram kedelai Mutiara bisa menghasilkan 16 liter susu kedelai. Dibanding jenis kedelai lain yang digunakan sebelumnya, susu kedelai yang dihasilkan jauh lebih banyak dan lebih kental,” katanya.

KOMPAS/MUCHAMAD ZAID WAHYUDI–Petugas Agro Techno Park Musi Rawas, Sumatera Selatan menunjukkan susu kedelai yang dibuat dari varietas kedelai Mutiara di Musi Rawas, Rabu (4/9/2019). Kedelai hasil pemuliaan peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional itu memiliki ukuran biji yang lebih besar dan mampu menghasilkan susu kedelai yang lebih banyak dibanding varietas kedelai lainnya.

Tak hanya memberikan kedelai terbaik hasil riset mereka, Batan sebagai pembina ATP Musi Rawas juga memberikan bantuan sejumlah peralatan untuk menunjang usaha Agung serta mengikutkannya pada beberapa pelatihan ke luar daerah. Demi hasil risetnya termanfaatkan, peneliti Batan kadang juga harus berperan sebagai pembina industri kecil dan menengah.

Selain perusahaan kedelai, ATP Musi Rawas juga membina PPBT produsen beras. Husin Santoso, bendahara Kelompok Tani Satan Makmur I di Desa Air Satan, Muara Beliti, Musi Rawas mendapat bantuan berupa mesin pengering padi. Mesin berkapasitas 10 ton itu membuat proses pengeringan padi menjadi lebih cepat dan tidak terkendala cuaca.

Sebagai perbandingan, untuk mengeringkan 7-9 ton gabah dalam cuaca amat terik, butuh waktu 2-3 hari. Selain itu, butuh tenaga untuk mengangkut, menjemur, hingga membolak-balikkan gabah. Namun dengan mesin pengering, untuk menurunkan kadar air gabah dari 25 persen menjadi 13 persen, hanya butuh waktu 13 jam.

“Untuk menurunkan kadar air gabah kering panen sebesar 1 persen dibutuhkan waktu satu jam,” katanya. Tak hanya mesin pengering dan penggilingan gabah, kelompok tani itu juga memiliki mesin penapis untuk memisahkan beras berdasar ukurannya hingga kelompok kualitas beras bisa langsung ditentukan.

KOMPAS/MUCHAMAD ZAID WAHYUDI–Petugas Agro Techno Park Musi Rawas, Sumatera Selatan menunjukkan beras dan benih padi Dayang Rindu yang merupakan varietas padi lokal Musi Rawas, Rabu (4/9/2019).

Lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya memiliki banyak riset dan inovasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat desa. Namun proses dan aturan yang rumit membuat banyak hasil riset hanya menumpuk di laboratorium. Sementara petani yang membutuhkan sentuhan inovasi dan teknologi terkendala akses untuk menjangkau lembaga riset.

“ATP jadi media untuk mendiseminasi teknologi yang dihasilkan Batan agar bisa memutar ekonomi daerah,” tambah Kepala PAIR Batan Totti Tjipto Sumirat.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 31 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: