Home / Berita / Rindu Auman Harimau Jawa

Rindu Auman Harimau Jawa

Harimau jawa, karnivor terbesar yang pernah hidup di Jawa, telah dinyatakan punah pada 1996. Namun, jejak kehadirannya masih berceceran. Para pencinta harimau jawa yang tergabung dalam Komunitas Peduli Karnivor Jawa terus ”memburu” satwa ini hingga ke relung terdalam hutan liar.

Saat ini, sekitar 69 orang telah bergabung dalam komunitas PKJ. Mereka menolak kepunahan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) secara fisik ataupun memori. Cap kepunahan harimau jawa dianggap semakin merugikan upaya pelestarian.

Sebagian dari pencinta harimau jawa ini berkumpul di Museum Zoologi Bogor dalam diskusi ”Harimau Jawa: Mitos dan Faktanya”, Kamis (20/3). Diskusi yang digelar Pusat Penelitian Biologi-LIPI untuk memperingati World Wildlife Day dan 120 tahun Museum Zoologicum Bogoriense juga memamerkan koleksi spesimen harimau jawa muda yang ditangkap di Blitar, Jawa Timur, pada 1910.

Koleksi dalam lemari kaca itu segera menyedot perhatian karena menjadi jejak harimau jawa utuh terakhir yang masih dipunyai bangsa ini. Tak heran jika perlakuan terhadap koleksi yang telah menjadi harta negara tersebut ekstra ketat. Apalagi, spesimen harimau jawa ini hanya boleh ditonton terbatas dengan izin khusus. Peserta diskusi pun segera berlomba foto bersama harimau jawa yang dipajang bersama spesimen harimau bali yang juga telah dianggap punah serta harimau sumatera.

Begitu diskusi berakhir, koleksi harimau segera dibungkus dengan plastik lalu buru-buru dikembalikan ke museum koleksi spesimen LIPI di Cibinong, Jawa Barat. Begitu tiba di museum, spesimen harimau yang diawetkan dengan cara pengeringan atau taksidermi itu harus segera dirawat. Spesimen dimasukkan ke lemari pembeku selama dua hari lalu sehari diangin-anginkan sebelum kembali masuk lemari pembeku selama dua hari lalu disimpan.

Peneliti mamalia dari Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Dr Gono Semiadi, menyatakan bahwa saat ini hanya tersisa 35 spesimen harimau jawa, yang dua di antaranya ada di Indonesia. Label punah di kalangan masyarakat ilmiah muncul karena pertimbangan bahwa suatu spesies tidak mungkin lagi hidup di alam liar. Untuk bertahan hidup, harimau jawa antara lain membutuhkan tutupan hutan alami yang baik serta kecukupan pangan.

Berkebalikan dengan cap punah, anggota PKJ justru melaporkan banyak temuan yang mengarah pada kehadiran harimau jawa. Temuan tersebut antara lain berupa kesaksian perjumpaan masyarakat tepi hutan dengan harimau loreng, laporan pembunuhan dari para pemburu, sisa pembunuhan harimau, jejak kaki, bekas cakaran di pohon, hingga kotoran yang masih berceceran.

Jejak di alam
Direktur PKJ sekaligus peneliti harimau jawa, Didik Raharyono, lalu menunjukkan jejak kehadiran harimau jawa di alam yang telah dikumpulkan anggota PKJ. Jejak tersebut antara lain berupa sobekan kulit harimau jawa yang dibunuh tahun 1995 dan 1996 yang diperoleh dari Jawa Tengah. Ada pula gigi harimau jawa muda yang dibunuh tahun 1996 dari Jawa Timur.

Di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jatim, masih ditemukan jejak kaki harimau jawa pada 1997, ceceran feses pada 2004, rambut pada 1997, hingga garutan cakar harimau pada 2004. Cakaran serupa dengan lebar antarkuku lebih dari empat sentimeter juga dijumpai di Gunung Raung, Jatim, dan Gunung Slamet, Jateng, pada 1999.

Temuan tahun 2000 berupa rambut harimau dari Taman Nasional Alas Purwo, Jatim, misalnya, telah diidentifikasi di LIPI dan terbukti sebagai rambut harimau jawa. Demikian pula dengan temuan rambut tahun 2004 dari TNMB yang telah dianalisis menggunakan mikroskop cahaya dan terbukti sebagai rambut harimau jawa.

Pada Januari 1998, PKJ mendapat laporan tentang pembunuhan harimau jawa di TNMB yang dijual seharga Rp 7 juta. Informasi lain menyebutkan penjualan anak harimau jawa yang ditangkap hidup-hidup pada 2004. Bahkan ada pemburu yang menjanjikan penangkapan harimau jawa dengan imbalan belasan hingga puluhan juta rupiah.

”Kasihan. Dia (harimau jawa) masih ada, tapi dianggap enggak ada. Penjualan dan perburuannya enggak ada payung hukumnya. Kalau saja, semua orang menyisihkan waktu dan tenaga, pasti keberadaan harimau jawa akan cepat terungkap,” kata anggota PKJ Dewi Kurnianingsih yang mulai tertarik pada pelestarian harimau jawa sejak terlibat kegiatan pencinta alam.

Meskipun cukup banyak jejak yang ditemukan, bukti kehadiran harimau jawa tersebut masih dianggap lemah tanpa dilengkapi foto ataupun video. Demi kelengkapan bukti, metode pemantauan pun dilengkapi dengan pemasangan kamera trap ke lokasi-lokasi yang pernah disurvei PKJ. ”Kami bergerak independen dengan dana sendiri. Jika ada informasi yang sangat meyakinkan, baru kami terjun ke lapangan,” tambah Dewi.

Anggota PKJ, Erwin Wiranto, menemukan keasyikan tersendiri dalam ”perburuan” harimau jawa. Sejak kuliah, ia sudah tertarik dan ikut mencari bukti kehadiran harimau jawa. Tak hanya harimau, Erwin pun peduli pada pelestarian karnivor asli Jawa lainnya, seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang juga terancam punah.

Dari pengembaraan melintasi hutan-hutan di Jawa, Erwin antara lain menemukan hubungan manusia tepi hutan dengan harimau jawa. Masyarakat yang tinggal di seputaran hutan justru lebih menghargai kehadiran harimau, bahkan mereka membuat patung harimau loreng di ladang untuk menakut-nakuti binatang lain.

”Harimau diposisikan sebagai partner dan saling menjaga. Orang-orang dari luar yang justru tak punya ikatan dengan satwa di hutan. Mereka mengambil seenaknya,” ujar Erwin.

Kepedulian Didik terhadap harimau jawa berawal ketika terlibat kegiatan pencinta alam di TNMB pada 1997. Didik yang awalnya berprofesi sebagai peneliti tanaman obat kemudian menekuni penelitian harimau jawa lalu membuat buku Berkawan Harimau Bersama Alam yang antara lain berisi panduan identifikasi jejak harimau jawa.

Bukti ilmiah
Data temuan anggota PKJ di lapangan, menurut Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Prof Dr Rosichon Ubaidillah, MPhil, akan sulit dianalisis secara molekuler karena belum ada sekuen asli DNA harimau jawa yang bisa digunakan sebagai pembanding. Padahal, identifikasi genetik diperlukan agar eksistensi harimau jawa benar-benar diakui.

Kepala Laboratorium Entomologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Hari Sutrisno menambahkan, identifikasi harimau jawa sulit sekali dilakukan jika hanya mengandalkan sampel kotoran, cakar, dan rambut. ”Kendalanya ada dua. Sampel spesimen segar sulit didapat dan belum ada referensi sekuen DNA sebagai data pembanding milik harimau jawa,” tambah Hari.

Satu-satunya cara identifikasi adalah dengan membawa sampel segar harimau jawa. Semakin segar sampel yang dibawa, maka DNA-nya pun semakin bagus. Tipe sekuen DNA dari sampel segar itu kemudian akan dibandingkan dengan DNA spesies harimau lain seperti harimau sumatera. Jika perbedaannya lebih dari 2 persen, bisa dikatakan bahwa harimau tersebut adalah harimau jawa.

Toh, kendala dalam proses identifikasi temuan di lapangan ini tak menyurutkan semangat para pencinta harimau jawa. Mereka terus saling berkomunikasi mengumpulkan data sambil terus berharap bagi kelestarian harimau jawa.

”Sering dianggap orang gila. Sudah tidak ada, kok, dicari. Tapi orang di tepi hutan lebih tahu. Mereka punya informasi dan bukti ilmiah, akan terus kami cari,” tambah Dewi.

Dan, mereka terus merindukan auman sang raja hutan di Pulau Jawa. (Mawar Kusuma)

Sumber: Kompas, 30 Maret 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: