Home / Berita / Harimau di Sumatera Diperkirakan Tinggal 600 Ekor

Harimau di Sumatera Diperkirakan Tinggal 600 Ekor

Perburuan liar masih menjadi ancaman tertinggi bagi populasi harimau. Hal itu diperparah oleh lemahnya penegakan hukum terhadap pemburu satwa langka itu. Padahal, harimau berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

Patroli oleh aparat PUN belum menyelamatkan populasi harimau. ”Tim patroli biasanya hanya berkeliling di tepi hutan sehingga tak bertemu harimau dan tak tahu soalnya,” kata ekolog satwa liar dari World Wild Fund (WWF) Indonesia, Sunarto, dalam diskusi memperingati Hari Harimau Sedunia, Senin (30/7/2018), di Jakarta.

Untuk itu, WWF Indonesia menerapkan perlindungan terintegrasi harimau sejak 2015. “Kami sudah menyadarkan 4 pemburu dari 20 pemburu yang aktif di Riau. Namun, tantangannya adalah memberikan pilihan pekerjaan lain yang dapat membuatnya tidak kembali berburu. Kami pun berusaha untuk duduk bersama dan mendiskusikan apa yang dapat mereka kerjakan setelah ini,” kata Sunarto.

Berdasarkan data WWF Indonesia 2018, jumlah harimau di Sumatera diperkirakan 600 ekor, tersebar di 30 area tinggal satwa itu. Tahun 2022, jumlah harimau di dunia ditargetkan 6.400 ekor, 700 ekor di antaranya di Indonesia.

–Ekolog Satwa Liar WWF Indonesia, Sunarto (kanan), mengatakan bahwa Hari Harimau Sedunia diperingati karena keberadaannya yang semakin langka padahal penting dalam ekosistem, Jakarta, Minggu (30/7/2018).

“Peningkatan jumlah harimau harus diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk jangka waktu yang panjang. Percuma saja kalau peningkatan jumlah harimau nantinya diikuti dengan meningkatnya ancaman perburuan liar,” kata Sunarto.

Keberadaan harimau merupakan hal yang penting dari keseimbangan ekosistem sebagai pemangsa terakhir. Dalam rantai makanan, harimau berperan untuk menyeimbangkan populasi hewan herbivora.

“Selain itu, keberadaan harimau juga dapat menjaga kebiasaan dari hewan herbivora, misalnya rusa. Dengan adanya harimau, rusa akan cenderung bersembunyi. Keadaan ini juga turut membantu regenerasi hutan agar tidak dimakan secara terus-menerus dalam waktu yang singkat,” kata Sunarto.

Selain itu, harimau dapat mendatangkan keuntungan ekonomi. Contohnya, untuk tujuan wisata karena keberadaan harimau semakin langka. Seperti yang terjadi Kamboja dan Vietnam. Sudah tidak ada lagi harimau di kedua negara ini.

Habitat Buatan
Kebun binatang seharusnya menjadi habitat buatan bagi hewan. Artinya, kebun binatang menjadi tempat pembiakan sekaligus pelatihan hewan agar siap dikembalikan ke alam. Selain itu, kebun binatang juga harus berfungsi untuk tempat edukasi.

Namun, selama ini masyarakat yang berkunjung ke kebun binatang, pada akhirnya berkeinginan untuk memelihara hewan di rumah. Seharusnya, masyarakat mampu berpikir mengenai apa yang dapat dilakukan untuk membantu perlindungan hewan, khususnya satwa langka.

“Sebenarnya kebun binatang memiliki manfaat bagi masyarakat, saya pun banyak belajar dari kebun binatang. Namun, pengelolaan dan regulasinya harus lebih baik dari sekarang,” kata Sunarto.

Ada sejumlah upaya upaya lain yang bisa dilakukan untuk melestarikan harimau. Menurut Fotografer Mainan Hewan, Fauzie Helmy, sosialisasi kepada masyarakat menjadi hal yang penting. “Saya memotret mainan hewan di wilayah habitatnya dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat. Saya ingin menyadarkan masyarakat bahwa apabila harimau punah, maka yang dapat kita lihat hanyalah mainan plastik,” ungkapnya. (SHARON PATRICIA)–E05

Sumber: Kompas, 31 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: