Rezeki dari Minyak Kelapa

- Editor

Minggu, 21 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teluk Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang berada di daerah pantai, terdapat ribuan pohon kelapa. Daerah itu juga kaya akan rempah-rempah. Sumber daya itu menjadi peluang usaha sendiri bagi setiap orang yang memiliki jiwa kewirausahaan (“entrepreneurship”), seperti Martinus Kreshna Anggara Asda (31). Ia pun bisa meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Produk minyak kelapa itu diberi merek Mico, sebagai minyak goreng untuk keperluan memasak. Martinus mulai merintis usaha itu pada tahun 2012. Ia tidak memproduksi sendiri, tetapi dengan melatih masyarakat sekitar. Hal itu juga sebagai solusi bagi masyarakat agar tidak tergantung dengan minyak goreng berbahan baku minyak sawit. Tak hanya bertujuan meraup untung, usaha itu juga bersifat kewirausahaan sosial. “Langkah ini sebagai usaha untuk mengembalikan kejayaan minyak kelapa,” kata Martinus yang ditemui beberapa waktu lalu.

Dengan adanya usaha itu, ia juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar yang ada di 29 desa di Kecamatan Jailolo, Sahu, dan Sahu Timur. Semuanya di Halmahera Barat.

1ba4ec47033f4a32bbbd54797d0d6830Usaha membuat minyak kelapa ini juga membuat kemampuan masyarakat mengelola produk kelapa kian bertambah. Soalnya, masyarakat sekitar sejak puluhan tahun lalu hanya paham memproduksi kopra atau daging kelapa yang dibakar dengan nilai tambah yang sangat kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, komoditas kelapa bisa diolah menjadi produk lainnya, yakni minyak kelapa yang lebih memiliki nilai tambah. Apalagi, masyarakat memiliki luasan lahan kebun kelapa rata-rata 2 hektar. Modal yang sangat berarti untuk berbisnis minyak kelapa. Selain itu, dengan memproduksi minyak kelapa akan lebih mudah menemukan segmen pasar baru, yakni minyak kelapa sebagai produk konsumsi.

Nilai tambah
Untuk menjalankan bisnis ini Martinus dihadapkan pada hambatan cukup berat, yakni mengubah pola pikir masyarakat untuk terbiasa dalam mengolah kelapa menjadi minyak kelapa. Maklum saja karena selama ini secara turun temurun hanya memproduksi kopra. Apalagi, di antara mereka ada yang sudah terikat dengan tengkulak.

Dengan memproduksi kopra, petani memetik keuntungan hanya tiga bulan sekali. Selama waktu tiga bulan itu tidak ada penghasilan. Akhirnya mereka terpaksa berutang kepada tengkulak. Para tengkulak ini biasanya memiliki toko sembako. Petani kelapa biasanya berutang sembako kepada tengkulak.

Tidak hanya berutang untuk keperluan hidup sehari-hari, ada juga petani kelapa yang berutang untuk membeli sepeda motor. “Gali lubang tutup lubang. Masyarakat hampir tidak memiliki nilai tambah dari kebun kelapa yang mereka miliki,” tuturnya.

Dengan memproduksi minyak kelapa, mereka memperoleh nilai tambah yang cukup lumayan. Para petani bisa memperoleh pendapatan rutin setiap bulan sekitar Rp 1 juta setiap hektar. Jauh lebih bernilai dibandingkan dengan memproduksi kopra yang hanya memberikan pendapatan bagi petani Rp 400.000 per hektar.

“Kami biasanya membayar minimal 50 persen dahulu dari pembelian minyak kelapa mentah ke petani agar tidak membebani petani. Setelah selesai semua baru dilunasi. Namun, jika petani tidak memiliki modal sama sekali, maka harus dilunasi sejak awal,” paparnya.

Martinus membeli dari petani berupa minyak kelapa mentah karena petani setempat hanya memiliki keterampilan dalam memproduksi minyak mentah. Setelah dibeli dari petani, baru minyak kelapa tadi dikemas dalam plastik khusus. Petani yang terlibat dalam memproduksi minyak mentah itu mencapai 166 orang dari Kecamatan Jailolo, Sahu, dan Sahu Timur.

Dalam soal kemasan, pada awal 2012, Martinus menggunakan botol berukuran 1 liter. Namun, dalam perjalanannya, kemasan botol ini tidak efisien dalam biaya produksi karena botol harus didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur. Maka, Martinus mulai menggantikan kemasan dengan plastik karena murah dalam biaya produksi dan biaya pengiriman. Masyarakat juga bisa lebih praktis pada saat menggunakan kemasan plastik tersebut.

Puluhan juta
Pada saat memulai usaha, Martinus lebih banyak merugi. Namun, usaha keras tak kenal putus asa membuat bisnis minyak kelapa ini mulia memberikan keuntungan. Martinus pun mulai meraup rezeki yang lumayan.

Saat ini, Martinus sudah bisa meraup keuntungan bersih hingga mencapai Rp 10 juta per bulan. Setiap bulannya, volume minyak kelapa yang terjual mencapai 1.000 liter. Pemasaran produk minyak kelapa ini pun kian meluas hingga ke beberapa daerah di Halmahera Utara, Tidore, Halmahera Barat, Ternate, dan juga hingga ke Papua.

Penjualan yang terus tumbuh ini tak lepas dari tanggapan masyarakat positif atas produk minyak kelapa. Meski demikian, Martinus sadar produknya masih jauh dari sempurna. Misalnya, dia harus memperbaiki kualitas dari sisi aroma minyaknya.

“Sistem produksi akan kami tingkatkan lagi agar semakin baik. Apalagi, tanggapan pasar pun positif terhadap produk itu. Dan hal ini juga akan memberikan hal positif kepada petani mengingat kami memiliki binaan desa organik dengan komoditas utama kelapa,” paparnya.

Target Martinus selanjutnya yakni ingin menstabilkan konsumsi dan pemasaran minyak kelapa di kawasan Indonesia timur. Hanya harus diakui biaya transportasi cukup mahal. Biaya angkut untuk memasarkan ke luar Halmahera Barat cukup besar. “Kami harus memproduksi dalam jumlah besar dahulu,” paparnya.

Martinus juga bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat sejak Oktober 2014 untuk mencanangkan penggunaan minyak kelapa, minimal oleh pegawai negeri sipil di Halmahera Barat. “Dengan kerja sama itu, harapan kami, minyak kelapa ini kian eksis di pasaran Halmahera Barat khususnya,” katanya.

Selain kelapa, Halmahera Barat juga terkenal kaya dengan sumber daya hayati lainnya khususnya rempah-rempah. Hal itu juga menjadi peluang usaha bagi Martinus. Berbagai macam produk pun dihasilkan, antara lain tepung sagu, sambal roa, sambal kenari, selai kenari, selai pala, dan aneka sirup dari buah pala.

“Kami membuat produk-produk dari komoditas bahan baku di sekitar yang tentunya bisa untuk pemberdayaan masyarakat,” tutur Martinus.–EMANUEL EDI SAPUTRA
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juni 2015, di halaman 20 dengan judul “Rezeki dari Minyak Kelapa”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru