Home / Berita / Rasio Positif Meningkat, Tes Belum Stabil

Rasio Positif Meningkat, Tes Belum Stabil

Laju penularan Covid-19 di Indonesia semakin tinggi. Sembari menanti ketersediaan vaksin yang diperkirakan baru tersedia bagi masyarakat pertengahan tahun depan, pembatasan sosial dan surveilasn mesti menjadi prioritas.

Laju penularan Covid-19 semakin tinggi, dengan rasio kasus positif mencapai rekor tertinggi hingga 26 persen. Padahal, vaksin diperkirakan belum akan tersedia ke publik hingga pertengahan tahun mendatang. Karena itu, upaya pengendalian wabah melalui pembatasan sosial dan surveilans harus jadi prioritas.

Laporan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Minggu (7/12), terjadi penambahan kasus 3.444 orang dengan jumlah orang yang diperiksa hanya 13.225 orang. Itu berarti rasio kasus positif 26 persen, merupakan rekor tertinggi.

Sementara rasio positif di Indonesia dalam sepekan terakhir 18,6 persen. Rasio kasus positif bulanan juga konsisten naik sejak Mei yang waktu itu 10,81 persen, menjadi 11,79 persen pada Juni, 13,36 persen pada Juli, dan 15,42 persen pada Agustus 2020.

Jumlah tes yang dilaporkan pada hari Minggu ini cenderung turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 16.897 orang, masih jauh dari target minimal nasional 38.000 orang per hari. Sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah orang yang diperiksa per minggu seharusnya minimal 1 per 1.000 per minggu. Jumlah ini baru dipenuhi Jakarta, Sumatera Barat, dan Yogyakarta.

Sebagian besar penambahan kasus baru ini terdapat di Jakarta, yaitu 1.176 orang atau 34,11 persen dari total penambahan kasus. Sementara jumlah orang yang diperiksa di Jakarta dalam sehari 6.362 orang atau 48 persen dari proporsi nasional.

Jawa Timur mengalami penambahan kasus terbanyak kedua dengan 303 orang, namun jumlah korban merupakan yang tertinggi, yaitu 30 korban dari total penambahan korban secara nasional 85 orang dalam sehari. Jakarta menalami penambahan korban terbanyak kedua dengan 9 orang dan Jawa Tengah 8 orang.

Ahli biostatistik Indonesia yang mengajar di University of South Australia, Beben Benyamin mengingatkan, Indonesia harus berupaya meningkatkan kapasitas dan cakupan tes, sehingga pengendalian wabah bisa dilakukan. Situasi bisa mengkhawatirkan karena kapasitas layanan kesehatan mulai kewalahan.

” Perlu kejelasan siapa yang berhak dites. Panduannya ada, tetapi bagaimana praktiknya, termasuk bagaimana pelaporan tes yang diselenggarakan swasta atau orang dengan biaya sendiri,” katanya.

Menurut Beben, upaya menemukan kasus baru melalui pelacakan kontak dan tes sangat penting dilakukan untuk memutus penularan. “Menjadi penting adanya data jumlah kasus suspek harian, dan berapa banyak yang diperiksa,” ujarnya.

Selama ini, Satuan Tugas Covid-19 hanya melaporkan jumlah suspek secara kumulatif, yang pada Minggu mencapai 89.701 orang. Jumlah ini bertambah jika dibandingkan pada Sabtu (5/9) sebesar 86.778 orang. Ini berarti hanya suspek yang diperiksa.

Menurut Humas Ikatan Dokter Indonesia Halik Malik, terdapat tambahan dua dokter meninggal dunia pada hari Minggu (6/9), yaitu ahli penyakit dalam yang juga Guru Besar Universitas Airlangga, dokter Boediwarsono dan dokter Rusli Mulyono dari Jakarta. Jumlah total dokter yang meninggal mencapai 107 dokter. Sementara pendataan Laporcovid19.org mencatat, jumlah bidan yang meninggal 78 orang dan perawat 87 orang, dokter gigi 8 orang.

Menunggu vaksin
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan, vaksin Covid-19 kemungkinan baru akan siap secara internasional pada pertengahan 2021. “Pastinya pada pertengahan 2021, kita harus mulai melihat vaksin di beberapa negara dan populasi,” kata Kapala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan dalam siaran pers, di Geneva, Swiss, pekan lalu.

Swaminathan mengatakan kandidat sedang diuji di banyak negara, dengan beberapa di antaranya sudah dalam uji klinis fase 3. Dia mengatakan hasil uji klinis ini diharapkan pada akhir tahun, atau awal tahun 2021.

Bruce Aylward, Asisten Direktur Jenderal WHO, mengatakan ada beberapa hal yang bisa dipercepat, tapi ada juga yang tidak bisa karena kebutuhan untuk memastikan keamanan dan kemanjuran.

Epidemiolog Indonesia di Griffith University Dicky Budiman mengutarakan, peringatan dari WHO ini perlu jadi perhatian bagi Indonesia agar menyiapkan strategi jangka panjang mengatasi Covid-19, karena vaksin tidak bisa segera tersedia.

” Faktor keamanan dan efektifitas vaksin sangat penting untuk dipastikan. Karena itu bisa melunturkan tingkat kepercayaan publik terhadap program vaksinasi secara keseluruhan, sehingga WHO sangat menjaga ini, memikirkan jangka panjangnya,” katanya.

Dicky mengatakan, gelombang pertama vaksin yang relatif aman dan efektif diprediksi baru diperoleh pertengahan tahun depan, mengingat tingkat kesulitannya. “Dari sekian banyak pusat riset vaksin, hanya beberapa pusat riset yang memiliki rekam jejak signifikan dalam keberhasilan program riset vaksin,” ucapnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 7 September 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: