Home / Berita / Rancang Bangun; Jalan Panjang Menuju Tri Nusa Bima Sakti

Rancang Bangun; Jalan Panjang Menuju Tri Nusa Bima Sakti

Jembatan tak sekadar jalan pintas untuk mempercepat lalu lintas dan mendongkrak perekonomian. Bangunan sipil itu bisa menjadi ikon kota-kota di Indonesia sekaligus bukti kemampuan bangsa dalam rancang bangun jembatan.

Itulah visi Presiden Soekarno untuk mewujudkan gagasan membangun Jembatan Selat Sunda (JSS). Adapun menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera merupakan bagian dari gagasan Guru Besar Teknik IPB Sedijatmo.

Penemu konstruksi cakar ayam itu pada tahun 1960 melontarkan ide pembangunan infrastruktur penghubung dari Jawa ke Sumatera, Madura, dan Bali. Ia menyebutnya sebagai Tri Nusa Bima Sakti (TNBS).

Tiga bangunan raksasa itu memang dapat menjadi ikon Indonesia. Apabila JSS sepanjang 30 kilometer terwujud, akan menjadi yang terpanjang di dunia. Namun, untuk membangun TNBS memerlukan tahapan dan proses panjang, terutama dalam menyiapkan SDM dalam jumlah dan kualitas memadai.

Soekarno, lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1926, menegaskan, tak akan membangun JSS kecuali bangsa Indonesia mampu melaksanakan. ”Kalau sekarang dibangun, yang bekerja orang asing,” ketika itu.

Karena itu, Soekarno memberi beasiswa kepada para pemuda untuk melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara maju.

Kebijakan itu diteruskan Soeharto. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) serta Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) BJ Habibie ditugaskan melaksanakan studi kelayakan TNBS dan mencetak ahli teknik sipil melalui program beasiswa.

11903767HProyek JSS merupakan target tinggi bagi anak bangsa yang tanpa pengalaman membangun jembatan bentang panjang di atas 300 meter, apalagi di atas laut.

Barelang
Para ahli konstruksi jembatan lulusan program beasiswa itu, terutama dari ITB dan BPPT, dikerahkan Habibie selaku Kepala Otorita Batam membangun jembatan dari Pulau Batam hing ga ke Pulau Galang Baru. Pembangunan Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) berlangsung empat tahun, selesai Desember 1997, terdiri dari enam segmen jembatan yang menghubungkan tujuh pulau: Batam-Tonton-Nipah-Setoko-Rempang-Galang-Galang Baru. Panjangnya bervariasi, dari 180 meter hingga 644 meter.

Perencana struktur jembatan adalah tim dari Jurusan Teknik Sipil ITB, antara lain Dr Dicky R Munaf. Adapun Tim Supervisi Teknis terdiri dari perekayasa ahli BPPT, antara lain Dr Wendy Aritenang, Dr Pariatmono Sukardo, dan Dr Teguh Raharjo.

Mereka membuat studi kelayakan, desain jembatan, hingga supervisi pembangunan jembatan. Pembangunan oleh kontraktor nasional, PT Hutama Karya.

Tipe jembatan yang digunakan meliputi tipe gantung (pada sistem kabel), tipe busur, balance cantilever concrete box girder, dan segmental concrete box girder. Dua tipe terakhir memakai metode penyatuan beton pratekan eksternal. Cara ini tergolong baru dalam pembangunan konstruksi beton di Indonesia.

Pada jembatan tipe gantung dan busur, ketinggiannya 30 meter dari permukaan laut. Kapal feri dan kapal layar bertiang tinggi dapat melintas di bawahnya.

Suramadu
Keberhasilan para arsitek, ahli konstruksi jembatan, dan kontraktor nasional itu membuka jalan bagi pembangunan jembatan bentang lebih panjang.

Jembatan Suramadu, menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Bangkalan, melibatkan Teguh Raharjo, doktor struktur jembatan lulusan Universitas Yamanashi, Jepang, bersama tim dari BPPT dalam studi kelayakan teknis hingga tahun 1995. Proyek Suramadu sempat terhenti karena krisis ekonomi tahun 1997.

Pembangunan kembali Suramadu pada 2003 tidak lagi melibatkan tim BPPT, tetapi tim teknis yang direkrut semua ahli orang Indonesia, di antaranya Dr Fauzri Fahimuddin yang ditunjuk sebagai ketua tim inti.

Doktor konstruksi jembatan dari Universitas Tokyo itu pernah terlibat pembangunan jembatan gantung Akashi-Kaikyo yang terpanjang di dunia pada 1998. Jembatan yang menghubungkan Pulau Honshu dan Awaji, Jepang, itu panjang bentangnya 3,9 km.

Suramadu bertipe jembatan gantung, panjang 434 meter, dan memadukan jalan penghubung dan jalan layang di kedua sisinya (Surabaya dan Bangkalan), panjang total 5,4 km. Jembatan yang mulai digunakan tahun 2009 itu terpanjang di Indonesia saat ini.
Jalan tol Bali

Jalan tol Bali membentang di atas laut setinggi 10 meter, menghubungkan Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, sepanjang 12,7 km. Jalan ditopang 4.000 pilar penyangga berdiamater 60 cm. Pembangunan berjalan setahun, diresmikan September 2013.

Pembangunan itu melibatkan, antara lain, Ketua Tim Pemodelan Numerik Proyek Bali Tol Dr Ari Setiadi Moerwanto, lulusan Universitas Delf, Belanda. Pembangunan jalan tol ini dikerjakan konsorsium nasional PT Jasamarga Bali Tol dan tiang pancang oleh PT Wijaya Karya.

Kemandirian
Tenaga Indonesia terbukti mampu membangun jembatan antarpulau tanpa melibatkan pelaksana asing.

Untuk mengerjakan JSS, Dekan Fakultas Teknik Universitas Pancasila Fauzri berharap, pemerintah lebih menyiapkan banyak tenaga ahli dan pelaksana untuk meningkatkan keahlian dan pengalaman, seperti dilakukan Soekarno dan Soeharto.

Tahun 1990-an, BJ Habibie menugasi Prof Dr Wiratman Wangsadinata mempelajari jembatan laut ultrapanjang yang cocok untuk JSS. Salah satu acuan adalah jembatan Selat Messina, Italia, sepanjang 3,3 km.

Ia lalu merancang JSS bersama tim ITB. Jembatan itu akan mencapai panjang 3,1 km dan ketinggian maksimum 70 meter dari permukaan air dengan anggaran Rp 100 triliun-Rp 200 triliun, antara lain, untuk menyediakan 17.000 ton baja dan ditargetkan selesai 10 tahun.

JSS akan menjadi bagian Asian Highway Network–Trans Asia, meliputi pembangunan jalan raya dan kereta api.

Pembangunan itu harus dipastikan memiliki struktur tahan gempa sebab Selat Sunda merupakan kawasan dengan potensi gempa sangat besar.

Untuk mengantisipasi serbuan tenaga ahli asing dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN 31 Desember 2015, pemerintah harus tetap memegang prinsip kemandirian dan keberpihakan pada pendayagunaan SDM Indonesia, kata anggota Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia, Wiratman.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada November 2013 mengatakan, ”Pembangunan Jembatan Selat Sunda harus menggunakan otak Indonesia, menggunakan insinyur Indonesia, desain dari Indonesia, dan menjadi ikon Indonesia.”

Pernyataan itu secara tak langsung ditujukan pada konsorsium pelaksana proyek JSS yang berencana menggandeng Tiongkok dalam pembangunan.

Rencana konsorsium telah diprotes Prof Wiratman Wangsadinata, yang sejak tahun 1986 mengawal JSS bersama tim peneliti BPPT dan ITB dalam desain awal dan studi kelayakan. Ia ingin proyek itu dilaksanakan bangsa Indonesia sendiri.

Oleh: YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 27 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: