Home / Berita / Puncak Kemarau Tiba, Suhu Ekstrem Terjadi di Sejumlah Daerah

Puncak Kemarau Tiba, Suhu Ekstrem Terjadi di Sejumlah Daerah

Sepekan terakhir, suhu ekstrem melanda sejumlah kota di Jawa. Panas terik di kala siang dan dingin menggigit di malam hari. Suhu ekstrem itu di rasakan cukup merata, baik di dataran rendah maupun di wilayah pegunungan.

Di Jakarta dan sekitarnya, Jumat (6/7/2018), suhu udara berkisar antara 20 derajat celsius hingga 33 derajat celsius. Suhu terdingin di rasakan di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, sedang suhu terpanas juga dirasakan di kedua wilayah itu plus Kepulauan Seribu. Namun, Sabtu dan Minggu suhu terendah mulai meningkat.

Sementara itu di Bandung, Jawa Barat, prakiraan Stasiun Geofisika Bandung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu pada Sabtu (7/7/2018) berkisar antara 16,4 derajat celsius hingga 28,6 derajat celsius. Suhu akhir pekan itu lebih hangat dibanding Jumat kemarin yang dilaporkan warga mencapai 15 derajat celsius, meski dari perkiraan BMKG sekitar 17 derajat celsius.

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA–Kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia ditunjukkan dengan warna cokelat pada gambar. Kondisi ini terjadi pada Jumat (6/7/2018) akibat aliran massa dingin dari Australia menuju Asia yang melewati Indonesia.

Stasiun Meteorologi Juanda BMKG di Sidoarjo, Jawa Timur menyebut suhu di Surabaya, Jumat (6/7/2018), berkisar 23-33 derajat celsius. Perbedaan suhu malam yang lebih rendah dibanding rata-rata malam hari sekitar 25-26 derajat celsius itu cukup menggigit dirasakan warga.

Kepala Bagian Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko di Jakarta menyebut suhu dingin yang terjadi di sejumlah daerah itu disebabkan datangnya puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Jawa. “Puncak musim kemarau di Indonesia biasa terjadi antara Juli hingga Agustus,” katanya.

Suhu dingin yang terjadi di sejumlah daerah itu disebabkan datangnya puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Jawa.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Hary Tirto Djatmiko

Indikatornya datangnya puncak musim kemarau itu adalah aktifnya angin monsun dari Australia yang sedang mengalami musim dingin. Tiupan angin dingin itu membuat masyarakat di wilayah Indonesia yang memiliki tipe iklim monsun atau berada di selatan garis khatulistiwa, mulai dari selatan Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara merasakan perubahan suhu yang menjadi lebih dingin.

Selain ditandai suhu panas saat siang dan dingin ketika malam, puncak musim kemarau juga ditandai dengan tiupan angin yang lebih kencang. “Masyarakat tak perlu khawatir, yang penting mempersiapkan diri menghadapi udara dingin ini,” tambahnya.

Selain ditandai suhu panas saat siang dan dingin ketika malam, puncak musim kemarau juga ditandai dengan tiupan angin yang lebih kencang.

Hal senada diungkapkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Suhu udara di Bumi dipengaruhi oleh distribusi panas di Bumi.

Saat ini, gerak semu Matahari membuat Matahari sedang berada di belahan Bumi utara sehingga belahan Bumi selatan sedang mengalami musim dingin. Suhu yang lebih dingin di belahan Bumi selatan membuat tekanan udara di sana lebih tinggi dibanding belahan Bumi utara. Akibatnya, angin bertiup dari selatan ke utara.

“Angin itu pula yang mendorong awan menjauh ke utara sehingga wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa mengalami musim kemarau,” katanya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo menambahkan tiupan angin itu juga membuat kandungan uap air di atmosfer di atas wilayah Jawa cukup sedikit. Padahal, uap air itu cukup efektif menyimpan panas.

Rendahnya kandungan uap air di atmosfer itu membuat energi radiasi yang dilepaskan Bumi ke udara tidak tersimpan di atmosfer Bumi, tetapi diteruskan ke luar angkasa. Kondisi itu membuat suhu udara pada malam hari selama musim kemarau menjadi lebih dingin.

Aphelion
Thomas menambahkan suhu dingin yang dirasakan itu tidak memiliki hubungan dengan posisi Bumi yang saat ini sedang berada di titik terjauhnya dari Matahari atau aphelion. Lintasan Bumi mengelilingi Matahari yang berbentuk elips membuat posisi Bumi terhadap Matahari akan mencapai titik terdekat (perihelion) dan titik terjauh (aphelion) secara bergantian setiap tahun.

Suhu dingin yang dirasakan itu tidak memiliki hubungan dengan posisi Bumi yang saat ini sedang berada di titik terjauhnya dari Matahari atau aphelion.

TIMEANDDATE.COM–Posisi Bumi terhadap Matahari yang mencapai titik aphelion dan perihelion secara bergantian setiap tahun.

Tahun ini, sesuai data timeanddate.com, titik aphelion itu dicapai Bumi pada Jumat (6/7/2018) pukul 23.46. Saat itu jarak Bumi ke Matahari mencapai 152.095.566 kilometer (km). Sementara titik perihelion terjadi pada 3 Januari 2018 lalu ketika Bumi berada pada jarak 147.097.233 km dari Matahari.

Karena suhu di Bumi lebih banyak ditentukan oleh distribusi panas di Bumi, maka jarak Bumi terhadap Matahari relatif tidak memengaruhi suhu di Bumi. Sebagai perbandingan, jika suhu dingin di Jawa saat ini di sebabkan Bumi sedang di aphelion seperti kabar bohong yang beredar di media sosial, maka seharusnya suhu dingin itu juga dirasakan di seluruh muka Bumi. Bagian Bumi yang berada pada jarak terjauh dengan Matahari bukan hanya Jawa, tapi seluruh bagian Bumi.

Karena suhu di Bumi lebih banyak ditentukan oleh distribusi panas di Bumi, maka jarak Bumi terhadap Matahari relatif tidak memengaruhi suhu di Bumi.

“Perubahan jarak Bumi ke Matahari tidak signifikan memengaruhi suhu permukaan Bumi,” tambahnya.

Normal
Suhu dingin sekitar 15 derajat celsius tidak hanya terjadi di Bandung, namun juga sejumlah wilayah lain di Indonesia. Suhu ekstrem rendah itu umumnya terjadi pada daerah pegunungan atau dataran tinggi.

Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, masih berselimut kabut, Sabtu (1/8/2015) pagi. Dieng berada pada ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut itu.

Bahkan di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, saat ini sudah muncul embun beku yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai embun upas atau embun beracun karena menyebabkan kematian tanaman pertanian. Embun beku ini dalam istilah meteorologi disebut sebagai hoarfrost atau frost, yaitu saat uap air mengalami deposisi atau berubah langsung dari bentuk gas menjadi beku tanpa melalui fase cair.

Di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, saat ini sudah muncul embun beku yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai embun upas.

BMKG mencatat antara 1-5 Juli 2018, suhu kurang dari 15 derajat celsius terjadi di Ruteng di Nusa Tenggara Timur, Wamena, Jayawijaya (Papua), dan Tretes, Pasuruan (Jawa Timur). Bahkan suhu di Ruteng mencapai 12 derajat celsius pada Rabu (4/7/2018). Suhu dingin di sejumlah daerah di Indonesia ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Namun, suhu rendah di sejumlah kota itu selama pekan ini bukanlah yang terendah selama 30 tahun terakhir. Suhu Bandung pernah mencapai 12,4 derajat celsius pada Juli 1986. Karena itu, penurunan suhu ekstrem di sejumlah wilayah saat ini masih normal.–M ZAID WAHYUDI/DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 7 Juli 2018
——————–
Siklon Tropis Maria Bergerak Menjauhi Indonesia

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika hingga Jumat (6/7/2018) pukul 07.00, siklon tropis Maria teridentifikasi berada di Samudra Pasifik sebelah Timur Laut Filipina sekitar 2.020 kilometer sebelah utara timur laut laut Biak, Papua. Siklon ini bergerak ke Barat Laut dengan kecepatan 7 knots atau 13 kilometer per jam menjauhi wilayah Indonesia.

Diperkirakan, kekuatan dari siklon ini akan semakin cepat sampai Sabtu (7/7/2018) ini, yaitu mencapai 100 knots atau 185 kilometer per jam. Siklon tropis Maria berdampak pada cuaca di Indonesia, seperti hujan ringan-sedang di Maluku Utara dan Papua Barat serta ketinggian gelombang laut mencapai 2,5 meter di Laut Maluku, di perairan Utara dan Timur Kepulauan Talaud, dan perairan Utara Halmahera.

“Siklon tropis atau bibit badai Maria ini tidak berdampak langsung pada suhu dingin yang terjadi di sejumlah wilayah di Selatan Sumatera, Jawa, Bali, dan NTT. Namun, siklon tropis ini menyebabkan aliran massa dingin yang melintas menjadi semakin kuat,” ujar Kepala BMKG Hary Tirto Djatmiko di Jakarta.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 7 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: