Home / Berita / Cuaca Panas Selama Bulan Ramadhan

Cuaca Panas Selama Bulan Ramadhan

Perkiraan Suhu di Arab Saudi hingga 65 Derajat Celsius Diragukan
Ramadhan tahun ini datang saat sebagian besar wilayah Indonesia masuk musim kemarau serta datangnya musim panas di Arab Saudi. Cuaca panas akan jadi tantangan bagi umat Islam untuk berpuasa atau melaksanakan umrah. Namun, suhu maksimum di kedua negara diperkirakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meski sudah masuk musim kemarau, hujan masih berpeluang di sejumlah daerah, seperti di selatan Jabodetabek pada siang atau sore hari. “Saat Ramadhan nanti, peluang hujan berkurang,” kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab, di Jakarta, Kamis (11/6).

Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, rata-rata suhu terendah dan tertinggi di Jakarta pada Juni selama 30 tahun terakhir 24,8 derajat celsius dan 31,4 derajat celsius. Pada Juli, suhu rata-rata terendah 25,1 derajat celsius dan tertinggi 32,3 derajat celsius.

Menurut Fachri, karena suhu cukup panas dan kelembaban cukup tinggi, sekitar 80 persen, tubuh mudah merasa gerah. Saat berpuasa, tubuh akan kekurangan cairan sehingga suhu udara terasa jadi lebih panas dari biasanya. Udara akan terasa kian panas jika angin yang bertiup berkecepatan rendah.

Meski udara cukup panas saat kemarau, menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, suhu di Indonesia juga sangat dipengaruhi dinamika atmosfer pemicu efek pendinginan udara. Pendinginan itu akibat tiupan angin dingin dari belahan Bumi utara atau selatan.

Saat kemarau, seperti saat ini, bertiup angin dari Australia yang lebih dingin sehingga suhu udara menjadi lebih sejuk. Sebaliknya, ketika musim hujan, bertiup angin dari Bumi utara yang turut mendinginkan suhu Indonesia.

Suhu di Arab Saudi
Sepekan terakhir, beredar informasi di Indonesia suhu di Arab Saudi selama Ramadhan bisa mencapai 65 derajat celsius. Informasi itu dari perkiraan ahli klimatologi Abdul Rahman Mohammed Al-Ghamdi seperti dikutip Saudi Gazette, 1 Juni 2015.

Suhu ekstrem itu, kata Abdul Rahman, dipicu posisi Matahari yang mendekati titik balik utara di 23,5 derajat lintang utara dan menandai awal musim panas di Bumi utara. Itu diperparah aliran udara panas dan lembab dari India serta peningkatan emisi karbon dioksida hasil pembakaran kendaraan dan industri.

Namun, Fachri meragukan suhu setinggi itu bakal terjadi di Arab Saudi. Menurut dia, suhu 65 derajat celsius sulit tercapai. BMKG memperkirakan suhu tertinggi di Arab Saudi pada Juni-Juli 48-50 derajat celsius.

“Warga yang akan melaksanakan umrah tak perlu khawatir,” katanya. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena suhu 48-50 derajat celsius itu sangat tinggi bagi orang Indonesia yang biasa hidup pada suhu maksimal 30-34 derajat celsius.

Perkiraan suhu hingga 65 derajat celsius selama Ramadhan di Arab Saudi juga bertentangan dengan data suhu tertinggi yang pernah tercatat di Bumi. Data WMO, suhu tertinggi di Bumi, seperti dikutip dari livescience.com, mencapai 56,7 derajat celsius yang terjadi Furnace Creek Ranch, Amerika Serikat, 10 Juli 1913. Data itu mengoreksi catatan suhu tertinggi sebelumnya yang 58 derajat celsius di El Azizia, Libya, 13 September 1922, akibat kesalahan perhitungan.

Perkiraan suhu ekstrem itu juga bertentangan dengan Laporan Klimatologi Permukaan Tahunan, Pusat Meteorologi, dan Lingkungan Nasional Kerajaan Arab Saudi yang menyebutkan, selama 1985-2010, suhu tertinggi yang tercatat pada Juni mencapai 49,6 derajat celsius pada 21 Juni 2010. Adapun suhu tertinggi Juli terjadi pada 10 Juli 1989 yang mencapai 49,8 derajat celsius.

Kesangsian atas perkiraan suhu di Arab Saudi yang mencapai 65 derajat celsius juga diungkapkan Thomas. Menurut dia, suhu di suatu wilayah sangat dipengaruhi posisi Matahari ketika tegak di atas suatu wilayah serta daya serap dan daya simpan energi Matahari oleh daratan dan atmosfer di wilayah tersebut.

Meski saat ini Matahari berada tegak di wilayah Arab Saudi, daya serap daratan terhadap panas Matahari biasanya akumulatif. Akibatnya, meski saat ini sedang panas maksimum, suhu panas umumnya menerus hingga Juli-Agustus saat Matahari menjauhi titik balik utara dan bergerak ke belahan Bumi selatan.

Daya simpan panas di darat juga sangat dipengaruhi kondisi atmosfer. Saat normal, panas Matahari akan disimpan daratan pada siang hari dan dilepaskan malam hari sehingga suhu daratan tidak turun drastis pada malam hari. Namun, tingginya kandungan karbon dioksida dan uap air di atmosfer membuat panas yang dilepaskan daratan tertahan di atmosfer. Pendinginan Bumi pun tidak langsung terjadi. (MZW)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2015, di halaman 13 dengan judul “Cuaca Panas Selama Bulan Ramadhan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: