Tahun Ini Terindikasi Lebih Dingin

- Editor

Selasa, 10 Juli 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suhu minimum di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, beberapa hari terindikasi lebih dingin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Suhu mininum yang memicu embun es terjadi di dataran tinggi lainnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di Dataran Tinggi Dieng pada 5 Juli adalah 8 derajat celsius, 6 Juli 7 derajat celsius, 7 Juli 9 derajat celsius, dan 8 Juli 10 derajat celsius. Suhu terendah ini biasa terjadi pada malam dan dini hari. Temperatur ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada waktu sama.

”Ada indikasi suhu minimum di Dieng, yang biasa dicapai malam-pagi hari, menurun awal bulan sejak Juni dengan hari tak seragam,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, di Jakarta, Senin (9/7/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada indikasi suhu minimum di Dieng, yang biasa dicapai malam-pagi hari, menurun awal bulan sejak Juni dengan hari tak seragam.

Suhu dingin yang memicu embun es juga terjadi di sekitar Danau Ranu Kumbolo, di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur. Suhu minimum terendah terjadi saat radiasi balik gelombang panjang dari permukaan Bumi dikembalikan ke atmosfer secara maksimum. Itu terjadi saat langit cerah tak berawan. ” Pada tanggal-tanggal itu, hampir merata di Jawa, suasana cerah dan tak ada hujan. Itu mendukung pelepasan panas permukaan,” ujarnya.

Pada tanggal-tanggal itu, hampir merata di Jawa, suasana cerah dan tak ada hujan. Itu mendukung pelepasan panas permukaan.

Udara dingin ini diperbesar dengan mengalirnya angin monsun Australia yang bersifat kering dan dingin. ”Bisa jadi ada efek aphelion, yakni posisi Matahari terjauh dari Bumi,” katanya.

Pada kondisi aphelion, ada pengurangan intensitas sinar Matahari 7 persen dibandingkan saat Bumi di titik terdekat Matahari (peeihelion). ”Aphelion kali ini bukan jarak terjauh Bumi-Matahari pernah dialami, tetapi lebih pendek 2.129 kilometer dari reratanya tiap tahun,” ujarnya.

Musim kemarau
Cuaca dingin kali ini lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau. Fenomena gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation) yang pekan lalu memicu hujan saat kemarau di Jawa dan Sumatera, kini berpindah pusat udara basahnya di Indonesia bagian tengah dan timur, terutama utara dan dekat garis ekuator. ”Saat ini musim kemarau di Jawa mencapai puncaknya,” katanya.

Saat puncak kemarau, sejumlah tempat di ketinggian berpeluang mengalami kondisi udara permukaan mendekati titik beku. Molekul udara di pegunungan lebih renggang dari dataran rendah sehingga cepat mendingin saat cuaca cerah.
Pada malam hari, uap air di udara mengalami kondensasi lalu mengembun. Air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput membeku akibat suhu udara amat dingin saat minus atau nol derajat celsius.

Musim kemarau di Jawa tahun ini diprediksikan mencapai puncaknya Juli ini, membawa udara dingin dan kering angin monsun Australia. Kemarau diprediksi sampai awal Oktober.

Peluang Hujan
Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengatakan, aliran massa udara kering dari Belahan Bumi Selatan (BBS) telah melintasi wilayah Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu-Lampung, Sulawesi Selatan, Laut Arafuru dan Papua bagian selatan. Itu menyebabkan berkurangnya potensi hujan di wilayah yang di lewatinya tapi meningkatkan potensi hujan di depan intrusinya.

“ Massa udara basah lapisan rendah terkonsentrasi di sebagian besar Sumatera, Kalimantan bagian utara dan timur, Sulawesi bagian tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Hal ini menyebabkan proses konveksi dalam skala lokal juga turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah sebagian wilayah,” kata dia.

Agie menambahkan, sirkulasi siklonik yang terjadi di perairan sebelah barat Kepulauan Nias dan belokan angin terdapat di Sumatera bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian timur, Sulawesi bagian tengah, Maluku, dan Papua juga akan meningkatkan potensi pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah sekitarnya.

Berdasarkan kondisi ini, hujan dengan intensitas sedang-lebat dalam periode tiga hari ke depan masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.

Selain itu, perlu diwaspadai potensi angin kencang untuk tiga hari ke depan di wilayah Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Maluku, dan Papua.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 10 Juli 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB