Home / Berita / Tahun 2019 Terpanas Kedua Dalam Sejarah

Tahun 2019 Terpanas Kedua Dalam Sejarah

Tahun 2019 menjadi yang terpanas kedua secara global dengan suhu bumi lima tahun terakhir lebih hangat 1,1 – 1,2 derajat celsius dibandingkan zaman pra-industri. Hal itu meningkatkan kejadian bencana terkait iklim.

Tahun 2019 menjadi yang terpanas kedua secara global dengan suhu Bumi dalam lima tahun terakhir lebih hangat 1,1 – 1,2 derajat celsius dibandingkan zaman pra-industri. Sejalan dengan data global, suhu di Indonesia juga mencapai rekor terpanas kedua setelah tahun 2016.

Data yang dirilis Copernicus Climate Change Service (C3S), Rabu (8/1/2020), menunjukkan, suhu rata-rata di seluruh dunia hanya 0,04 derajat celsius lebih rendah dibandingkan tahun 2016 yang menjadi rekor terpanas. Tahun itu, suhu Bumi lebih panas 1,2 derajat celcius dibanding tahun 1850 (pra-industri). Khusus untuk di benua Eropa, tahun 2019 menjadi yang terpanas sepanjang sejarah. “Ini tanda-tanda yang mengkhawatirkan,” kata Carlo Buontempo, Kepala C3S.

Sejalan dengan data global, analisis Badan Meteorologi, Klimatoogi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, suhu rata-rata di Indonesia tahun lalu terpanas kedua setelah 2016. “Tahun lalu suhu tertinggi tercatat di Riau dengan anomali 1,13 derajat celsius disusul Banten 1 derajat celsius dibandingkan suhu periode iklim 1981-2010,” kata peneliti yang juga Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatoogi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, Kamis (9/1/2019).

–Tren kenaikan suhu global menurut sejumlah lembaga meterologi dunia. Sumber: phys.org

Tingginya suhu global dan nasional pada tahun 2019 lebih disebabkan tingginya Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena itu ditandai dengan dinginnya suhu permukaan Samudera Hindia di sekitar perairan Indonesia dibandingan di bagian timur Afrika. Itu menyebabkan rendahnya penguapan dan awan, sehingga radiasi matahari tidak terhalangi.

Fenomena IOD positif pada tahun 2019, menurut Siswanto, merupakan yang tertinggi sejak 150 tahun terakhir. Sementara tingginya suhu pada tahun 2016 dinilai karena disebabkan fenomena El Nino kuata, yang merupakan terkuat dalam satu abad terakhir.

Khusus untuk Jakarta, data suhu permukaan telah ada sejak 1866. Kajian Siswanto yang dipublikasikan di International Journal of Climatology pada 2015 menunjukkan, kenaikan suhu permukaan maksimum di Jakarta dari 1866- 2012 mencapai 2,1 derajat celsius. Adapun kenaikan suhu rata-rata dalam periode yang sama 1,6 derajat celsius dan suhu minimum bertambah 0,86 derajat celsius.

Perhitungan terbaru dengan periode 1866-2019 menunjukkan, kenaikan suhu maksimum di Jakarta 2,1 derajat celsius, suhu rata-rata 1,7 derajat celsius, dan suhu minimum 1,5 derajat celsius. “Suhu maksimal relatif tetap, tapi suhu minimal naik signifikan. Ini mengindikasikan perubahan lokal perkotaan lebih kuat atau disebut urban heat island,” katanya.

–Tren kenaikan suhu Jakarta. Sumber: BMKG

Emisi karbon
Analisis yang dilakukan Copernicus Climate Change Service juga menunjukkan, selama periode 2010-2019 merupakan dekade terpanas dengan tren suhu terus naik. Suhu bumi selama lima tahun terakhir jika dirata-rata sudah 1,1 – 1,2 derajat celsius lebih hangat dari zaman pra-industri.

Sementara data Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mencatat, penambahan suhu laut sudah mencapai 0,5 derajat celcius dibandingkan pra-industri.

Carlo menambahkan, tren kenaikan suhu ini terjadi seiring laju konsentrasi gas rumah kaca. Konsentrasi karbon dioksida atau CO2 saat ini merupakan yang tertinggi selama 800.000 tahun. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan, emisi gas rumah kaca buatan manusia harus turun 7,6 persen tiap tahun hingga 2030 untuk membatasi kenaikan suhu menjadi 1,5 derajat celsius.

Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan, kenaikan suhu global memercepat frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Contohnya, riset Jiangdong Liu dari National University of Singapore di jurnal Natural Hazard pada 2014 menyebut, periode ulang hujan ekstrem yang memicu banjir Jakarta pada Februari 2007 yakni 300-an tahun. Namun, hujan ekstrem, bahkan dengan intensitas lebih tinggi, terjadi jauh lebih cepat dari prediksi.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Panorama kota Jakarta usai hujan deras mengguyur Ibu Kota, Senin (11/2/2019). Proyeksi dasarian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan intensitas hujan berpotensi kembali meningkat, setelah sempat berkurang. Tahun 2015, 2016, 2017, dan 2018 merupakan empat tahun terpanas yang terekam sejak era modern.

Data juga menunjukkan, tahun lalu terjadi pemanasan hebat di Alaska dan bagian-bagian lain di Kutub Utara, serta sebagian besar Eropa Timur dan Selatan, Afrika Selatan, dan Australia. Di Eropa semua musim lebih hangat dari rata-rata, dengan beberapa negara mencatat suhu tertinggi musim panas dan musim dingin. Desember 2019 lebih hangat 3,2 derajat celsius dibandingkan periode 1981-2010.

Menurut Carlo, kebakaran hebat yang melanda Australia dan banjir besar di Indonesia di awal tahun 2020 ini merupakan konsekuensi meningkatnya cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Bencana seperti ini diperkirakan akan menjadi lebih sering dan lebih intens terjadi seiring kenaikan suhu.

PBB memperkirakan sekitar 20 juta orang mengungsi pada 2019 karena bencana terkait iklim. “Lima tahun terakhir telah menjadi rekor terhangat dan dekade terakhir telah menjadi rekor terpanas,” kata Direktur Copernicus, Jean-Noel Thepaut.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 10 Januari 2020

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: