Home / Berita / Proyek Bersama di Kelas Maya

Proyek Bersama di Kelas Maya

” Proyek kita adalah membuat brosur tentang penyakit yang disebabkan virus. Orang-orang akan bosan jika hanya membaca artikel panjang. Brosur dengan banyak gambar akan lebih efektif. Karena itu, siswa harus melakukan penelitian dan mencari informasi penyakit apa saja yang disebabkan virus.”

Amaliah Nurfajrianti, guru Biologi di Sekolah Indonesia Bangkok, Thailand, dengan fasih menyampaikan programnya menggunakan bahasa Inggris di depan komputer dan kamera video pada saat web conference (webcon), akhir Agustus lalu. Puluhan guru Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika dari 182 sekolah SMA/SMK/MA mengikuti presentasi Amaliah dari 11 lokasi berbeda di tujuh negara anggota ASEAN, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, dan Kamboja.

Selama empat jam, secara bergantian setiap guru perwakilan dari setiap titik lokasi mempresentasikan rancangan proyeknya melalui webcon. Seusai presentasi, guru-guru lain menyampaikan kritik atau saran masukan secara interaktif melalui webcon atau fasilitas chatroom tepat di samping layar webcon.

Setiap guru menjelaskan rancangan proyek kolaboratif yang akan dilakukan selama 1-6 bulan ke depan. Seperti yang dilakukan Amaliah. Melalui proyeknya, Amaliah berharap murid mampu mencari informasi melalui riset mengenai penyakit-penyakit yang disebabkan virus. Proyek Amaliah ini bersifat kolaboratif karena akan menggandeng guru Bahasa Inggris, Seni, dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).

Pelatihan
Sebelum presentasi melalui webcon, para guru Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika di 11 titik lokasi itu mengikuti pelatihan atau workshop SEA Edunet 2.0: E-Collaborative Learning Using Project-Based Learning Model yang diselenggarakan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) selama lima hari, 21-25 Agustus 2013.

Selama workshop, peserta diperkenalkan pada metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning/PBL) dan pembelajaran kolaboratif dengan memanfaatkan TIK (e-collaborative learning). Kedua hal ini dianggap sebagai kompetensi utama yang harus dimiliki murid atau individu pada abad ke-21, terutama menjelang ASEAN Community 2015. Ketika ASEAN Community 2015 mulai berlaku, mobilitas warga ASEAN akan meningkat dan Indonesia, mau tidak mau, harus siap dengan kondisi itu.

Untuk mempersiapkan itu, Direktur SEAMOLEC Gatot Hari Priowirjanto mengatakan harus ada sistem kerja sama atau rancangan proyek kolaborasi antarnegara ASEAN, seperti menyusun dan mengembangkan materi atau isi buku digital interaktif bersama-sama antara guru Indonesia dan guru dari negara lain.

Kolaborasi penyusunan buku digital antarnegara ini baru pertama kali dilakukan setelah diujicobakan tahun lalu melalui kolaborasi guru antarsekolah di Indonesia. Program kolaboratif ini akan dievaluasi Desember mendatang dan hingga saat itu proses pembuatan proyek dipantau secara online.

”Guru Indonesia dan guru di Bangkok, misalnya, akan duduk bersama membuat proyek tertentu. Mereka akan berunding materi apa saja yang mereka pelajari di sekolah masing-masing dan apa saja yang bisa dimasukkan ke buku digital. Buku digital berisi teks, gambar, film, atau 3D itu bisa dipakai siapa pun,” kata Gatot.

Setelah didapat rancangan proyek bersama, para guru akan bergabung dalam satu platform kelas maya bernama Edmodo, sebuah aplikasi jejaring sosial open source khusus untuk kepentingan pendidikan dengan tampilan mirip jejaring sosial Facebook. Di dalam Edmodo, para guru dapat berdiskusi, memberikan tugas kepada murid, dan memberikan penilaian atau evaluasi.

Untuk sementara ini, proyek kolaboratif hingga pembuatan buku digital untuk jenjang SMA/SMK/MA hanya difokuskan pada tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika. Alasannya, dalam Kurikulum 2013, mata pelajaran yang sama di jenjang SMA dan SMK hanya Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika.

Kepala Sekolah Indonesia Bangkok Tjatur Prasetyawati mengatakan, hanya tiga mata pelajaran itu yang dapat diharmonisasikan antara sekolah Indonesia dan Thailand. Harapannya, kedua negara bisa saling mengisi. Proses pembelajaran di Thailand lebih banyak menekankan praktik. Sebaliknya, Indonesia lebih menekankan teori.

”Kita bisa saling isi, tetapi memang hanya di tiga mata pelajaran itu. Mata pelajaran lain agak sulit dipadukan,” ujarnya.

Partisipasi murid
Saat diperkenalkan konsep pembelajaran berbasis proyek, semua guru di ”kelas Bangkok”, baik guru di Sekolah Indonesia Bangkok maupun guru dari Sainampeung School-Bangkok, belum tahu. ”Saya baru dengar sekarang ini,” kata Kaew Chantamat, guru Bahasa Inggris di Sainampeung School.

Menurut Kaew, metode ini menarik karena proyeknya dibuat berdasarkan persoalan atau kondisi riil di masyarakat. Metode ini bisa menjadi salah satu solusi agar murid tidak bosan di kelas karena murid tidak akan duduk diam pasif mendengarkan guru saja.

Guru Kimia di Sainampeung School, Premwadee Jitaree, juga belum pernah mempraktikkan metode itu dengan muridnya. Setelah mendapatkan penjelasan dari tutor, Premwadee menilai guru sebaiknya mengadaptasi metode ini di kelas karena bisa meningkatkan motivasi belajar murid. ”Belajar Sains di laboratorium dianggap sulit dan membosankan. Anak-anak jadi tidak termotivasi,” ujarnya.

Manajer Penelitian dan Pengembangan SEAMOLEC sekaligus Koordinator E-Collaborative Learning Anti Rismayanti menjelaskan, program pembelajaran berbasis proyek (PBL) ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi belum banyak guru yang mempraktikkannya. Melalui workshop ini guru diharapkan memahami tahapan atau standar-standar PBL.

Metode PBL menantang murid mencari solusi atas tantangan atau persoalan riil yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

”Murid tidak sekadar menghafal dan pasif di kelas. Ini metode yang student-centered. Tidak ada model PBL yang baku atau ideal karena setiap PBL dibuat sesuai kebutuhan kelas masing-masing,” kata dosen Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta yang menjadi tutor workshop ”kelas Bangkok”, Finita Dewi.
Adaptasi

Dalam workshop itu setiap peserta ditargetkan mampu berkolaborasi lintas wilayah dan lintas negara, membuat satu proyek bersama tanpa perlu bertatap muka secara fisik. Cara komunikasi dan pembelajaran secara online seperti itu sudah diterapkan Koordinator ICT sekaligus guru produktif dan muatan lokal di SMK Negeri 1 Surabaya, Jawa Timur, Asslamet Anang Asmoro, dengan murid-muridnya.

”Modul, pemberian tugas, dan penilaian untuk murid semua melalui online dan interaktif, baik di jam pelajaran maupun di luar jam sekolah. Buku atau modul bisa diunduh saja. Murid pasti setiap hari buka internet atau Facebook. Itu yang saya manfaatkan untuk berkomunikasi dengan murid,” kata Asslamet yang menjadi tenaga ahli dari SEAMOLEC dan akan tinggal di Bangkok selama satu bulan untuk mendampingi peserta workshop.

Karena pembelajaran secara online belum biasa dilakukan, menurut Asslamet, sebagai tahap awal para guru akan berlatih atau belajar berkomunikasi melalui online terlebih dahulu dan belum menyentuh pembahasan materi ajar. Lama-kelamaan para guru diharapkan terbiasa berkomunikasi dan pada akhirnya bisa berbagi materi serta membuat buku digital.

Oleh: Luki Aulia

Sumber: Kompas, 9 September 2013

Share

One comment

  1. Chaidir Malik

    I really want to apply this program(edmodo) to my students that is why I need training before try to implement it.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: