Home / Berita / Program Studi Tak Relevan Selayaknya Ditutup

Program Studi Tak Relevan Selayaknya Ditutup

Berada di dalam era Revolusi Industri keempat, Universitas Indonesia fokus mengembangkan sistem yang adaptif terhadap kebutuhan perkembangan zaman. Di antaranya, keberanian menutup program studi jika dinilai sudah tidak relevan.

Direktur Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI) Sigit Pranowo Hadi Wardoyo, mengungkapkan hal itu di sela-sela resepsi wisuda program magister, doktor, spesialis, dan vokasi UI untuk semester genap tahun 2018, Sabtu (1/9/2018) di Depok, Jawa Barat. Program vokasi yang terdiri dari D1 hingga D4, selama ini bekerja sama dengan pakar dari dunia industri dan dunia usaha dalam merancang kurikulum dan modul perkuliahan hariannya.

“Vokasi pada intinya harus mengikuti kebutuhan industri karena memang diciptakan untuk mengisi perkembangan industri dan dunia usaha,” papar Sigit. Oleh sebab itu, jika program studi (prodi) pada suatu saat dinilai sudah tidak relevan dan tidak bisa dimutakhirkan, akan ditutup.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Suasana wisuda semester genap 2018 Universitas Indonesia.

Komitmen menutup prodi yang tidak relevan juga berguna mencegah terjadinya kejenuhan prodi secara nasional. Hal ini berdampak dengan banyaknya lulusan vokasi yang tidak terserap ke dalam bursa tenaga kerja, karena keterampilan mereka sudah tidak sesuai dengan keperluan industri.

Sigit mengungkapkan, dalam setiap prodi vokasi UI hanya ada enam dosen tetap yang bertugas terus mencari dan merumuskan sistem perkuliahan yang relevan dengan perkembangan zaman. Sekolah vokasi UI dalam hal ini menginisiasi konferensi vokasi internasional yang sudah masuk ke tahun ketiga.

“Vokasi bertujuan menciptakan tenaga kerja terampil yang bisa langsung dipekerjakan. Ini yang membedakan D4 daripada S1 yang lebih bersifat teori akademik,” ujarnya.

Berbeda
Komitmen UI sejauh ini juga tampak dari pembedaan prodi vokasi UI dengan prodi S1, guna mencegah tumpang tindih materi. Apabila di S1 ada prodi teknik sipil, teknik elektro, dan arsitektur, dalam vokasi ada D3 manajemen bangunan. Di dalamnya terkandung materi struktur bangunan, kelistrikan, dan pengairan. Contoh lain, jika ada S1 kedokteran, vokasi mengisi dengan prodi fisioterapi, okupasi terapi, dan administrasi rumah sakit.

Sigit menuturkan, kurikulum vokasi juga 80 persen praktik dan 20 persen teori. Dari 15 kali pertemuan untuk setiap mata kuliah per semester, satu hari hanya diisi satu materi. Dalam waktu delapan jam kuliah, mahasiswa hanya mendapat teori selama satu jam, dengan tujuh jam lainnya untuk praktik.

Hal ini mengakibatkan lulusan D3 tidak boleh melanjutkan ke S1 karena mereka tidak mendapatkan banyak teori. Lulusan D3 hendaknya melanjutkan ke D4 untuk memantapkan kompetensi sekaligus menambah pengetahuan teori. “Setelah itu, dari D4 bisa melanjutkan ke S2 dan S3 di prodi reguler karena sudah level teori lanjutan,” katanya.

Kuliah jarak jauh
Sementara itu, Wakil Rektor I UI Bambang Wibawarta menambahkan, program pascasarjana sudah dikembangkan dengan kuliah jarak jauh. Mahasiswa bisa mengunduh modul perkuliahan dan berinteraksi dengan dosen melalui televideo. Sistem perkuliahannya, 50 persen tatap muka dan 50 persen telekomunikasi. Adapun prodi yang boleh melaksanakannya adalah prodi dengan akreditasi A.

Pada semester genap 2018, UI meluluskan 8.177 wisudawan. Sebanyak 2.430 wisudawan mendapat predikat cum laude. Ada pula dua alumnus S3 Ilmu Farmasi, yaitu Islamudin Ahmad yang berhasil menerbitkan tujuh makalah di jurnal terindeks Scopus dan Neneng Siti Silfi Ambarwati yabg menerbitkan enam makalah di jurnal terindeks Scopus. –LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 3 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

NASA Luncurkan Wahana Pencari Tanda Kehidupan di Mars

Mars kini menjadi tujuan eksplorasi sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir. Setelah UEA dan China, ...

%d blogger menyukai ini: