Home / Profil Ilmuwan / Prof Hardjoso Prodjopangarso Visinya Mengembangkan Teknologi Tradisional

Prof Hardjoso Prodjopangarso Visinya Mengembangkan Teknologi Tradisional

MELAWAN arus pada masa kini, agaknya merupakan pekerjaan yang paling banyak dihindari meski tidak bisa disebut sebagai suatu kekeliruan. Namun melawan arus pun tidak berarti otomatis tersingkir dari lingkungan, sehingga tidak memperoleh tempat untuk berkiprah.

Setidaknya,itulah bagian dari perjalanan hidup Prof Ir Hardjoso Prodjopangarso yang punya andil tidak kecil dalam perjalanan setengah abad pendidikan teknik di Yogyakarta. Pada usianya menjelang tigaperempat abad saat peringatan 50 tahun pendidikan teknik di Yogyakarta berlangsung, ia masih bisa ambil bagian meski berstatus guru besar pensiunan.

Tak banyak yang tahu guru besar yang terkenal sebagai mahasiswa pejuang ini adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan nomor induk: 001. Karena saat STT Jogjakarta (eks STT Bandung) berubah menjadi FT-UGM, dialah mahasiswa pertama yang mendaftarkan diri. Ia pula sopir pertama mobil hasil rampasan mahasiswa STT Bandung di Yograkarta dari Inggris dan Jepang 50 tahun silam.

Kini, jauh dari keramaian, di Kuningan, Yogyakarta, yang tak jauh dari kampus UGM Bulaksumur, ia membangun kawasan Tektras (teknologi tradisional) pada Laboratorium Teknik Sipil Tradisional yang masih berfungsi sebagai Laboratorium Pengairan Pasang Surut. Pada kawasan inilah, selain menunjang mata kuliah Teknik Sipil Tradisional dan Teknik Lingkungan, Prof Hardjoso ikut menyiapkan mahasiswa sebelum melaksanakan KKN (kuliah kerja nyata).

Penyiapan di laboratorium ini cukup penting bagi mahasiswa agar mengenal desa sebelum melaksanakan KKN. Dengan menciptakan suasana desa di kawasan Tektras, ketakutan banyak mahasiswa sebelum masuk desa bisa diatasi. Selain itu, dengan melintas di kawasan teknologi tradisional, diharapkan mahasiswa langsung merasa dirinya orang Indonesia, bukan orang Yogya dan bertanggung jawab pada teknologi tradisional warisan nenek moyang.

MEMILIH teknologi tradisional sebagai bidang yang ditekuni inilah yang disebut sebagai melawan arus bagi guru besar kelahiran Surakarta, 29 Mei 1923 itu. Pemilihan ini bukan tanpa alasan, meski gaungnya tidak menggema atau menjadi kurang populer. Tapi diakuinya, karena banyak bergaul dengan rakyat menyebabkan perasaannya terhadap rakyat sangat dekat dan mempengaruhi semua karyanya sebagai
Insinyur. “Jadi sejak dulu saya bercita-cita menciptakan teknologi khusus untuk rakyat jelata, ” ungkapnya.

Oleh sebab itu, pada Munas Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) di Kalimantan Selatan tahun 1981, sebagai pembicara ia mengusulkan pentingnya teknologitradisional dan diterima, lalu masuk sebagai mata kuliah. Di samping itu ia juga berhasil memasukkan teknologi tradisional untuk pengairan pasang surut karena pengalaman meneliti di Kalimantan yang waktu itu arealnya ditetapkan satu juta hektar.

Prof Hardjoso sadar jika upayanya memperkenalkan teknologi tradisional untuk menciptakan kebutuhan rakyat dan meneliti agar teknologi sesuai dengan keperluan rakyat itu bertentangan dengan arus. Tapi dengan memilih teknologi tradisional diyakini bahwa nenek moyang kita sudah lama mengenal teknologi. Misalnya pada masa Majapahit sudah dikenal pengaliran air secara canggih dan pembuatan segaran, kolam penahan banjir yang juga berfungsi serba guna. Begitu pula pemakaian pipa pratekan, teknologi jembatan engsel segi tiga yang dikenal sejak Majapahit. “Tapi mengapa teknologi itu tidak dikembangkan, padahal sudah canggih sejak dulu?,” tanyanya.
Dengan memilih teknologi tradisional, bagi Prof Hardjoso berarti memahami kebutuhan rakyat kecil di samping melestarikan warisan nenek moyang. Namun itu tidak berarti teknologi tradisional jadi mandek, melainkan diambil akarnya dan ditingkatkan pemanfaatannya. Misalnya di Sumatera Barat, teknologi kincir air yang dipadukan dengan kolam ikan Jawa Barat, membuat produksi ikan meningkat dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Bahkan teknologi yang sukar diubah karena terkait dengan kebudayaan dan kepercayaan bisa ditingkatkan untuk penyehatan lingkungan. Seperti rumah adat Honai di Irian, konstruksi rumah bisa ditingkatkan dengan memberi ventilasi dan pencahayaan yang cukup tanpa mengubah bentuk aslinya. Sehingga, fungsi sebagai lambang keperkasaan, perlindungan kepada anak dan istri tetap ada. ”Peningkatannya tentu saja tidak seperti yang dilakukan terhadap emperan rumah di Jawa yang fungsi sosialnya hilang, dijadikan kamar kos karena tuntutan ekonomi,” tegasnya.

MEMPERTAHANKAN dan mengembangkan teknologi tradisional berarti pula menyiapkan teknologi Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan minta pada setiap suku bangsa menyumbangkan teknologi tradisional miliknya. Yang jelas, dengan upaya ini kepentingan rakyat kecil ikut mendapat perhatian. ”Rakyat juga berhak menikmati kemajuan teknologi, sehingga penelitian tidak hanya diarahkan ke atas, tapi juga ke bawah, ” katanya.

Namun diakui bahwa untuk berbagai keperluan,tidak selalu tersedia teknologi tradisional. Kalau tidak ada, diperlukan teknologi tepat guna yang jika tidak pas perlu didahului uji coba. Bahkan untuk kondisi tertentu kadang-kadang lebih tepat menggunakan teknologi maju. Dalam hal ini, yang penting ialah pemakaian teknologi secara tepat.

Ia pun tidak memungkiri jika teknologi tradisional dinilai tidak trendy, tidak menyentak sehingga tidak banyak yang berpaling ke sana. Padahal supaya pemanfaatan teknologi adil dan merata, teknologi tradisional perlu dikembangkan. ”Tapi siapa yang mau, jika secara ekonomi bidang ini tergolong kering,” ujarnya.

Bagi Prof Hardjoso, tujuan memilih bidang ini adalah mencari kebahagiaan. Jika mampu menciptakan sesuatu untuk kepentingan rakyat banyak kebahagiaan yang diperoleh sudah cukup baginya walau itu belum tentu cocok untuk generasi muda.

Karena itulah, guru besar yang dari -perkawinannya dengan Sri Saptaria dikaruniai tujuh anak di antaranya yang sulung musikus kontemporer Sapto Rahardjo, dan sembilan cucu itu-, memilih pensiun muda pada tahun 1980 atau 10 tahun lebih awal. Ketika ditanya alasannya, ia hanya menunjuk dua kata yang terpampang di dinding ruang kerjanya, “’My Way”. ”Untuk itu saya pensiun,” katanya seraya menambahkan bahwa ternyata UGM masih memberi kesempatan membangun kawasan Tektras.

MESKI yakin melawan arus, guru besar yang meraih gelar insinyur tahun 1953 lalu bekerja di Departemen Kesehatan dan mengajar di ITB sejak 1956 , sebelum menjadi dosen penuh di FT-UGM sejak 1958 dan menjadi guru besar teknik penyehatan lingkungan tahun 1968, merasa masih punya makna bagi generasi muda. Setidaknya bisa jadi sparing mahasiswa yang ingin tahu mengenai teknologi tradisional. Setidaknya melalui kawasan Tektras mahasiswa bisa mempeoleh informasi, sehingga di samping belajar dari buku mereka juga membaca alam dan masyarakat. Sebab, teknologi bisa diciptakan dengan melihat serta membaca alam dan masyarakat. Ia memberi contoh penemuan teknologi cakar ayam dan sosrobahu yang diciptakan karena membaca alam dan masyarakat. “Sayang, kini upaya seperti itu mulai lemah,”ujarnya

Oleh sebab itu, Prof Hardjoso menilai, universitas jangan hanya menjadi pusat pengajaran tinggi yang terlalu spesialistis. Mahasiswa harus dididik hingga peduli kepada yang miskin, berwawasan kebangsaan dan lingkungan kreatif, gigih, dan bermoral.

Ia mengakui kehebatan ilmu pengetahuan saat ini sehingga teknologi bisa dimantapkan dengan ilmu pengetahuan modern. Namun diingatkan bahwa teknologi juga bisa dimantapkan dan dipadukan berdasar pertimbangan disiplin ilmu lainnya.

Lebih dari itu, seperti diungkapkan Sri Sultan Hamengku Buwono X, kebudayaan memiliki tujuh unsur dimana teknologi merupakan interaksi dari ketujuh unsur tersebut. Karena itu, upaya pengembangan dan peningkatan teknologi tidak hanya diperlukan unsur teknologi dan kimiawinya saja, tapi juga adat istiadatnya.

Dalam pengembangan lahan pasang surut di Kalimantan misalnya, pada zaman Belanda pernah diupayakan tapi gagal. Sementara upaya rakyat berhasil karena mempelajari fenomena alam dan fenomena sosial. Oleh sebab itu, bagi Prof Hardjoso mempelajari teknologi berarti wajib mempelajari alam dan masyarakat. (dth)

Sumber: KOMPAS, JUMAT, 15 MARET 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: