Home / Profil Ilmuwan / Prof Dr Soekartawi: Tiada Hari Tanpa Menulis

Prof Dr Soekartawi: Tiada Hari Tanpa Menulis

Rendah hati, sederhana, dan pintar bergaul. Itu ciri menonjol yang tampak pada diri ahli ekonomi pertanian Dr Soekartawi yang Rabu (18/12) dikukuhkan menjadi guru besar ilmu pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Jawa Timur.

Sehubungan dengan pengukuhannya itulah, menjelang akhir tahun ini ia membawa keluarganya untuk ’mudik’ ke rumahnya di Malang. Maklumlah sejak sembilan bulan terakhir, lelaki yang mengawali kariernya sebagai dosen sejak menggondol gelar insinyur teknik pertanian itu, tinggal di Los Banos, Manila. Ia menjabat Wakil Direktur SEAMEO SEARCA (South East Asian Minister Education Organization Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture), sebuah lembaga pemberi beasiswa dan pelatihan bidang pertanian. Lembaga itu didirikan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di Asia Tenggara.

Kehadiran Soekartawi (49) sebagai manajer di organisasi internasional beranggota sembilan negara Asia Tenggara itu patut disyukuri. Dia orang Indonesia pertama yang bisa menduduki jabatan pimpinan sejak SEAMEO SEARCA berdiri 31 tahun lalu.

Jabatan itu pun datang bak jatuh dari langit, sebab selama ini sekalipun rajin menulis, ia lebih bersikap low profile. Ketika tiba-tiba ia diminta mengisi data diri dan mengikuti tes membuat tulisan tentang pertanian yang ternyata merupakan ujian untuk menduduki jabatan Wakil Direktur SEACO, ia menurut saja.

Dari 16 calon pada tes pertama ia lalu melaju ke babak kedua dan akhirnya pada babak ketiga, Soekartawi mengalahkan tiga pesaing lain dari Malaysia dan Thailand.

”Aduh, saya seneng sekali bisa bertemu teman-teman. Bisa mengobrol ngalor-ngidul dengan bahasa Indonesia. Habis di sana, saya capek berbahasa Inggris terus setiap hari …,” katanya kepada wartawan yang diundangnya untuk ngobrol, dua hari sebelum pengukuhannya sebagai mahaguru.

Bertugas memimpin 150 staf, 120 orang di antaranya orang Filipina merupakan hal baru bagi Soekartawi. Di awal kedatangannya hingga sekitar tiga bulan pertama ia masih sempat merasakan pandangan bernada merendahkan kemampuan orang Indonesia. Sadar akan kondisi kurang menguntungkan itu, ayah tiga anak tersebut berupaya keras menunjukkan diri bahwa ilmuwan Indonesia tidak hanya jago kandang seperti yang terekspos selama ini. Lambat laun ia mulai bisa menunjukkan kemampuan di depan bangsa lain yang menjadi stafnya. Berbagai proposal permintaan dana guna membiayai beasiswa pendidikan magister, doktor, berbagai kursus dan riset bidang pertanian ke lembaga internasional macam ADB dan Bank Dunia, dikabulkan. Ia tak merinci berapa jumlah dana yang berhasil dikumpulkannya dari berbagai lembaga donor, tetapi sebagai gambaran untuk tahun 1996 ini saja ia berhasil memberikan beasiswa bagi 16 orang. Setiap penerima beasiswa setidaknya menerima 9.000 dolar AS atau sekitar Rp 21,6 juta setiap tahun.

20160929_070014wPengorbanannya untuk meraih keberhasilan itu memang tidak ringan. Keluarga yang dibawa ke Manila dengan maksud agar tetap terus berdekatan, setiap bulan harus ditinggalkannya pergi ke berbagai negara lain untuk urusan dinas.

”Ternyata membuat proposal itu tidak sulit, padahal semula seperti terasa sulit. Setelah semuanya berjalan, pekerjaan malah terasa gampang,” ungkapnya.

Kunci keberhasilan menaklukkan pandangan remeh bangsa asing terhadap ilmuwan Indonesia, menurut Soekartawi, ditopang kemahiran membuat proposal yang tak lepas dari kebiasaannya menulis.

Dibanding ilmuwan lainnya, produktivitas anak bungsu dari tiga bersaudara asal Sidoarjo, Jatim, ini dalam menulis memang luar biasa. Sejak lulus dari Fakultas Pertanian Unibraw tahun 1974 sampai sekarang ia telah menulis 39 buku (termasuk edisi revisi), 81 artikel ilmiah dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan dalam majalah/jurnal ilmiah, ratusan karya tulis lain baik berupa makalah seminar atau pelatihan, laporan penelitian, sampai artikel di media massa.

Kebiasaan menulis memang bukan soal baru bagi lelaki yang meraih doktor dari University Of New England Australia itu. Di samping membaca, menulis adalah pekerj aan yang amat digandrunginya.

”Jika sehari saja saya tidak menulis rasanya seperti tersiksa. Biar hanya selembar halaman tapi harus nulis,” papar pemilik sekolah pertanian menengah di Kabupaten Malang tersebut. Tak mengherankan ke mana pun pergi, waktu istirahatnya digunakan untuk menulis.

”Kalau sedang ke luar negeri, teman-teman memilih jalan-jalan, belanja, saya lebih suka di kamar saja untuk nulis…,” tambahnya.

Kebiasaan sebelum sembahyang subuh menulis atau membaca, kini berbuah pada kebiasaan sama pada diri anak-anaknya. Barangkali karena terbiasa melihat ayahnya berkutat dengan buku dan mesin tulis, ketiga putra Soekartawi iadi ikut gemar membaca.

”Mengajar anak memang lebih efektif lewat cara memberi contoh, jadi mereka bisa melihat secara langsung,” ujar suami Dinawati Suryono Puteri ini.

BISA jadi karena lahir dan dibesarkan dari keluarga petani, Soekartawi sejak awal memilih bidang pertanian. Secara terus-menerus ia mengusulkan perlunya mengembangkan agroindustri. Hal itu panting, katanya, untuk mengurangi gejolak sosial ekonomi akibat ketaksiapan masyarakat beralih dari agraris ke industri. Thailand dinilainya sebagai negara yang sudah menjalankan agroindustri dan kini mulai menampakkan hasilnya.

Pada pengukuhannya sebagai profesor ke-23 di Unibraw, Soekartawi menyampaikan pidato berjudul Pembangunan Agroindustri yang Berkelanjutan. Katanya, makna agroindustri yang berkelanjutan adalah pembangunan agroindustri yang memperhatikan aspek manajemen dan konservasi sumber daya alam.

Empat preposisi yang diajukannya untuk mewujudkan usulannya itu meliputi aspek produksi (bahan baku tersedia secara cukup ketika dibutuhkan), konsumsi (perkembangan dinamika pasar yang begitu cepat), distribusi (memperhatikan pesaing), dan kualitas SDM. Usulan preposisi yang diajukannya itu berlaku valid bila diasumsikan pemerintah mendukungnya dengan kebijakan positif. Dukungan itu antara lain dengan menurunkan suku bunga bank yang terlalu tinggi untuk investasi di bidang agroindustri, dan memperpanjang masa waktu sewa lahan dari yang sekarang hanya 20 tahun.

SOEKARWATI memprediksi bila kebijakan agroindustri dilakukan dengan sistem kartel, umurnya tak akan lama. Sistem kartel cenderung mendapatkan untung besar dalam waktu relatif pendek namun setelah itu jatuh dan menyakitkan. Penyebabnya, agroindustri menuntut hasil pertanian berkualitas dan terus-menerus mesti ada. Persoalannya, pengusaha agroindustri umumnya tak memiliki lahan produksi cukup luas untuk memenuhi permintaan pasar.

Menurut Soekartawi hal itu adalah masalah mendasar dari pengembangan agroindustri di Indonesia.
”Pengembangan industri hilir yang begitu cepat yang didorong adanya asosiasi perusahaan agroindustri atau eksportir yang biasanya mendapat kemudahan pemerintah, ternyata jarang diikuti oleh pengembangan industri hulu,” katanya.

Soekarwati khawatir bila kondisi ini diikuti adanya asosiasi yang cenderung bersifat kartel, masalah agroindustri bisa jadi lebih serius lagi. Apalagi, tambahnya, produksi pertanian yang jadi bahan baku perusahaan agroindustri dihasilkan oleh jutaan petani kecil yang relatif sulit membentuk asosiasi produsen.

Ia mengusulkan agar ada kemitraan antara petani dengan pengusaha. Contoh kemitraan yang berhasil dalam bidang agroindustri adalah perkebunan pisang cavendiks (untuk ekspor) oleh sebuah perusahaan di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jatim. Semula, para petani hanya menjadi penggarap, kini lahan dan kebun pisang menjadi milik mereka, sementara hasilnya tetap dibeli perusahaan mitranya.

Adakah perusahaan lain yang herminat mengikuti jejak perusahaan swasta tersebut? Jawabnya berpulang kembali kepada kemudahan yang diberikan pemerintah. (Soelastri)

Sumber: Kompas, Sabtu, 21 Desember 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Anis Suryani Mengajak Anak Desa Berjarak dengan Gawai

Dalam dua tahun terakhir, setiap akhir pekan, Anis Suryani (26) menemani anak-anak di desanya belajar ...