Potensi Risiko PLTN Mini Sudah Dipetakan

- Editor

Sabtu, 15 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan memetakan potensi ancaman eksternal pada reaktor daya eksperimental atau pembangkit listrik tenaga nuklir mini jika dibangun di area Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Tangerang Selatan, Banten. Rancangan memperhitungkan bahaya dengan nilai ekstrem dan reaktor itu dijamin aman.

“Meski reaktor kecil, proses perizinan sama dengan jika ingin membangun PLTN besar karena harus menjamin keselamatan,” ujar Kepala Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir Batan Yarianto S Budi dari Serpong, Tangerang Selatan, saat dihubungi, Jumat (14/10). Kajian risiko menjadi bagian dari evaluasi untuk mendapat izin tapak pendirian reaktor daya eksperimental (RDE) yang masih dinilai Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Reaktor daya yang akan dibangun itu berkapasitas 10 megawatt thermal (MWth), atau sekitar 3,5 megawatt listrik (Mwe), berteknologi generasi IV atau reaktor temperatur tinggi berpendingin gas (HTGR). Semula reaktor ditargetkan beroperasi pada 2020, tetapi kemungkinan mundur karena perizinan tertunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Batan sudah mengevaluasi potensi ancaman dari luar yang bisa berdampak ke reaktor, antara lain gempa, letusan gunung api, banjir, meteorologi ekstrem, dan ledakan dari industri. Potensi sumber gempa yakni zona subduksi di Samudra Hindia dengan menghitung kekuatan magnitudo 9 serta sesar aktif di Selat Sunda dan Sesar Cimandiri.

Gunung api aktif berpotensi mengancam yakni Gunung Gede dan Salak, sedangkan sejumlah gunung api purba jarak sekitar 12 kilometer dengan letusan terakhir 7,5 juta tahun lalu. Selain itu, RDE aman dari banjir Sungai Cisadane dengan kala ulang hujan ekstrem 1.000 dan 10.000 tahun. Struktur dan kekuatan tanah mendukung berdasarkan uji lapisan tanah dari 26 titik bor.

Keselamatan pasif
Menurut Yarianto, RDE yang akan dibangun memakai sistem keselamatan pasif berupa sistem pendinginan berbasis rongga reaktor. Itu menjamin fasilitas aman dalam operasi normal ataupun skenario kecelakaan. Sistem pendinginan panas sisa memakai mekanisme alamiah, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.

Kegagalan sistem pembuangan panas sisa reaktor memicu kebocoran radiasi di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang, setelah gempa dan tsunami. Karena pompa terendam tsunami, sistem pembuangan panas sisa tak berfungsi sehingga teras reaktor meleleh dan radiasi bocor. Pada reaktor generasi IV, reaktor aman dari insiden semacam di PLTN Fukushima Daiichi.

Namun, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa mengatakan, PLTN Fukushima Daiichi dirancang tahan terhadap tsunami, tetapi gagal. Jadi, secanggih apa pun teknologi keamanan dan keselamatan, risiko kecelakaan amat besar. (JOG)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2016, di halaman 14 dengan judul “Potensi Risiko PLTN Mini Sudah Dipetakan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru