Home / Berita / Ponsel Modular; Kali Ketiga oleh Motorola

Ponsel Modular; Kali Ketiga oleh Motorola

Moto Z adalah telepon seluler pintar kedua yang hadir di Indonesia dengan mengusung konsep modular setelah G5 SE dari LG pada bulan Mei 2016. Peluncurannya juga tidak lepas dari harapan untuk tidak mengikuti cerita sama dengan pendahulunya yang kandas atau berhenti di tengah jalan. Pada kali ketiga, Motorola berharap hasilnya akan berbeda.

Sesuai namanya, ponsel pintar modular berarti salah satu bagian bisa dilepas untuk diganti modul lain yang menawarkan fungsi atau kemampuan tambahan. Konsep ini yang digunakan LG saat meluncurkan G5 SE dengan memperkenalkan seperangkat modul seperti genggaman kamera untuk memberi kontrol lebih untuk mengambil gambar serta modul audio Hi-Fi untuk mendongkrak kualitas musik yang didengarkan pengguna. Caranya dengan melepas modul yang ada di bagian bawah layar untuk kemudian diganti dengan modul lainnya.

Ponsel modular tidak akan lepas dari inisiatif Google untuk menghadirkan produk yang bisa dilepas dan diganti bagiannya bila sudah tidak relevan atau harus diperbarui tanpa harus mengganti satu unit secara keseluruhan. Dengan ponsel yang sama, bentuk ataupun fungsinya bisa beraneka rupa, tergantung kebutuhan penggunanya berkat modul yang dipasang.

Daur hidup produk elektronik itulah yang menjadi tujuan jangka panjang Proyek Ara yang sebelumnya menggandeng inisiatif serupa dari Phonebloks. Hanya bertumpu pada sebuah kerangka yang menjadi perantara modul- modul untuk semua bagian, mulai dari kamera, layar, pengeras suara, baterai, hingga sensor lainnya. Model pertama ponsel ini dijadwalkan hadir pada bulan Mei 2016.

Magnet
Implementasi di Moto Z sedikit berbeda dengan menempelkan modul di bagian punggung. Komunikasi antara ponsel dan modul berlangsung pada konektor pin yang terletak di bagian bawah ponsel, dan dua bagian ini tetap melekat berkat magnet. Tidak ada engsel atau pengunci, memasang modul atau Moto Mods hanya dengan menempelkannya ke punggung ponsel dan tidak butuh waktu lama sebelum fungsi tambahannya bekerja. Pun sama saat melepaskannya, tinggal ditarik dan siap diganti modul yang lain. Seluruh proses berlangsung tanpa harus memutus daya ke ponsel pintar atau berganti fungsi dari modul dengan seketika.

Lenovo selaku perusahaan yang kini punya merek Motorola meluncurkan ponsel modular ini di Indonesia pada Rabu (25/1) dengan dua varian. Moto Z punya spesifikasi ponsel flagship atau andalan dengan sistem dalam cip (SoC) Snapdragon 820 dari Qualcomm, RAM 4 gigabyte, layar dengan resolusi 2560 x 1440 piksel, dan penyimpanan internal 64 gigabyte, ditambah varian lainnya, yakni Moto Z dengan SoC Snapdragon 625, RAM 3 gigabyte, resolusi layar 1920 x 1080 piksel, dan penyimpanan internal 32 gigabyte.

Baik Moto Z maupun Moto Z Play mendukung fitur modular tanpa harus khawatir tertukar karena ukuran layarnya sama-sama 5,5 inci meski Moto Z sedikit lebih tipis, yakni 5,2 milimeter dibanding Moto Z Play dengan 7 milimeter. Moto Z Play memiliki baterai dengan angka arus per jam lebih besar, yakni 3.510 mAh dibandingkan 2.600 mAh milik Moto Z.

Moto Z dilepas ke pasar dengan harga Rp 8,5 juta, sementara Moto Z Play Rp 5,9 juta. Hal itu bisa jadi opsi pengguna untuk memilih ponsel pintar flagship dengan harga premium atau varian yang lebih terjangkau, semua tanpa meninggalkan kemampuan untuk menggunakan modul tambahan.

Moto Mods yang hadir langsung disediakan dalam berbagai varian, yakni pengeras suara yang bekerja sama dengan merek JBL, lensa dari Hasselblad, serta proyektor. Lenovo menawarkan promosi berupa bundel penjualan ponsel berikut modul karena harga modul secara satuan bisa mencapai Rp 3 juta lebih.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Lenovo meluncurkan ponsel modular kelas flagship Moto Z dan Moto Z Play untuk pasar Indonesia pada 25 Januari lalu. Salah satu keunggulan dari ponsel ini adalah modul-modul yang memungkinkan fitur tambahan bagi ponsel.

Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia Adrie R Suhadi menyebut komitmen pihaknya untuk meluncurkan varian demi varian modul bagi Moto Z dan Moto Z Play agar produk tersebut kian relevan dengan kebutuhan konsumen. Selain diproduksi sendiri, mereka juga membuka peluang kerja sama pihak ketiga, seperti dilakukan dengan modul kamera dari Hasselblad. ”Dalam setahun ke depan, akan ada 10-15 modul baru yang akan diluncurkan agar konsumen punya alasan lain untuk memiliki Moto Z,” ujar Adrie dalam peluncuran ponsel ini pada 25 Januari 2017.

Tebal
Harian Kompas berkesempatan mengoperasikan Moto Z yang menepati klaimnya sebagai ponsel pintar kelas flagship berkat spesifikasi yang disematkan di dalamnya. Navigasi menu di tampilan antarmuka berlangsung lancar ditambah versi 7.0 Nougat memastikan perangkat ini mendapatkan fasilitas terkini dari sistem operasi Android, salah satunya akses untuk menikmati Daydream atau fitur realitas virtual yang lebih baik daripada teknologi sebelumnya.

Begitu pula dengan kamera, Moto Z mempertahankan gaya desain yang mencolok dengan moncong lensa yang menonjol dan berbentuk lingkaran dengan tulisan ”Moto” sebagai pernyataan identitas yang tegas, ditambah logo berupa huruf M di bagian tengah dari punggung ponsel.

Terdapat satu tombol fisik di muka ponsel, tetapi fungsinya saat ini hanya satu, yakni sensor sidik jari untuk membuka pengunci layar. Selain itu, belum ada fungsi lain, seperti navigasi, karena dilakukan lewat tombol virtual di bagian bawah layar. Hal ini sedikit disayangkan karena seharusnya tombol fisik itu bisa dioperasikan sebagai navigasi sehingga pengguna bisa menikmati isi layar tanpa gangguan.

Hasil bidikan kamera Moto Z cukup memuaskan dengan detail, warna, dan kontras apik yang bisa ditangkap dengan gegas. Satu hal yang menarik adalah pintasan membuka aplikasi kamera bisa dilakukan dengan cepat tanpa membuka pengunci layar, yakni membuat gerakan memutar lengan sebanyak dua kali dan ponsel langsung siaga mengambil gambar.

Untuk bidikan jarak jauh menggunakan pemrosesan digital, hasilnya memang tidak bisa berbohong. Umumnya, kendala ini membuat ponsel pintar lain terhenti, tetapi tidak untuk Moto Z karena modul kamera dari Hasselblad bisa membantu pembesaran gambar hingga 10 kali lipat tanpa mengorbankan kualitas.

Modul kamera tidak saja menambahkan kemampuan untuk pembesaran gambar lewat lensa, tetapi juga kontrol layaknya kamera. Dengan bagian yang menonjol di salah satu sisi, terdapat tombol fisik pelepas rana yang bisa dioperasikan secara penuh, seperti pencet separuh untuk fokus dan pencet sepenuhnya untuk mengambil gambar. Ada pula tuas untuk mengatur pembesaran, bukan lagi gestur jari mencubit seperti aplikasi kamera pada umumnya.

Begitu pula untuk mereka yang terbiasa menggunakan gawai mereka sebagai pemutar musik, baik yang disimpan secara internal maupun dinikmati lewat pengaliran (streaming), modul pengeras suara bisa dimanfaatkan karena mereka tidak perlu lagi perangkat tambahan untuk menikmati musik secara bersama-sama. Kerja sama dengan merek JBL menghasilkan modul yang bisa menghasilkan suara yang jernih dan kaya detail tanpa melupakan musik yang lantang didengar.

Meski dengan resolusi tinggi, layar 5,5 inci milik Moto Z ataupun Moto Z Play terasa kurang untuk menampilkan gambar video, terutama untuk ditonton berdua atau berkelompok. Di sanalah modul proyektor berperan. Moto Mods Insta Share mampu memancarkan gambar berukuran 70 inci ke layar atau dinding dengan daya tahan sekitar 3 jam. Tidak lama, tetapi cukup untuk menikmati satu judul film.

Hanya saja, konsekuensi saat memakai modul adalah dimensi ponsel berubah jadi tebal sehingga sulit dimasukkan ke saku. Modul yang dipasang ke ponsel memang hanya cocok saat digunakan saja, dan bukan untuk pemakaian dalam jangka yang lama, terlebih hanya melekat oleh magnet.

Tersisa
Tinggal satu kabar buruk bagi pengguna yang ingin mencari alternatif ponsel modular karena hanya tersisa Moto Z yang masih berjuang di pasar ini. LG tidak melanjutkan seri flagship mereka dengan konsep modular. Penjualan G5 SE di Indonesia pun tidak terlalu mencolok meski LG memutuskan untuk menghadirkan varian yang lebih terjangkau, G5 SE yang terpaut harga Rp 1 juta lebih murah memiliki SoC Snapdragon 652, sementara G5 seharusnya menggunakan Snapdragon 820.

Kabar buruk juga diumumkan Google dengan menghentikan sementara Proyek Ara pada bulan September karena pertimbangan teknis. Rencana meluncurkan produk perdana di Puerto Riko sebagai uji coba pun kandas. Hingga sekarang, belum ada kepastian proyek ini bakal dilanjutkan kembali.

Bagaimana Moto Z bisa membuat perubahan? Itulah tantangan yang harus dijawab Lenovo segera. Yang pasti mereka harus bekerja keras dengan mengedukasi konsumen Indonesia soal konsep ponsel modular.

Hingga peluncuran, sudah ada 2 juta unit ponsel yang terjual, dan India menyumbang angka cukup signifikan. Dalam sambutannya, Aymar de Lencquesaing, Chairman and President Motorola Mobility, menyebut Indonesia sebagai pasar penting untuk menggarap produk seri Moto. ”Seri Moto memiliki sejarah di Indonesia, banyak yang menantikan produk ini kembali setelah proses akuisisi oleh Lenovo rampung,” ujar Lencquesaing.

Sejak hadir kembali sebagai merek dari Lenovo, baru ada dua produk Moto yang masuk Indonesia, yakni Moto E3 Power yang mengincar segmen pemula dan Moto Z untuk kelas menengah ke atas hingga premium. Segmen di tengah yang dibiarkan kosong itu nanti diisi oleh seri Vibe yang menjadi andalan Lenovo selama ini.

Lenovo juga tak ingin mengulangi kesalahan LG dengan menghadirkan varian terjangkau saja. Moto Z dan Moto Z Play jadi opsi bagi mereka yang ingin menggunakan ponsel modular sesuai dengan daya beli. Moto Z bisa dipilih mereka yang tak ingin berkompromi dan Moto Z Play untuk mereka yang ingin merasakan pengalaman modular dengan harga terjangkau.

Strategi mengedukasi pasar juga tidak lepas dari pemilihan modul yang dijual di Indonesia. Anvid Erdian, Mobile Business Group Lenovo Indonesia, menjelaskan bahwa pemasaran modul dikemas berdasarkan gaya hidup anak muda. Itulah kenapa Lenovo bekerja sama dengan penyedia layanan digital, seperti pengaliran musik serta video.

”Modul pengeras suara, misalnya, dipasarkan untuk mereka yang suka mendengarkan musik sendirian atau bersama-sama, sementara modul proyektor bisa dipergunakan para penikmat film,” kata Anvid.

Akan menarik melihat perkembangan selanjutnya dari penjualan Moto Z di Indonesia. Bisakah ponsel modular diterima pasar setelah kali ketiga? (DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Februari 2017, di halaman 26 dengan judul “Kali Ketiga oleh Motorola”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: