Home / Berita / Ponsel-ponsel ”Flagship” Lapis Kedua

Ponsel-ponsel ”Flagship” Lapis Kedua

Ponsel P9 adalah seri flagship atau andalan dari koleksi ponsel pintar yang diluncurkan Huawei di London, Inggris, pada April lalu. Teknologi yang dipergunakan sudah mengundang perbincangan, seperti lensa ganda yang jarang ditemui, serta kolaborasi dengan produsen kamera berlogo lingkaran merah, Leica, untuk algoritma pengolahan gambarnya.

Untuk kawasan Pasifik selatan yang meliputi Indonesia, seri tersebut diluncurkan di Bali pada Mei. Namun, hingga hari ini P9 belum juga ditemui di gerai toko resmi di Tanah Air.

Pun sama dengan G5, seri andalan dari LG yang diperkenalkan untuk pertama kalinya di ajang Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, Februari 2016. Selain menggunakan sistem dalam chip (SoC/system on chip) terkini saat itu, Snapdragon 820 dari Qualcomm, G5 juga mengusung konsep modular yang artinya sejumlah bagian dari ponsel bisa dilepas untuk diganti dengan bagian lain sehingga bisa menambah kemampuan atau fitur baru.

Publik Indonesia tidak berkesempatan untuk membeli ponsel yang diperkirakan seharga Rp 9 juta ini. Pasalnya, G5 dipastikan tidak akan dijual di Indonesia.

Meski demikian, masih ada pelipur lara dari hilangnya peluang untuk menjajal teknologi baru ini, yakni seri lapis kedua dari ponsel flagship itu. Ponsel-ponsel itu memiliki ”kembaran”, tetapi harganya lebih terjangkau.

LG Indonesia, misalnya, pada Mei meluncurkan G5 SE, sebuah ponsel pintar yang juga modular dengan dimensi yang sama dengan G5, tetapi lebih murah 100 dollar AS. Perbedaan dengan G5 sendiri adalah spesifikasi lebih rendah seperti SoC Snapdragon 652 yang memiliki performa lebih rendah dari Snapdragon 820. Begitu pula kapasitas RAM yang 3 gigabita, dibandingkan 4 gigabita yang dimiliki G5.

”Tujuannya adalah menghadirkan ponsel pintar dengan teknologi yang sama, tapi dengan harga yang terjangkau,” ujar Head of Mobile Communications Division LG Indonesia Hee Gyun Jang pada peluncuran ponsel itu pada Mei lalu.

Keputusan itu harus dibayar mahal karena respons yang diterima umumnya kritik pedas. Laman Facebook mereka begitu mengumumkan penjualan langsung diserbu dengan komentar bernada marah.

Tidak diungkap hasil penjualan G5 SE di Indonesia, tetapi yang pasti LG enggan untuk meluncurkan G5. Jang, yang kembali ditemui pada peluncuran ponsel untuk kelas menengah, X Power, minggu lalu, mengatakan, pihaknya memilih untuk melihat ke depan dan menyongsong model baru, yakni V20 yang akan diluncurkan akhir tahun.

”Tidak akan ada varian SE jika G6 diluncurkan tahun depan,” kata Jang.

Keterbatasan peralatan
Kepastian mengenai absennya P9 juga diketahui dua hari menjelang perhelatan acara peluncuran untuk kawasan Pasifik selatan di Bali. Saat itu, Consumer Business Group Director Indonesia Huawei Johnson Ma beralasan, keterbatasan peralatan dan bahan yang dimiliki fasilitas perakitan sebagai penyebabnya. Huawei menggandeng PT Panggung Electric Citrabuana yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur, untuk perakitan yang saat ini mengerjakan ponsel kelas pemula seperti Y6 dan GR5.

”Yang pasti kami akan menghadirkan P9 Lite,” ujar Ma.

P9 Lite adalah versi ekonomis dari P9. Dengan harga yang lebih terjangkau, ada beberapa pengorbanan yang harus dibuat, seperti penggunaan lensa tunggal ketimbang lensa ganda. Artinya, kolaborasi dengan Leica absen di sana. Spesifikasi juga jelas menurun seperti SoC atau kapasitas RAM.

Semula, P9 Lite dijanjikan hadir dua bulan sesudah acara digelar di Bali, tetapi ternyata mundur. Janji tersebut baru dipenuhi akhir September.

Ma yang juga hadir dalam acara peluncuran P9 Lite mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan waktu untuk memungkinkan manufaktur ponsel pintar yang dijual dengan harga Rp 3,8 juta ini di Tanah Air. Ketentuan mengenai tingkat kandungan dalam negeri juga menjadi salah satu alasan agar komposisi komponen lokal bisa memenuhi angka 20 persen di tahun ini dan 30 persen pada tahun berikutnya.

”Kami optimistis P9 Lite tetap dinanti oleh konsumen Indonesia meski butuh waktu agar bisa datang. Huawei memastikan komitmen untuk mengikuti regulasi dari pemerintah,” ujar Ma.

ce7bdaff1f2540e78950ffc35d3d52fdKOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–P9 Lite merupakan ponsel premium versi terjangkau dari Huawei yang mengincar konsumen yang ingin mendapatkan fitur dan spesifikasi yang nyaris mendekati varian premium, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau, Senin (10/10). Ada beberapa hal yang dikorbankan untuk itu, baik harga maupun spesifikasi.

Janji kembali dilontarkan bahwa Huawei akan meluncurkan P9 sebelum akhir tahun.

Kompensasi
Apakah yang harus dikorbankan saat seorang konsumen menggunakan produk lapis kedua seperti ini? Sebetulnya bergantung pada komitmen untuk membelanjakan uang mereka. Produk seri flagship bisa didapatkan dengan harga lebih murah, berikut pengalaman saat digunakan, fitur sekaligus dukungan perangkat lunak yang biasanya diprioritaskan.

Keputusan itu pun datang dengan kesadaran bahwa ada yang harus dibayar dari selisih harga dibandingkan varian unggulan yang sebenarnya.

Jang menceritakan perbedaan mencolok antara G5 SE dan G5 adalah tipe SoC dan kapasitas RAM. Sementara ukuran layar termasuk modul yang bisa dibeli dan dipasang untuk menambah fungsi ponsel pintar tidak berbeda. Selisih spesifikasi dari dua tipe ponsel pintar tersebut seharusnya tidak berpengaruh kentara di mata konsumen.

Fitur lainnya tidak membawa perubahan berarti. Pengguna bisa menikmati kamera ponsel yang kualitasnya berada di tingkat atas dari ponsel-ponsel premium di Indonesia. Yang paling utama, mereka bisa menggunakan modul-modul untuk menambah fitur ponsel mereka seperti modul kamera berikut tombol fisik sehingga ponsel bisa dioperasikan layaknya kamera saku, atau modul audio yang memungkinkan G5 menghasilkan musik dengan kualitas lebih baik. Modul-modul tersebut tersedia dan bisa dipergunakan antara G5 dan G5 SE karena keduanya memiliki ukuran yang sama.

Fitur fotografi
P9 Lite mungkin memiliki kasus yang berbeda karena satu hal yang absen adalah sesuatu yang membuat P9 dibicarakan, yakni lensa kedua yang menangkap gambar monokrom yang selama ini menjadi ciri khas dari kamera merek Leica. Namun, tetap saja Huawei memanfaatkan reputasi tersebut untuk memasarkan P9 Lite dengan fitur fotografi.

Itulah pengalaman yang dirasakan Kompas sewaktu mengoperasikan P9 Lite selama dua minggu terakhir. Huawei mempersiapkan ponsel ini agar para pengguna dimudahkan membuat foto-foto artistik yang umumnya hanya bisa dibuat menggunakan kamera SLR digital dengan mengutak-atik parameter, seperti kecepatan pelepas rana, ISO, ataupun diafragma.

Sekadar penegasan, pengaturan kamera ponsel pintar secara manual adalah fitur yang jamak ditemui dua tahun terakhir. Umumnya, pada ponsel yang menggadang-gadang fitur fotografi, kontrol manual dimulai dari terbatas pada ISO dan kecepatan rana hingga seluruh parameter yang ada, seperti exposure compensation, white balance, dan pengaturan fokus secara manual.

P9 Lite termasuk dalam golongan kedua yang memberikan akses leluasa atas parameter kamera kepada pengguna. Namun, mereka menekankan kemudahan bagi pengguna untuk menghasilkan foto-foto yang mungkin terasa sulit diambil oleh kebanyakan pengguna. Beberapa di antaranya melukis malam seperti garis-garis yang menyala dalam gelap, memotret aliran air menjadi halus, atau foto makanan.

Pengguna tak perlu menghafal apa saja yang harus diatur untuk menghasilkan gambar seperti keinginannya. Mereka tinggal memilih hasil seperti apa yang diinginkan dan meletakkan ponsel di tempat yang stabil dan minim pergerakan selama pengambilan gambar. Hasilnya pun segera rampung dalam waktu singkat.

Fitur ini cukup memudahkan pengguna yang barangkali tak mau repot mengutak-atik parameter kamera ponsel secara manual atau bereksperimen di antara hasil gambar yang kekurangan cahaya dan sebaliknya. Daya tarik ini yang membuat pengguna umum P9 Lite tidak akan terlalu khawatir untuk bereksperimen memakai kamera ponsel mereka untuk menghasilkan gambar yang artistik agar bisa dipamerkan ke lini masa media sosial.

Yang tidak didapatkan dari lensa kamera ganda yang absen di P9 Lite adalah kemampuan untuk mengambil gambar monokrom dengan detail dan kontras tanpa perlu konversi dari gambar berwarna. Bagi penggemar foto artistik, hal ini merupakan pukulan terberat yang harus diterima apabila menggunakan ponsel ini.

Di luar aspek fotografi, P9 Lite juga memiliki spesifikasi yang cukup andal sebagai ponsel primer atau gawai yang digunakan untuk pendamping segala aktivitas mulai bermedia sosial, terhubung lewat layanan percakapan, ataupun mengelola surat elektronik pribadi dan kerja. Tampilan antarmuka yang dikembangkan Huawei sebagai varian dari Android, yakni Emui, cukup nyaman digunakan dan menyediakan fitur yang membantu pengguna memastikan sumber daya dialokasikan dengan tepat agar kinerjanya terjaga.

Tidak ketinggalan sensor sidik jari di punggung ponsel yang mudah dijangkau dengan telunjuk. Tidak hanya performa, fitur pengamanan pun didapat. Itulah solusi yang ditawarkan ponsel andalan lapis kedua.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Oktober 2016, di halaman 27 dengan judul “Ponsel-ponsel ”Flagship” Lapis Kedua”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: