Plastik Terakumulasi dalam Otak Ikan

- Editor

Kamis, 5 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Butuh Riset Pencemaran Plastik Nano di Perairan Indonesia
Penelitian terbaru telah menemukan bahwa pencemaran plastik ke lautan sangat membahayakan organisme dan pada akhirnya bisa meracuni manusia. Plastik ukuran nano terbukti bisa terserap ke dalam otak ikan dan memicu perubahan perilaku.

Hasil riset Karin Mattsson dan timnya dari Universitas Lund, Swedia, ini dipublikasikan dalam jurnal terkemuka Nature edisi 13 September 2017. Untuk pertama kali, riset membuktikan pencemaran plastik di perairan telah masuk ke rantai organisme.

Partikel plastik nano yang memiliki ukuran lebih kecil dari 330 mikron (0,33 milimeter) awalnya terserap ke tanaman laut, seperti ganggang, kemudian dimakan plankton, dan pada akhirnya dimakan ikan. Ukuran partikel yang sangat kecil membuatnya bisa terserap ke dalam darah dan pada akhirnya terakumulasi ke jaringan otak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Disebutkan, ikan yang telah tercemar plastik nano menjadi sakit, ditandai dengan berkurangnya nafsu makan dan bergerak lebih lambat. Sementara plankton yang telah terpapar plastik nano bisa mati.

Reza Cordova, peneliti kimia laut dan ekotoksikologi Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Jakarta, Rabu (4/10), mengatakan, riset tentang cemaran plastik nano di perairan Indonesia belum dilakukan. “Kendalanya keterbatasan alat. Saat ini kami baru mengajukan, semoga tahun depan alat analisisnya tersedia,” ujarnya.

Sejauh ini, kajian dampak pencemaran plastik ukuran nano pada ikan belum dilakukan di Indonesia. Namun, untuk plastik ukuran mikro (5 mm-0,33 mm) sudah pernah dilakukan tim peneliti dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, dan University of California, Davis (2014 dan 2015). Dalam riset itu ditemukan, sepertiga sampel ikan yang diteliti di pasar ikan di Makassar tercemar plastik mikro. Plastik mikro itu ditemukan pada alat pencernaan.

Sementara pengajar Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani mengatakan, temuan tentang masuknya plastik nano hingga ke tubuh ikan ini menjadi peringatan tentang bahaya pencemaran limbah plastik.

“Secara teoritis, ukuran plastik nano amat kecil sehingga begitu masuk ke tubuh ikan akan ke dalam darah. Bahkan, di darah leukosit (sel darah putih), bisa tak mengenalinya karena saking kecilnya sehingga lolos dan terbawa hingga ke otak,” ucapnya.

Lebih berbahaya
Menurut Etty, plastik nano menjadi lebih berbahaya karena bisa membawa bahan beracun dan berbahaya (B3). “Di alam, plastik nano menyerap B3 untuk kemudian masuk ke dalam tubuh ikan,” ujarnya.

Kajian tentang dampak pencemaran plastik di Indonesia menjadi kian penting karena posisi Indonesia sebagai penyumbang besar pencemaran plastik secara global. Kajian Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, dalam jurnal Science (2015) menyebut Indonesia adalah negara kedua setelah China sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di laut. Dari 5,4 juta ton sampah plastik per tahun yang dihasilkan penduduk negeri ini, sebanyak 0,5-1,5 juta ton dibuang ke laut.

Namun, Reza mengatakan, dari penelitiannya di enam lokasi di Indonesia, pencemaran plastik mikro berada pada skala sama dengan lautan lepas. Riset tersebut dilakukan di Sabang, Batam, Jakarta, Cirebon, Denpasar, Wakatobi, dan Ternate.

“Dugaan kami, intensitas pencemaran plastik nano di Indonesia juga seperti plastik mikro,” ujarnya.

Menurut Reza, pencemaran plastik makro tidak sepenuhnya tertahan di kawasan laut dan pesisir Indonesia, tetapi sebagian terbawa keluar wilayah perairan Indonesia. Di sisi lain, plastik mikro terbawa dari perairan lain masuk ke wilayah Indonesia.

“Namun, ini tentunya perlu kajian yang lebih mendalam. Pada intinya, saya setuju kita harus mengurangi membuang sampah plastik sehingga tidak mencemari lautan,” kata Reza.(AIK)

Sumber: Kompas, 5 Oktober 2017

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB