Plastik Mikro Terakumulasi di Laut Jawa

- Editor

Senin, 20 Agustus 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Plastik mikro yang mencemari Laut Jawa cenderung terakumulasi karena arus lautnya bersifat bolak-balik saja. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena Laut Jawa menjadi daerah tangkapan ikan komersial.

?“Studi kami menginvestigasi pergerakan plastik mikro di perairan Indramayu, Jawa Barat selama tujuh bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa sampah laut, termasuk plastik mikro yang masuk ke perairan ini cenderung tidak berpindah ke mana-mana lagi,” kata Noir Primadona Purba, peneliti dari Departemen Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran, Bandung, Jumat (17/8/2018).

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pemulung memilah sampah diantara timbunan sampah di tanah lapang di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Senin (2/7/2018). Sampah yang tak terurai seperti plastik, rongsokan hingga bongkaran bangunan hingga bahan beracun seperti asbestos bercampur di tempat permbuangan sampah tersebut. Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

?Hasil kajian yang telah dipublikasikan di Polish Journal of Environmental Studies ini menunjukkan, kecepatan arus balik di Laut Jawa berkisar 0,04 – 0,32 meter per detik. Perpindahan plastik mikro yang teramati selama tujuh bulan hanya sekitar 0,9 – 5,4 kilometer dengan pola cenderung sirkular.

?Dengan karakter ini, sampah dan bahan pencemar yang masuk ke Laut Jawa akan terakumulasi dalam jangka waktu sangat lama. “Laut Jawa berpotensi paling tercema karena menjadi timbunan sampah dari mana-mana, ” kata Noir.

?Widodo Pranowo, peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang turut dalam riset itu mengatakan, plastik mikro yang ditemukan di Laut Jawa bersumber dari daratan di Jawa dan kemungkinan berasal dari Samudera Pasifik serta Laut China Selatan. “Kesimpulan ini kami dapatkan dengan pemodelan arus laut,” ujarnya.

?Tangkapan Ikan
?Menurut Noir, akumulasi pencemaran plastik mikro di Laut Jawa akan terserap ke ikan. “Kondisi ini mengkhawatirkan karena Laut Jawa merupakan sumber ikan tangkap komersial bagi banyak nelayan,” ungkapnya.

?Sejumlah kajian lain menunjukkan, plastik ukuran mikro dan nano bisa terserap dalam organisme laut dan akhirnya terakumulasi ke tubuh ikan. Riset bersama Universitas Hasanuddin dan University of California Davis (2014 dan 2015) menemukan cemaran plastik mikro pada sepertiga ikan dan kerang yang dijual di tempat pelelangan ikan terbesar di Makassar, Sulawesi Selatan.

Berbahaya
?Sementara riset oleh Karin Mattsson dan timnya dari Universitas Lund, Swedia (2017), membuktikan plastik nano bisa terserap dalam darah dan terakumulasi dalam otak ikan. Plastik juga bisa menyerap berbagai bahan beracun, sehingga sangat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi.

?Plastik mikro (microplastics) merupakan partikel yang memiliki diamater kurang dari 5 milimeter (mm) atau sebesar biji wijen hingga 330 mikron (0,33 mm). Adapun plastik nano (nanoplastics) ukuran lebih kecil dari 330 mikron.

?Widodo mengatakan, untuk mengatasi pencemaran plastik mikro di Laut Jawa harus dimulai dari sumber terdekat dulu. “Sampah plastik atau sampah lain yng mengandung plastik harus bisa dikelola jangan sampai masuk ke aliran sungai yang pada akhirnya akan berujung ke laut,” kata dia.

?Banyaknya aliran sungai yang melalui kota-kota besar dan bermuara ke Laut Jawa membuat perairan ini menjadi lebih rentan tercemar.

?Selain pencemaran dari daratan, menurut Widodo, harus ada sanksi tegas pada kapal-kapal yang membuang sampah plastik ke laut. “Selama ini belum ada pemantauan atau inspeksi pada kapal-kapal bear, termasuk kapal pesiar, yang melintas di perairan kita. Dikawatirkan, mereka membuang cacahan sampah plastik di laut yang bisa lebih cepat jadi partikel mikro dan nano,” ujarnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 18 Agustus 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru