Home / Artikel / Catatan Iptek; Ironi Plastik

Catatan Iptek; Ironi Plastik

Plastik telah menopang peradaban modern: dari pembungkus hingga bahan operasi plastik. Namun, plastik menyimpan malapetaka. Pencemaran plastik di lautan menjadi bencana global terbesar setelah perubahan iklim.

Sejarah penemuan plastik dimulai sejak Alexander Parkers memamerkan material baru, parkesima, dalam pameran di London, 1862. Material ini dari bahan organik turunan selulosa yang mudah dibentuk saat panas dan stabil ketika dingin.

Sejak saat itu, upaya menemukan bahan sintetis yang bersifat plastikos, bahasa Yunani yang berarti ”dapat dibentuk”, intensif dilakukan. Hingga tahun 1907, Leo Hendrik Baekeland, penemu Amerika kelahiran Belgia, menemukan plastik sintetik. Temuan itu menandai kelahiran era plastik modern. Untuk pertama kali, material plastis ini diciptakan dari minyak bumi. Harganya jauh lebih murah dan bisa diproduksi massal. Baekeland menggunakan fenol, asam turunan dari tar batubara dan pintu penemuan berbagai jenis plastik sintetis, seperti polistiren atau styrofoam tahun 1929, poliester (1930), polyvinylchloride (PVC) dan polythene (1933), nilon (1935), hingga bahan baku botol polyethylene terephthalate (PET) 1941.

Produksi plastik global mencapai 288 juta ton pada 2012, melonjak 620 persen sejak 1975. Tahun 2013, angkanya menjadi 299 ton (worldwatch.org). Penggunaan plastik terbesar adalah untuk kemasan sekali pakai. Maka, seiring dengan peningkatan produksinya, sampah plastik semakin tinggi.

Sebagian sampah plastik ini berakhir di lautan, baik berupa lembaran maupun yang telah terurai menjadi plastik ukuran mikro ataupun nano. Diterbitkan di jurnal Science, Februari 2015, studi oleh kelompok ilmuwan dari UC Santa Barbara’s National Center for Ecological Analysis and Synthesis (NCEAS), menghitung jumlah plastik yang dibuang ke lautan. Hasilnya mencengangkan, tiap tahun 8 juta ton plastik berakhir di lautan, atau rata-rata di setiap 1 meter sepanjang pantai di dunia ditemukan 1,5 kantong keresek.

Menurut pemodelan Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia (Science, 2015), Indonesia menjadi negara kedua terbesar penyumbang sampah ke laut setelah China. Total limbah yang dibuang Indonesia ke laut 3,2 juta ton. Secara kasatmata, kita bisa melihat buruknya pengelolaan sampah di negeri ini. Sungai-sungai dipenuhi sampah plastik, yang bermuara di lautan.

Penelitian terbaru dari Noir Primadona Purba dari Departemen Kelautan Universitas Padjadjaran Bandung dan Agung Yunanto dari Balai Riset dan Observasi Laut Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengonfirmasi tingginya cemaran plastik di lautan kita.

Plastik telah menjerat ikan, penyu, paus, hingga burung-burung laut. Banyak di antaranya mati karena perutnya dipenuhi sampah plastik. Namun, bahaya lebih besar yang tak kasatmata adalah cemaran plastik berukuran mikro dan nano. Plastik mikro (microplastics) ialah partikel plastik berdiameter kurang dari 5 mm atau sebesar biji wijen hingga 330 mikron (0,33 mm). Plastik nano (nanoplastics) berukuran lebih kecil dari 330 mikron.

Partikel itu bisa dari plastik didesain ukuran mikroskopis, biasanya untuk pembersih wajah dan kosmetik. Selain itu, plastik mikro ataupun nano, terutama dari sampah plastik ukuran besar, terurai proses alam. Material modern, seperti tekstil sintetis, tali, pipa, dan cat, juga mengandung plastik mikro.

Plastik luruh setelah puluhan sampai ratusan tahun. Dalam partikel plastik terkandung bahan kimia berbahaya, seperti PCBs, DDE, nonylphenols/NP dan logam berat. Begitu masuk tubuh organisme, terakumulasi di jaringan tubuh dan meracuninya.

Di lautan, plastik mikro dan nano yang termakan ikan atau menempel di karang terakumulasi di rantai makanan. Makin besar ikan predator, kian tinggi potensi cemaran plastik mikronya. Jika itu dimakan, tubuh kita tercemar partikel plastik.

Riset bersama Universitas Hasanuddin dan University of California Davis (2014 dan 2015) menemukan cemaran plastik mikro di saluran pencernaan ikan dan kerang yang dijual di tempat pelelangan ikan terbesar di Makassar, Sulawesi Selatan. Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature, September 2015, itu mencengangkan: sepertiga sampel ikan atau 28 persennya mengandung plastik mikro. Bahkan, untuk teri, dari 10 ekor, 4 ekor di antaranya tercemar plastik mikro.

Temuan ini telah mengonfirmasi tentang bahaya membuang sampah plastik sembarangan. Tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga meracuni tubuh kita sendiri.–AHMAD ARIF
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Ironi Plastik”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menunggu Jendela bagi Fisika Baru

PARA fisikawan yang berasal dari 11 institusi dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan Jerman, yang ...

%d blogger menyukai ini: