Home / Berita / Peringatan dari Gempa Nepal

Peringatan dari Gempa Nepal

Gempa berkekuatan Mw7,8 yang mengguncang Nepal, Sabtu (25/4), sebenarnya telah diprediksi. Namun, peringatan para ahli tak mampu mencegah jatuhnya ribuan korban karena minimnya antisipasi. Ini menjadi peringatan bagi negara lain, termasuk bagi Indonesia, yang mayoritas wilayahnya pada zona rentan gempa untuk serius memitigasi bencana.

Irwan Meilano, ahli gempa pada Pusat Penelitian Mitigasi Bencana-Institut Teknologi Bandung (PPMB-ITB) menyebut, pusat gempa yang mengguncang Nepal pekan lalu pada kedalaman 15 kilometer, tergolong gempa dangkal.

“Gempa ini memiliki mekanisme sesar naik dengan pergeseran maksimum pada bidang gempa mencapai 4 meter. Luas bidang yang bergeser 160 km x 120 km,” katanya, Selasa (28/4).

Guncangan yang dirasakan akibat gempa berintensitas IX MMI itu bisa digolongkan sangat keras, yang dapat menghancurkan bangunan yang dibangun tanpa kaidah rekayasa yang baik. “Guncangan gempa diperkuat adanya faktor amplifikasi di beberapa tempat, terutama di sekitar Kathmandu, yang terbentuk dari lapisan tanah lunak yang dulu danau,” kata Irwan. “Guncangan gempa diikuti longsoran dari beberapa tebing es ataupun batuan.”

Kondisi geologi
Nepal telah lama dipetakan sebagai negeri rentan gempa bumi. Negeri ini dilintasi Alpide-Belt, yaitu jalur gempa teraktif nomor dua di Bumi, yang memanjang dari Mediterania melalui daratan Asia hingga bertemu jalur Cincin Api Pasifik di Indonesia. Jika zona Cincin Api Pasifik dikenal sebagai zona terjadinya sekitar 85 persen gempa bumi di dunia, Alpide Belt menjadi pusat dari 15 persen gempa yang terjadi di Bumi.

Secara geologi, kerentanan Nepal terhadap gempa bumi dipicu posisinya di zona tumbukan lempeng benua India yang masuk di bawah lempeng Eurasia berkecepatan 45 mm/tahun. Akumulasi energi dari tumbukan lempeng inilah yang kerap memicu terjadinya gempa bumi di kawasan ini. Nepal pernah diguncang gempa M8,1 tahun 1934 hingga menewaskan lebih dari 10.000 jiwa. Tahun 1950, gempa M8,6 terjadi di Assam, India timur, 80 km dari Kathmandu, ibu kota Nepal.

Keaktifan pergerakan lempeng di kawasan ini bahkan bisa dilihat kasat mata dari bentukan bentang alamnya. Dorongan dahsyat lempeng India jutaan tahun mengangkat lapisan Bumi hingga membentuk Pegunungan Himalaya dengan puncak tertingginya, Gunung Everest (8.848 m dari permukaan laut), yang tertinggi di dunia.

Berdasar keaktifan pergerakan lempeng dan riwayat gempa, jauh-jauh hari sejumlah ilmuwan telah memperingatkan bahwa siklus gempa besar kemungkinan berpotensi berulang di negeri ini. “Secara fisik dan geologis, yang terjadi (gempa) ini persis yang kami pikirkan akan terjadi,” kata ahli seismologi dari University of Cambridge, James Jackson, seperti ditulis kantor berita AP, pasca gempa.

Jackson satu dari 50 ahli gempa dan ahli ilmu sosial yang berkumpul di Kathmandu, seminggu sebelum bencana, untuk membahas persiapan menghadapi “gempa besar” yang diyakini segera mengguncang Nepal. Tahun 2010, sejumlah ahli gempa membuat daftar kota-kota rentan terdampak gempa besar. Kathmandu selalu berada pada urutan atas, selain kota besar lain seperti Tokyo, Istanbul, Tehran, Manila, dan Jakarta.

Beberapa media juga pernah menulis ancaman gempa di Nepal, misalnya The Wall Street Journal yang pernah menulis artikel Nepals Big One: Myth or Reality pada edisi 21 September 2011. Koran India, The Hindu, tahun 2013 memuat wawancara terhadap Vinod Kumar Haul, seismolog India, tentang ancaman gempa M8 yang mendekati siklus keberulangan di Nepal.

Namun, sejumlah peringatan itu tak mampu mencegah jatuhnya ribuan korban. Korban terbanyak, sebagaimana diprediksi ahli, terjadi di Kathmandu, kota padat berpenduduk 2,5 juta jiwa, tak jauh dari pusat gempa.

Selain faktor geologi yang aktif, kata Irwan Meilano, besarnya jumlah korban gempa Nepal ini juga disebabkan hal lain, yaitu kepadatan penduduk di sekitar pusat gempa dan infrastruktur yang tak disiapkan menghadapi gempa besar.

Pelajaran bagi Indonesia
Irwan mengatakan, gempa Nepal harus jadi pelajaran Indonesia. Kondisi tektonik di Indonesia juga sangat rentan dilanda gempa besar bersumber dangkal, atau gempa di dasar samudra pemicu tsunami besar.

Beberapa zona rentan gempa di Indonesia juga menjelma menjadi kota besar padat penduduk. Beberapa zona gempa di ujung siklus, seperti zona subduksi Mentawai, selain zona subduksi Selat Sunda, dan beberapa sumber gempa di darat yang belum terpetakan rinci.

“Kita harus menyiapkan infrastruktur dan bangunan untuk menghadapi guncangan keras akibat gempa,” kata Irwan.

Faktor amplikasi (perkuatan guncangan) seperti terjadi pada gempa Nepal juga pernah terjadi di Indonesia, dan sangat mungkin berulang. Gempa Yogyakarta pada 2006 juga menunjukkan, amplifikasi akibat gempa yang episentrumnya dangkal bisa sangat mematikan. Meski kekuatan gempa Yogyakarta saat itu hanya M6,3, korban jiwa 5.700 orang dan korban luka 37.000 orang.

Tak hanya Yogyakarta, beberapa kota lain, misalnya Bandung, tanahnya juga dilapisi sedimen halus yang tebal. Berada di dekat Sesar Lembang, Kota Bandung, yang dibangun di atas danau Bandung purba juga memiliki struktur tanah berupa sedimen tebal. “Pemahaman akan potensi bencana dan upaya mengurangi risikonya harus menjadi prioritas dalam proses pembangunan,” kata Irwan.—–Ahmad Arif
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Peringatan dari Gempa Nepal”.
——————–
Bencana Struktural

78cd9fca0d344a2fbee2ba99b76d803bGempa berkekuatan Mw7,8 yang mengguncang Nepal, Sabtu (25/4), sejauh ini tercatat menewaskan 3.617 jiwa dan melukai 6.833 orang (National Emergency Operation Center-Nepal). Jumlah korban diperkirakan akan terus membengkak, karena sebagian belum ditemukan.

Gempa ini tergolong kuat. Pusat gempa yang hanya 16 km di bawah permukaan tanah tergolong dangkal. Ditambah kondisi tanah lunak, yang tercipta dari bekas danau purba, memperbesar amplifikasi guncangan gempa.

Berada pada zona tumbukan lempeng sub-benua India ke Eurasia, Nepal memang rentan terdampak gempa. Tahun 1934, di kawasan ini pernah diguncang gempa berkekuatan M8,1 dan tahun 1905 dilanda gempa berkekuatan M7,5, yang menunjukkan bahwa gempa kali ini adalah perulangan sejarah. Gempa sesungguhnya memiliki pola ajek, meskipun dimensi waktu keberulangannya belum bisa dipastikan hingga skala detik, jam, ataupun hari.

Namun, selain faktor geologi -yang tak bisa dimodifikasi- ada hal lain yang memicu jatuhnya banyak korban. Faktor dominan itu adalah respons budaya, selain juga situasi struktur ekonomi-politik. Gempa tidak pernah membunuh. Korban jatuh karena tertimbun bangunan atau longsoran material.

Laporan media menunjukkan, korban tewas di Nepal rata-rata tertimbun reruntuhan bangunan batu bata. Batu bata memang bukan material yang cocok untuk daerah rentan gempa seperti Nepal maupun Indonesia. Sekalipun batu bata bisa “diperkuat” tulangan baja, dibutuhkan biaya tambahan dan kerumitan pengerjaan, sehingga tidak gampang diimplementasikan.

Beberapa negara termasuk Jepang, tidak lagi menggunakan batu bata. Mereka memilih konstruksi kayu dan baja dengan dinding dari papan kayu, serat fiber, atau beton.

Menurut sejumlah penelitian, bangunan tradisional Nepal yang kebanyakan dari kayu dengan bentuk simetris dan bukaan kecil, relatif tahan gempa (Dixit, dkk 2004). Fenomena yang sama terjadi di Indonesia dengan bangunan tradisional yang rata-rata dari kayu, relatif tahan gempa.

Persoalan struktural
Sekalipun gempa bumi merupakan peristiwa alam, respons menghadapinya merupakan proses kebudayaan (Greg Bankoff, 2003). Proses budaya inilah yang menyebabkan kerentanan terhadap bencana bersifat relatif. Ancaman bencana yang sama, bisa berbeda tingkat kerentanan di komunitas yang berbeda.

Gempa berkekuatan setara di Nepal, pekan lalu, barangkali tidak akan menimbulkan korban sebanyak itu jika terjadi di Jepang, yang masyarakatnya sudah lebih siap.

Anthony Oliver-Smith (2003) menyebut, kerentanan terhadap bencana lebih banyak dipengaruhi ketimpangan struktur sosial-ekonomi dibandingkan faktor alam. Kebijakan politik terkait tata kelola lingkungan misalnya, akan sangat berpengaruh menjadikan masyarakat menghadapi bencana.

Dalam ranah politik, kerentanan bisa meningkat jika pemerintahannya abai bertanggung jawab atas keselamatan warganya. Dalam kasus Nepal, sekalipun tergolong rentan gempa, baru punya satu stasiun seismik yang dibangun Perancis tahun 1978.

Dari aspek ekonomi, semakin miskin suatu negara, tingkat kerentanan masyarakatnya terhadap bencana bisa kian tinggi. Dalam skala komunitas, yang paling rentan terdampak bencana, biasanya yang paling miskin. Itu jelas terlihat saat tsunami Samudra Hindia 2004 yang dipicu gempa Mw9,3 dan menewaskan sekitar 160.000 jiwa di Indonesia. Adapun tsunami dari Samudra Pasifik akibat gempa Mw9,1 tahun 2011 “hanya” menewaskan sekitar 20.000 jiwa di Jepang.

Jadi, alam tak memilih korban. Struktur sosial-ekonomi dan situasi kebudayaan yang memengaruhi besar kecilnya dampak.—-Ahmad Arif
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Bencana Struktural”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: