Home / Berita / Perguruan Tinggi Kedinasan Menjadi Alternatif

Perguruan Tinggi Kedinasan Menjadi Alternatif

Siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikan mempunyai banyak pilihan, salah satunya adalah di perguruan tinggi kedinasan.

Perguruan tinggi kedinasan menjadi salah satu pilihan bagi siswa lulusan SMA sederajat. Lembaga pendidikan ini menawarkan perkuliahan yang gratis dan menjamin mahasiswanya mendapat pekerjaan di kementerian terkait setelah lulus. Akan tetapi, perlu diingat bahwa syarat untuk masuk dan lulus dari perguruan tinggi kedinasan cukup berat.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN berfoto guna merayakan berakhirnya ujian tengah semester di kampus mereka di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/4/2019).

Perguruan tinggi kedinasan adalah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan kementerian/lembaga. Ada 88 perguruan tinggi di bawah kementerian dan 10 di bawah lembaga pemerintah nonkementerian. Untuk tahun 2019, Badan Kepegawaian Negara mengumumkan membuka pendaftaran bagi 18 perguruan tinggi kedinasan.

”Perlu diingat syarat dari perguruan tinggi kedinasan ialah ketika lulus bersedia di tempatkan di mana saja. Bisa di kota besar maupun di wilayah pelosok Indonesia,” kata Direktur Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN Rahmadi Purwanto kepada Kompas, Rabu (17/4/2019), di Tangerang Selatan, Banten.

Politeknik Keuangan Negara STAN merupakan perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Keuangan (Kemkeu). Tujuannya adalah mendidik calon aparatur sipil negara (ASN) di bidang perpajakan, bea cukai, kebendaharaan negara, penilai, manajemen aset, dan akuntansi.

Lulusannya khusus untuk bekerja di Kemkeu, Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga negara yang membutuhkan ASN di bidang keuangan.

Rahmadi menjelaskan, mengingat tujuan PKN STAN mencetak ASN yang mumpuni, sistem pendidikan yang dianut juga lebih ketat dibandingkan dengan perguruan tinggi umum. Misalnya, di setiap semester mahasiswa wajib memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 2,75. Apabila kurang dari batas yang ditentukan, mahasiswa tersebut akan dikeluarkan meskipun sudah berada di semester terakhir.

Dari segi jenjang kuliah juga lebih panjang. Walaupun menuntut prestasi akademik tinggi, PKN STAN hanya memiliki jenjang kuliah D-1 dan D-3. Pada tahun 2018 dibuka jenjang kuliah D-4 (setara dengan S-1) atas permintaan Kemkeu dan hanya diberlakukan untuk angkatan di tahun itu.

”Prinsip ASN keuangan adalah harus belajar dari nol. Ketika memulai karier harus bisa ditempatkan di wilayah mana pun dan pada posisi apa pun. Ketika lulus dengan ijazah D-1, mereka menjadi ASN Golongan II,” kata Rahmadi.

Sistem itu pula yang membentuk mahasiswa PKN STAN menjadi pembelajar. Ketika mereka sudah menjadi ASN, mereka dituntut untuk terus meningkatkan ilmu, yaitu melanjutkan kuliah ke D-3 dan D-4 agar kompetensinya terus bertambah.

Karakter
Serupa dengan PKN STAN, Politeknik Ilmu Pemasyarakat (Poltekip) di bawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia juga menerapkan standar akademik yang tinggi. Selain itu, mereka juga meminta mahasiswanya selalu berada di dalam kondisi fisik prima.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR-+Gedung Politeknik Ilmu Pemasyarakatan di Depok, Jawa Barat, Jumat (12/4/2019).

”Kami mendidik para calon kader pemasyarakatan yang akan berdinas di lembaga pemasyarakan maupun rumah tahanan. Tentu harus bertubuh sehat,” tutur Direktur Poltekip Rachmayanthy.

Karakter merupakan elemen penting di dalam penerimaan calon mahasiswa Poltekip. Rachmayanthy menjelaskan, relasi kuasa antara kader pemasyarakatan dan warga binaan tidak boleh menimbulkan perbuatan yang sewenang-wenang. Oleh sebab itu, dalam wawancara seleksi mahasiswa baru akan dilihat karakter yang tidak agresif dan arogan.

Dari segi kuota, setiap tahun jumlahnya berubah sesuai permintaan Kemenkumham. Misalnya, pada tahun 2019 kuota yang dibuka adalah untuk 300 orang. Saat ini masih berlangsung pendaftaran hingga akhir April. Tes masuk perguruan tinggi kedinasan akan dilaksanakan pada Juli.

Meski perguruan tinggi kedinasan menjadi salah satu pilihan bagi siswa SMA untuk melanjutkan pendidikan, menurut Kepala Sekolah SMAN 7 Jakarta Satya Budi Apriyanto, animo siswa untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi kedinasan masih kurang. Sebagai gambaran, setiap tahun rata-rata hanya lima orang yang mengutarakan niat masuk ke perguruan tinggi kedinasan. Sisanya lebih memilih masuk ke perguruan tinggi reguler.

”Umumnya, siswa lebih mengenal sekolah kedinasan itu untuk yang ingin bergabung menjadi anggota TNI dan Polri,” ujarnya.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 18 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: