Home / Artikel / Perempuan Mudah Terserang IMS

Perempuan Mudah Terserang IMS

Tingginya penularan HIV AIDS terhadap perempuan dan anak, salah satunya disebabkan dengan perilaku tidak setia dengan pasangan hidupnya. Hal itu terungkap dalam diskusi yang bertemakan ’’Lindungi Perempuan dan Anak  Dari HIV dan AIDS” di Gedung Sarinah, Jakarta, awal Desember lalu, seperti dikutip dari detik.com.

Selain itu, pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS juga masih minim. HIV/AIDS hanya dikenali aspek yang berbau diskriminatifnya saja, bukan pengetahuan yang ilmiah. Ada yang masih percaya bahwa HIV/AIDS bisa ditularkan lewat nyamuk, pergaulan, bekas makan dan informasi yang menyesatkan lainnya. Padahal penyakit ini hanya menular lewat hubungan seks dan narkoba. HIV/AIDS juga masih dipandang penyakit aneh. Mereka tidak tahu gejala bagaimana tertular yang bisa saja lewat suaminya yang hobi ’’jajan’’.

Seperti jenis penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya, atau Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Sexually Transmitted Disease (STDs), Sexually Transmitted Infection (STI) or Venereal Disease (VD), HIV merupakan salah satu infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular.

IMS disebut juga penyakit kelamin atau penyakit kotor. Namun ini hanya menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin.

IMS yang sering didapatkan adalah gonorhoe, sifilis, herpes, namun yang paling terkenal adalah HIV-AIDS, karena mengakibatkan kematian dan obat yang diberikan hanya menahan laju perkembangan virus.

Jenis Infeksi Menular Seksual (IMS)

1. Gonore (kencing nanah)

Penyakit ini menyerang organ reproduksi dan menyerang selaput lendir, mucosa, mata, anus dan beberapa organ tubuh lainnya. Penyebabnya Neisseria Gonorrhoeae. Gejala pada wanita antara lain : Keputihan kental berwarna kekuningan, rasa nyeri di rongga panggul, atau tanpa gejala.

Sedangkan gejala pada laki – laki, rasa nyeri pada saat kencing. Keluarnya nanah kental kuning kehijauan. Ujung penis agak merah dan bengkak

2. Sifilis

Penyakit ini disebut raja singa. Bisa ditularkan melalui penggunaan barang dari seseorang yang tertular (misalnya : baju, handuk dan jarum suntik). Penyebabnya treponema pallidum, yang menyerang organ tubuh lainnya seperti selaput lendir , anus, bibir, lidah dan mulut.

Disamping melalui kontak seksual, bisa tertular melalui cara  lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).

Dengan gejala klinis : luka atau koreng, jumlah biasanya satu, bulat atau lonjong, dasar bersih, dengan perabaan kenyal sampai keras, tidak ada rasa nyeri pada penekanan.

3. Chlamydia Trachomatis

Sering tidak menimbulkan gejala dan sangat berisiko bila terjadi pada ibu-ibu karena dapat menyebabkan kehamilan ektopik (hamil di luar rahim), infertilitas (kemandulan) dan abortus. Dengan gejala klinis :

–  Pada pria, sekret/cairan tubuh uretra dapat disertai eritema meatus (bintik kemerahan)

–  Pada wanita  tubuh serviks (mulut Rahim) seropurulen seperti nanah, serviks mudah berdarah.

4. Herpes Genitali

Saat ini dikenal dua macam herpes yakni herpes zoster dan herpes simpleks. Kedua herpes ini berasal dari virus yang berbeda. Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster, sedangkan herpes simpleks disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). Gejala klinis yang disebabkan oleh : Virus herpes simplex sebagai berikut :

1. Herpes genital pertama : diawali dengan bintil lentingan dan luka/erosi berkelompok, di atas dasar kemerahan, sangat nyeri, pembesaran kelenjar lipat paha dan disertai gejala sistemik

2. Herpes genital kambuhan : timbul bila ada faktor pencetus yaitu : daya tahan tubuh menurun (pada HIV- AIDS, Keganasan) , stres pikiran, senggama berlebihan, kelelahan.

5. Kondiloma akuminata (Kutil Genitalis)

Merupakan kutil di dalam atau di sekeliling vagina, penis atau dubur. Sering menyebabkan kecemasan karena tidak enak dilihat. Bisa terinfeksi bakteri, dan merupakan petunjuk adanya gangguan sistem kekebalan (HIV-AIDS).

6. HIV-AIDS;

HIV-AIDS mudah menyerang perempuan, karena permukaan selaput mukosa nya relatif luas, mulai dari vagina, mulut rahim dan rahim.

Apabila terdapat peradangan di vagina (vaginitis), mulut rahim (cervisitis) dan rahim (endometritis) maka lapisan mukosa tersebut mudah robek dan mudah dimasuki virus HIV yang selanjutnya mengikuti aliran darah.

Sebenarnya penyakit infeksi menular seksual ini sebaiknya tidak perlu menyerang kita. Sebab, penyakit ini memang hanya menyerang kalau kita melakukan hubungan seks dengan pasangan yang kebetulan terserang Infeksi menular tersebut.

Akan tetapi apabila kita terserang penyakit tersebut segeralah hubungi dokter untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat, seperti yang ditulis di Tips Pengobatan IMS.

Langkah terbaik untuk mencegah IMS sebetulnya sederhana, yaitu menghindari kontak langsung, dengan cara:

– Menunda kegiatan seks bagi yang belum menikah.

– Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.

– Memakai pengaman dengan benar dan konsisten bagi yang berisiko tertular IMS. (11)
–  Dr Muchlis AU Sofro SpPDKPTI, Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi Semarang

———-

Tips Pengobatan IMS

PENGOBATAN beberapa penyakit infeksi menular seksualitas sebaiknya menurut jenis penyakitnya.

1. Gonore atau kencing nanah biasanya diberikan antibiotik Cefixime. Akan tetapi karena pemakaian yang sedemikian luas, apalagi pasien sendiri kalau merasakan kambuh langsung membeli cefixime di apotik, tanpa periksa dulu ke dokter, akan meningkatkan kekebalan kuman terhadap antibiotik ini.

Oleh karena itu , CDC tahun 2010 merekomendasikan pengobatan ter- baru gonore dengan pemberian: suntikan seftriaxon 250 mg melalui pantat dikombinasikan dengan Azitromisin 1 gram per oral (tablet) sekali minum. Atau ditambah Doxiciclin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari. Namun, kalau seftriaxon tidak bisa diberikan (karena alergi misalnya) , maka bisa diganti dengan Cefixim 400 mg ditambah Azitromisin dan Doxiciclin.

2. Pengobatan Sifilis pada tahap awal, masih menggunakan suntikan penisilin. CDC tahun 2012 menyatakan bahwa penyakit yang masih kurang dari satu tahun masih bisa diobati dengan penisillin. Bila lebih dari satu tahun maka dosis suntikan penisilin harus ditingkatkan sesuai kasusnya.

Setiap pasien yang berisko tertular sifilis, missal yang memanfaatkan jasa pekerja seks, sebaiknya dilakukan skrining untuk sifilis (tes laboratorium darah: TPHA). Pasien yang sedang dalam pengobatan, sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang lain, sampai dinyatakan sembuh sifilisnya. Pasangannya sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan untuk sifilis, kalau positif harus diobati secepatnya.

3. Pengobatan Clamidia cukup simple, dapat menggunakan Azitromisin dosis tunggal (sekali minum), atau Doxiciclin dua kali sehari selama satu minggu. Pada pasien HIV yang terserang Clamidia, diobati seperti pasien non HIV.  Semua pasangan seksual pasien Clamidia harus dilakukan tes dan segera diobati. Pasien dengan Clamidia sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual selama 7 hari sesudah minum Azitromisin dosis tunggal atau selama pemberian Doxiciclin 7 hari. Hal ini untuk menghindari penularan kepada pasangan seksualnya.

Wanita yang mempunyai  pasangan seksual yang tidak mendapatkan pengobatan Clamidia secara tepat, berisiko tinggi untuk infeksi berulang Clamidia. Ini menimbulkan komplikasi berupa infertilitas (kemandulan). Pria dan wanita yang terinfeksi clamidia sebaiknya dites ulang tiga bulan pasca pengobatan. Dan harus dipastikan bahwa pasangan seksualnya pun sudah diobati.

4. Pengobatan Herpes genitalis menggunakan Acyclovir 400 mg tiga kali sehari selama 7-10 hari. Atau Acyclovir 200 mg lima kali sehari sela- ma 7-10 hari. Bisa menggunakan Famciclovir 250 mg tiga kali sehari 7- 10 hari, atau Valacyclovir 1 gram dua kali sehari selama 7-10 hari. Bila Herpesnya belum sembuh sempurna, maka pengobatan bisa diperpanjang 10 hari lagi.

5. Pengobatan Condiloma akuminata biasanya menggunakan laser Karbondioksida (C02) yang tingkat keberhasilannya tinggi. 88% persen sukes dengan penggunaan laser tunggal CO2.

6. Pengobatan HIV-AIDS melihat kadar CD4 (kekebalan tubuh) pasien. Apabila sudah  turun di bawah 350 langsung diobati dengan obat Antiretroviral (ARV). Obat ini terdiri dari: Lamivudin, Zidovudin, Tenovofir, Nevirapin, Evafirens.

Obat biasanya diminum sehari dua kali seumur hidup. Repotnya pengobatan ARV harus diawasi kemungkinan munculnya efek samping. Antara lain: Zidovudin menyebabkan anemia, Nevirapin sering menyebabkan gatalgatal di kulit. Lamivudin kadang menimbulkan mual. Efavirens sering menyebabkan sakit kepala, kepala terasa berat, mimpi buruk. Sedangkan Tenovofir perlu dievaluasi fungsi ginjal, kadang menyebabkan gangguan fungsi ginjal.

Dengan demikian, Infeksi menular seksual harus diketahui lebih dini agar pengobatannya lebih mudah dilakukan. (11)

– Dr Muchlis AU Sofro SpPD- KPTI

Sumber: Suara Merdeka, 6 Januari 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: