Perempuan Menentukan Keseimbangan Ekosistem

- Editor

Kamis, 25 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menjaga keseimbangan ekosistem memerlukan peran perempuan. Perjuangan perempuan mendorong kesetaraan hak dalam akses terhadap sumber daya alam.

Di daerah, perempuan turut menjaga sumber daya alam dengan cara masing-masing. “Kami melihat perjuangan perempuan disembunyikan struktur sosial dan politik yang tak menginginkan mereka tampil,” kata Direktur Eksekutif Sajogyo Institute Eko Cahyono, di sela-sela diskusi publik “Mendorong Kepemimpinan Perempuan Mengurus Krisis Sosial-Ekologi di Nusantara”, di Aula Kampus Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6).

Hadir berbicara Eva Bande (pejuang agraria Sulawesi Tengah), Aleta Baun (tokoh adat NTT), Nissa Wargadipura (pimpinan pesantren ekologi Garut), Oppung Putra (perempuan petani Sumatera Utara), dan Gunarti (komunitas Sedulur Sikep). Mereka berbagi pengalaman mempertahankan hak sumber daya alam di daerah mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

blogwsjEko mengatakan, krisis ekologi mendampak keseimbangan alam jika perempuan tak diberi peran. Penelitian Sajogyo Institute dengan Komnas HAM dalam inkuiri nasional, 40 kasus di kawasan hutan kian meminggirkan masyarakat adat, terutama perempuan.

Hal itu, lanjut Eko, karena legitimasi aparat pada rezim kehutanan, perkebunan, dan pertambangan lewat izin produksi. “Perlu ada moratorium izin. Koreksi kebijakan yang mengabaikan kelangsungan ekologi,” ujar Eko.

Contohnya, kasus penguasaan lahan untuk Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) terhadap masyarakat adat Malind Anim. Dampaknya, gagasan produktivitas meniadakan peran perempuan dalam keseharian masyarakat adat, praktik peralihan tanah di skema MIFEE menutup mata hak perempuan atas tanah dan konsekuensi investasi skala besar memperburuk kondisi perempuan. Saat tanah sudah beralih dan diolah investor, kerja perempuan tak diserap dalam aktivitas perusahaan.

Nissa Wargadipura mengatakan, peran perempuan dalam keseimbangan ekosistem dimulai dari kesadaran keluarga memanfaatkan sumber daya sekitar. Menjaga keseimbangan ekosistem dengan belajar dari alam. Caranya, membiasakan bercocok tanam tanpa merusak tanah.

Meski prinsip pembangunan melalui pertanian dan perkebunan mengabaikan keadilan, petani perempuan harus siap melawan komodifikasi alam demi produksi skala besar. Kebijakan komodifikasi alam perlu ditekan.

Koordinator Tim Teknis Pengendalian Perubahan Iklim Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yetti Rusli mengatakan, perempuan perlu diberi tempat. Mereka perlu terlibat sebagai subyek dalam mengelola lingkungan. (B02)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 13 dengan judul “Perempuan Menentukan Keseimbangan Ekosistem”.

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB