Home / Berita / Peralihan ke Platform Berbasis Pelanggan Harus Konsisten

Peralihan ke Platform Berbasis Pelanggan Harus Konsisten

Upaya memonetisasi konten-konten pemberitaan digital premium berbasis pelanggan (subscriber) dipahami memang bukan perkara mudah. Upaya membiasakan pengakses berita untuk berlangganan dan membayar konten-konten berita yang mereka akses harus terus dilakukan dengan optimistis.

Meski demikian, Direktur Asosiasi Penerbit Surat Kabar Dunia (WAN-IFRA) Asia Gilles Demptos, Senin (13/11), mengaku tidak punya formulasi pasti tentang seberapa lama upaya peralihan dari media tradisional, semacam surat kabar, menuju platform digital, khususnya berbayar, bisa mulai membuahkan hasil atau keuntungan secara finansial dan berkelanjutan.

Saya tidak punya formulasi pasti tentang seberapa lama upaya peralihan dari media tradisional, semacam surat kabar, menuju platform digital, khususnya berbayar, bisa mulai membuahkan hasil atau keuntungan secara finansial dan berkelanjutan.

”Saya tidak punya semacam bola kristal untuk bisa mengetahui itu. Kalau ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai bisa menghasilkan dan berkelanjutan, saya pikir, yang perlu dikerjakan adalah terus berusaha dan berpikir optimistis. Sebab, jika tidak, bisa jadi semua telanjur terlambat, sementara perubahan ekosistem pemberitaan yang terjadi sangatlah cepat,” ujar Demptos menjawab pertanyaan Kompas.

Demptos berbicara dalam dalam Konferensi Jurnalisme Digital Seoul (SDJC) 2017, 13-14 November, yang diikuti wartawan Kompas, Wisnu Dewabrata. Sejumlah pembicara yang tampil paa hari pertama konferensi antara lain Direktur Tow Center for Digital Journalism di Columbia University, Amerika Serikat, Emily Bell, Direktur Eksekutif Naver, Yoo Bong Seok, dan News Lab Lead Google Asia-Pasifik, Irene Jay Liu.

Demptos juga paham apabila hingga saat ini masih banyak pembaca, terutama pembaca muda, yang merasa enggan berlangganan dan mengeluarkan sejumlah uang walau perusahaan media yang bersangkutan telah menyediakan konten-konten berita premium, bahkan secara jauh lebih menarik dan multimedia.

KOMPAS/WISNU DEWABRATA–Direktur Eksekutif Perusahaan Portal Web terbesar di Korea Selatan, Naver, Yoo Bong Seok, menyampaikan presentasinya di Konferensi Jurnalisme Digital Seoul 2017, yang digelar pada hari pertama, Senin (13/11), oleh Korea Press Foundation.

Selama ini, pengguna internet sudah terbiasa mengakses dan mendapatkan informasi serta berita secara gratis. Meski begitu, upaya beralih dari cara-cara konvensional tetap harus terus diupayakan oleh perusahaan-perusahaan media sebelum terlalu terlambat. Sejumlah media massa, terutama cetak, di kawasan Asia dinilainya masih jauh lebih beruntung ketimbang di beberapa negara maju.

”Kebanyakan saat mereka mulai beralih platform, produk platform lama, surat kabar, masih bisa diandalkan lantaran masih terus menghasilkan pendapatan (revenue). Kita harus selalu optimistis sambil terus mengambil kesempatan ini. Selama ini, sejak kemunculan teknologi internet pertama kali, pihak penerbit selalu mengambil posisi pasif,” ujarnya.

Kalaupun mencoba untuk mengikuti atau melakukan perubahan, biasanya hal itu dilakukan dengan tidak terlalu banyak perubahan dan sering kali juga sudah terbilang terlambat. Penurunan jumlah pembaca platform tradisional, ditambah pergeseran pihak pengiklan yang juga lebih mengarah ke media digital, disebut Demptos sebagai faktor utama alasan perubahan.

”Memang agak sulit untuk menentukan sampai berapa lama mereka, terutama pembaca muda, bisa memahami dan kemudian bersedia berlangganan untuk mendapatkan konten-konten berita premium. Namun, upaya seperti itu tetap harus terus dilakukan mengingat perubahan terjadi dengan sangat cepat,” ujar Demptos

Pendapatan iklan surat kabar secara global menurun secara signifikan sepanjang tahun 2012-2016, yang besaran totalnya mencapai 86 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.166 triliun.

Dalam presentasinya, Demptos juga memaparkan penurunan signifikan pendapatan iklan surat kabar secara global sepanjang tahun 2012-2016, yang besaran totalnya mencapai 86 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.166 triliun.–WISNU DEWABRATA

Sumber: Kompas, 13 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: