Industri Digital; Polemik Ekonomi Berbagi

- Editor

Selasa, 19 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekan lalu, dua berita soal ekonomi berbagi (sharing economy) menggunakan basis platform digital yang saling bertentangan muncul sama kuatnya di media massa internasional. Pertama adalah soal pinjaman antar-dua pihak (peer to peer lending) melalui sejumlah platform yang makin besar, yang berarti kepercayaan publik kian besar terhadap platform ini. Kedua, soal langkah Amerika Serikat yang akan mengawasi ekonomi berbagi ini melalui beberapa platform karena menunjukkan sejumlah masalah.
handining

Kabar baik dari ekonomi ini adalah kian membesarnya bisnis pinjaman tanpa melalui lembaga bank dengan menggunakan sejumlah platform, seperti LendingClub, Prosper, SoFi, dan Zopa. Bahkan, salah satu bank internasional ikut berinvestasi melalui salah satu platform. Pendekatan tanpa birokrasi yang ruwet dan jaminan atau agunan menjadikan platform ini berkembang cepat. Data menunjukkan pertumbuhan kredit yang diberikan sejak diperkenalkan pada 2009. Saat ini pinjaman yang telah diberikan mencapai 2,5 miliar dollar AS.

Akan tetapi, di tengah gairah ekonomi yang besar ini, Pemerintah AS mulai mewaspadai masalah-masalah yang muncul dalam berbagai platform yang menyediakan layanan ekonomi berbagi itu. Pemerintah AS juga tengah menyelidiki kemungkinan pelanggaran yang dilakukan Uber, platform penyedia layanan angkutan, yang bisa menekan bisnis taksi tradisional. Beberapa pengusaha taksi telah mengajukan keberatan terkait keberadaan Uber. Masalah lain adalah sejauh mana penyedia platform berhak memiliki data mobilitas pelanggan serta sejauh mana mereka memproteksi privasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Platform penyedia layanan akomodasi AirBnB terpaksa mengganti rugi pemilik rumah setelah tamunya melakukan perusakan dan pelanggaran. AirBnB berusaha meminta data-data formal pemilik rumah dan tamunya. Namun, ada saja kejadian yang mencoreng bisnis berbagi kamar yang bisa menggerus bisnis perhotelan. Masalah-masalah seperti ini muncul di tengah maraknya gairah ekonomi berbagi.

Apa yang mungkin terjadi di masa depan terkait ekonomi berbagi ini?

Perbaikan-perbaikan akan terus dilaksanakan penyedia layanan platform ekonomi berbagai untuk menjaga privasi konsumen dan keamanan menggunakan platform itu. Mereka dikabarkan tengah melakukan diskusi terkait isu-isu aktual dan perbaikan keamanan konsumen dalam konsep ekonomi berbagi itu. Platform semacam ini sepertinya tak akan mati, malah tumbuh.

Pemerintah di berbagai negara juga akan mencermati perubahan dalam industri tradisional yang belum menggunakan teknologi digital. Namun, sepertinya mereka hanya bisa melakukan tindakan reaktif. Langkah mereka lebih lambat dibandingkan dengan kreativitas para pengembang aplikasi. Bisa-bisa, aturan tak lagi sesuai dengan temuan-temuan terbaru dalam ekonomi digital. Langkah paling bodoh adalah mematikan kreativitas para pengembang dengan membawa mereka ke jalur hukum sebagai akibat ketakpahaman terhadap industri ini.

Sekali lagi, ekonomi berbagi ini akan terus tumbuh. Uber dikabarkan telah mengurangi perjalanan taksi pada salah satu perusahaan di San Fransisco, AS, hingga 65 persen sehingga menurunkan pendapatan perusahaan itu. AirBNB sejak 2008 sampai 2012 berhasil mendapatkan pasar 4 juta tamu dengan lama tinggal 10 juta malam. Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan industri pinjaman melalui sejumlah platform pinjaman antar-dua pihak akan mengurangi pendapatan bank tradisional di AS sekitar 11 miliar dollar AS atau 7 persen.

Akan tetapi, industri berbasis digital tidak akan mematikan industri tradisional. Industri dengan basis ekonomi berbagi hanya akan mengurangi pendapatan industri tradisional. Mereka memiliki pasar masing-masing. Meski demikian, industri tradisional harus melakukan inovasi bila tidak ingin terjerembap ke dalam kehancuran. Industri media mungkin bisa menjadi contoh upaya industri media tradisional bertahan di tengah maraknya platform digital. (ANDREAS MARYOTO)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Mei 2015, di halaman 17 dengan judul “Polemik Ekonomi Berbagi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB