Lindungi Warga dari Propaganda Digital Global

- Editor

Senin, 10 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu ruangan di Kantor Regional Facebook Asia Pasifik, di Singapura, Selasa (13/11/2018). Kantor ini didesain dengan konsep terbuka dan senyaman mungkin bagi karyawannya untuk berkarya.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO (DKA)
13-11-2018

Salah satu ruangan di Kantor Regional Facebook Asia Pasifik, di Singapura, Selasa (13/11/2018). Kantor ini didesain dengan konsep terbuka dan senyaman mungkin bagi karyawannya untuk berkarya. KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO (DKA) 13-11-2018

Saat ini pemerintah perlu menyusun undang-undang yang memproteksi warga negara dari serbuan propaganda digital global. Mereka adalah korban langsung dari fenomena ini.

Rencana pemerintah menyiapkan regulasi untuk melindungi dan memproteksi dunia pers dari serangan platform digital dari luar memberi sinyal positif bagi keberlangsungan hidup media massa, terutama yang mengusung peran pencerdasan publik. Akan tetapi, ada hal yang lebih mendesak yaitu pemerintah mesti segera menyusun undang-undang yang memproteksi warga negara dari serbuan propaganda digital global.

Pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2/2020), Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah segera menyiapkan regulasi untuk melindungi dan memproteksi dunia pers dari serangan platform digital. Ekosistem media massa harus dilindungi dan diproteksi supaya masyarakat mendapatkan konten berita yang baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gagasan membuat regulasi yang memproteksi media dari serbuan raksasa platform media digital seperti google dan Facebook ini lebih maju dari diskusi sebelumnya terkait urgensi subsidi negara atas konten jurnalisme berkualitas di media.Tapi ini baru dari sisi bisnis atau korporasi media, belum menyentuh sisi publik yang justru terdampak langsung dan paling parah dari propaganda politik dan ekonomi media digital berskala global,” kata Pengamat media Universitas Islam Indonesia sekaligus Doktor Kajian Sistem Penyiaran Publik di University of Munich, Masduki, Sabtu (8/2/2020) saat dihubungi dari Jakarta.

Masduki mencontohkan, Amerika Serikat sekarang membuat regulasi terbaru yang khusus memproteksi warganya dari serbuan propaganda digital global. Perang digital dengan Iran, Rusia dan negara-negara lain termasuk jual beli data pribadi melatarbelakangi lahirnya undang-undang ini. Di Indonesia, undang-undang ini diperlukan untuk memastikan literasi digital berjalan massif yang akhirnya bermuara pada jurnalisme yang sehat.

Masih Sporadis
Dalam lima tahun terakhir, aksi literasi digital marak di kampus-kampus lewat Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi atau Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi). Selain itu, unit-unit cek fakta atau Fact checking juga banyak didirikan.

Akan tetapi, gerakan-gerakan ini masih cenderung sporadis dan disponsori platform-platform global sebagai semacam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Ada resiko penggerusan sikap kritis dari platform-platform digital yang rakus mengkapling iklan.

“Harusnya ada undang-undang yang mendorong literasi media dan kewargaan digital sehingga literasi media dan cek fakta bisa berlangsung secara berkelanjutan. Selama ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika cenderung sibuk sebagai ‘pemadam kebakaran”’ dengan menutup situs-situs atau konten media sosial bermasalah. Mereka Lupa dengan tugas mendorong regulasi perlindungan menyeluruh warga. Draft RUU Perlindungan data pribadi bisa menjadi jalan keluar, tapi ia harus diperluas kontennya,” paparnya.

Sebelumnya, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, sekaligus mantan anggota Dewan Pers, Nezar Patria juga mengeluhkan bagaimana media-media sosial baru berbasis internet, seperti Facebook, Youtube, Google, dan Netflix, kini menguasai begitu banyak pendapatan tetapi mereka tidak memiliki kontrol yang baik terhadap konten. Dahulu, platform baru seperti ini tak mau memasuki wilayah konten. Namun belakangan, mereka turut memasuki wilayah konten sehingga menjadi penyedia konten sekaligus penyelenggara platform.

”Terjadi perang asimetris antara penyedia konten dan penyedia platform. Dalam hal ini, penyedia konten menderita karena hubungan asimetris (tak setara) itu. Di tengah keterjepitan ini, media mencari jalan dan bisnis model baru,” kata Nezar.

Menanggapi keberadaan media-media baru berbasis internet, menurut jurnalis senior Bambang Harymurti, media dan jurnalis Indonesia mesti bersatu membangun nilai tawar di hadapan platform-platform media baru. Jadi mesti ada kolaborasi setara antara penyedia konten, yakni media, dan penyedia platform, seperti Google, Facebook, dan Youtube.

Oleh ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 10 Februari 2020

Informasi terkait

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:40 WIB

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Berita Terbaru

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB

Artikel

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Selasa, 16 Jun 2026 - 20:40 WIB