Pengukuhan profesor Riset; Radikalisme Beragama Perlu Perhatian Khusus

- Editor

Selasa, 16 Desember 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Paham radikalisme dalam beragama memerlukan perhatian khusus dari masyarakat. Paham itu berpotensi memecah persatuan bangsa. diperlukan dialog-dialog keagamaan yang bersifat moderat dan terbuka untuk memberi perspektif lain yang damai.


”Paham radikalisme bertujuan mengambil kekuasaan politik dengan menggunakan agama. Oleh karena itu, praktiknya bisa bersifat pemaksaan,” kata Endang Turmudi, Kepala Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam orasi ilmiah berjudul ”Dinamika Islamisme dalam Perkembangan Masyarakat Indonesia Modern”, di Jakarta, Senin (15/12). Orasi itu merupakan syarat pengukuhan Endang sebagai Profesor Riset bidang Sosiologi LIPI.

Dia menjelaskan, tidak semua penganut radikalisme bertindak agresif dan menjadi teroris. Akan tetapi, ideologi itu tetap berpotensi untuk pecah menjadi perilaku agresif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Oleh karena itu, masyarakat, terutama pemerintah, harus bisa mengarahkan semangat keagamaan agar menjadi positif. Menekankan pada nilai-nilai akhlak yang baik dan damai,” tutur Endang.

Dalam orasinya, Endang menuturkan bahwa semangat keagamaan di masyarakat Indonesia semakin mengental, terutama di kalangan generasi muda. Umumnya, generasi muda mempraktikkan agama dengan cara cenderung lebih modern, yakni menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan untuk memahami agama secara mendalam. Namun, paham radikalisme tetap muncul seiring dengan meningkatnya religiositas di masyarakat.

Pengukuhan
Selain Endang, LIPI juga mengukuhkan Herman Heriyadi sebagai Profesor Riset bidang Sosiologi Kehutanan dan Yanni Sudiyani sebagai Profesor Riset bidang Ilmu-ilmu Biologi Lainnya.

Herman memaparkan orasi berjudul ”Tinjauan Sosiologis Pengelolaan Hutan dan Hutan Tanaman Industri dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” yang menekankan pentingnya memberdayakan masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan industri. Selain itu, perusahaan kehutanan juga dimandatkan untuk menerapkan sistem yang transparan, bisa diandalkan, dan ramah lingkungan.

Adapun Yanni memberikan orasi tentang ”Pengembangan Teknologi Biomassa Limbah Lignoselulosa untuk Pembuatan Bioetanol Generasi Kedua”. Dengan pengukuhan tiga profesor riset itu, LIPI memiliki 114 profesor riset. Indonesia memiliki total 9.013 peneliti. Akan tetapi, profesor riset hanya berjumlah 454 orang. (DNE)

Sumber: Kompas, 16 Desember 2014

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB