Home / Berita / Penginderaan Jauh untuk Pemantauan Penurunan Tanah Belum Dimanfaatkan Luas

Penginderaan Jauh untuk Pemantauan Penurunan Tanah Belum Dimanfaatkan Luas

Selama ini, penginderaan jauh sudah banyak dimanfaatkan untuk pemetaan dan penyusunan tata ruang. Namun, teknik ini belum banyak diaplikasikan untuk pemantauan penurunan muka tanah meski bisa menyediakan data turunnya tanah tersebut secara murah, cepat, dan akurat. Penginderaan jauh untuk menentukan penurunan muka tanah itu menggunakan data synthetic-aperture radar (SAR), instrumen yang ada dalam satelit radar. Sejumlah satelit yang menyediakan data SAR tersebut antara lain Sentinel-1 atau TerraSAR-X/Tan-DEM-X. Sementara untuk pemetaan menggunakan citra optik satelit.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Siluet kapal di Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/1/2020). Penurunan muka tanah menjadi ancaman nyata terbesar di sejumlah daerah, terutama ibu kota Jakarta. Penyebab penurunan muka tanah paling dominan ialah penyedotan air tanah. Data dari Heri Andreas, peneliti pada Divisi Riset Geodesi Institut Teknologi Bandung, penurunan muka tanah di pantai utara Jawa mencapai 1-25 sentimeter per tahun.

Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pusfatja Lapan) M Rokhis Khomarudin di Jakarta, Kamis (27/2/2020), mengatakan, data SAR belum banyak dimanfaatkan di Indonesia. Padahal, data radar memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan data optik karena tidak terkendala tutupan awan.

”Sebagian data SAR juga memiliki resolusi yang sangat baik, seperti data TerrsaSAR-X yang memiliki resolusi spasial berkisar 1,5-3 meter,” katanya.

Selama ini, penggunaan data SAR untuk menentukan turunnya muka tanah baru digunakan dalam kajian di Lapan. Data itu akan dibandingkan dengan data penurunan muka tanah di sejumlah lokasi yang diukur langsung para perekayasa geoteknik, baik yang ada di sejumlah lembaga pemerintah, perguruan tinggi, maupun swasta.

Dari perbandingan itu, diharapkan akan diperoleh model pengukuran penurunan muka tanah dari data radar dengan tingkat akurasi yang baik. ”Dengan menggunakan penginderaan jauh, pengukuran muka tanah bisa dilakukan di lebih banyak kota. Ini akan jadi teknologi yang murah, cepat, dan akurat dibandingkan pengukuran langsung,” kata Rokhis.

Ketersediaan data penurunan muka tanah yang akurat dan memadai itu penting untuk mendukung pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya target kota dan komunitas berkelanjutan serta perubahan iklim. Kebutuhan data itu makin besar mengingat sebaran tanah lunak yang menyebabkan penurunan tanah di Indonesia sangat luas.

”Penurunan tanah bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di kota-kota lain,” kata peneliti Pusfatja Lapan Dipo Yudhatama. Sejumlah wilayah di pantai utara menghadapi persoalan ini, seperti Jatabek (Jakarta, Tangerang, Bekasi), Cirebon Raya, Pekalongan Raya, Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi), dan Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan).

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Warga pulau usai memancing ikan di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/1/2020). Penurunan muka tanah menjadi ancaman nyata terbesar di sejumlah daerah, terutama ibu kota Jakarta.

Dampak penurunan tanah
Fenomena ini terjadi secara perlahan dan senyap. Dampak penurunan tanah tidak bisa dirasakan, tetapi dampaknya bisa dilihat langsung, seperti rusaknya bangunan, banjir rob, hingga menjoroknya air laut ke daratan. Kondisi itu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, terlebih penurunan tanah itu banyak terjadi di kota-kota besar dan pusat kegiatan ekonomi.

Guru Besar Geoteknik Lingkungan Universitas Tarumanagara Jakarta Chaidir Anwar Makarim dalam diskusi kelompok terarah Land Subsidence: Observation and Prevention di Jakarta, Rabu (26/2/2020), mengingatkan, penggunaan citra satelit radar sangat membantu dalam mengukur penurunan tanah.

Namun, prosesnya perlu dilakukan dengan hati-hati. ”Dengan pengukuran menggunakan alat geoteknik, penyebab penurunan tanah dan kedalaman atau ketebalan tanah lunak bisa diketahui,” katanya.

Sebagai contoh, wilayah di Jakarta yang rentan dengan penurunan tanah adalah di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan sebagian Jakarta Pusat. Di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, penurunan tanahnya relatif kecil karena tanah lunaknya tidak terlalu tebal.

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA–Banjir rob yang terjadi di jalan raya pesisir Pantai Talise, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, akibat penurunan muka tanah yang dipicu gempa bumi pada 28 September 2018. Foto diambil Jumat (10/1/2020).

Di Jakarta Utara, tanah turun sejauh 4,1 meter antara tahun 1974 dan 2010. Itu berarti penurunan tanah mencapai 11,39 sentimeter per tahun. Sementara di Jakarta Selatan, penurunan tanah mencapai 0,25 meter dalam 36 tahun periode yang sama, atau hanya 0,69 sentimeter per tahun.

Dipo mengakui, pengukuran penurunan muka tanah menggunakan citra satelit memiliki kelemahan. Data satelit itu tidak bisa menghasilkan informasi detail terkait presisi tingkat penurunan tanahnya, pada lapisan tanah yang mana, serta apa penyebab penurunan tanah itu.

Karena itu, data satelit penurunan tanah hanya digunakan sebagai informasi awal untuk mengidentifikasi daerah yang mengalami penurunan muka tanah dan laju penurunannya. ”Informasi itu bisa digunakan oleh ahli geoteknik untuk menentukan di mana saja mereka harus melakukan pengukuran langsung di lapangan,” katanya.

Dengan demikian, data satelit dan pengukuran geoteknik langsung tentang pengukuran tanah itu akan saling melengkapi serta mempermudah pengumpulan data penurunan tanah secara luas, tetapi juga lengkap dan detail.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 28 Februari 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...