Home / Berita / Penggunaan Bensin RON-88

Penggunaan Bensin RON-88

MULAI 1 April ini, Pertamina tidak memproduksi lagi Premium-87 dan Super-98 untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Kilang-kilang Pertamina di mama pun hanya akan menghasilkan sate jenis bensin, yakni RON (research octane number)88. Sedangkan bagi masyarakat yang ingin menggunakan bensin beroktan tinggi, bisa menggunakan Premix-92 hasil produksi swasta, yang merupakan hasil campuran dari RON-88 dengan MTBE (methyl tertiary butyl ether). Apa makna perubahan angka-angka oktan ini bagi kita?

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya diperjelas dulu yang dimaksud dengan ”angka oktan.” Angka oktan menunjukkan kualitas kemampuan suatu jenis bahan bakar, yang digunakan dalam motor bakar yang menggunakan busi (ignition combustion engine), seperti terdapat pada kendaraan bermotor non diesel.

Bahan bakar yang berangka oktan 88, misalnya adalah RON-88 hasil produksi Pertamina. Jika RON-88 digunakan pada suatu mesin, maka unjuk kerja (performynce) mesin itu akan setara dengan seandainya mesin tersebut menggunakan bahan bakar campuran, yang 88 persen volume totalnya adalah lso-oktana (2,2,4-trimetil pentana, C8H18) dan 12 persen sisanya adalah normal heptana (C7H16). Jadi angka itu menunjukkan persentase iso-oktana. Yang digunakan untuk pengukuran ini biasanya adalah mesin yang standar.

Tanpa suatu perbandingant arti unjuk kerja di sini memang relatif. Maka yang dimaksud dengan unjuk kerja adalah perbandingan antara daya mesin berbahan bakar tertentu dengan jika mesin itu menggunakan bahan bakar berangka oktan 100, atau yang volumenya 100 persen terdiri dari iso-oktana. Iso-oktana dianggap memlliki angka oktan 100 dan normal heptana memiliki angka oktan 0.

Makin tinggi
Ketua Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia Fakultas Teknik UI, Ir Ny. Atastina Sri Basuki MS, mengatakan, ”Jelas bahwa makin tinggi angka oktannya maka makin tinggi pula unjuk kerja mesin yang menggunakan bahan bakar itu. Namun untuk menentukan awet tidaknya mesin mobil, tidak bisa menggunakan jenis bahan bakar sebagai ukuran.”

Menurut pengajar mata kuliah Bahan Bakar dan Pelumas ini, ”Bahan bakar solar yang digunakan pada mesin-mesin diesel juga memiliki ukuran kualitas. Namun bukan oktana, melainkan dengan cetana. Untuk mesin diesel di truk-truk, menurut literatur diusulkan angka cetana 60, sebagai yang paling Optimum.”

Bensin yang tardiri dari senyawa hidro arbon bisa dinaikkan angka oktannya dengan ditambah zat tambahan tertentu. Jenis zat tambahan ini banyak macamnya. Dalam kasus Pertamina, untuk meningkatkan angka oktan premium-87 menjadi RON-88, ditambah dengan TEL (tetra ethyl lead) yang mengandung unsur timah hitam (Pb). Untuk meningkatkan angka oktan RON-88 menjadi Premix-192 (premium-mix), ditambah dengan MTBE yang kini masih diimpor dari luar.

Angka oktan bisa dinaikkan sampai angka di atas 100, seperti pada avigas (aviation gasoline), yang digunakan oleh pesawat terbang propeler. Bahan bakar gas (BBG) atau gas alam yang dimampatkan (compressed natural gas), yang juga mulai dipakai di Jakarta, mempunyai angka oktan 120.

Ada beberapa ciri zat tambahan, yang bisa menaikkan angka oktan. Pertama, senyawa hidrokarbon yang susunan kimiawinya mempunyai banyak cabang. Kedua, yang bersifat aromatik atau mempunyai ikatan siklik. Ketiga, yang mengandung ”alkohol-hidrokarbon,” seperti metanol, etanol, propanol, dan butanol. Selain berfungsi menaikkan angka oktan, zat ini juga bisa berfungsi sebagai bahan bakar, terutama metanol dan etanol untuk kendaraan bermotor. Metanol memiliki sifat fisis dan kimia yang sesuai sebagai bahan bakar terutama untuk daerah tropis, dengan RON 106-114. Sedangkan etanol dapat digunakan sebagai bahan pencampur bensin dengan kadar 10 sampai 20 persen volume. Keempat, hidrokarbon tidak jenuh yang memiliki ikatan rangkap.

Dampak lingkungan
Tentang dampak lingkungan, penggunaan senyawa TEL untuk menaikkan angka oktan terus berusaha untuk dikurangi, karena Pb termasuk logam berat pencemar (polutan), yang populer dengan sebutan B3 (bahan berbahaya beracun). Menurut Saswinadi Sasmojo dan Timiati Busono dari Pusat Penelitian Energi ITB, dalam Konferensi Nasional IX Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) Indonesia di Jakarta (19/3), beberapa negara sudah memberlakukan batas atas kandungan TEL.

Di Jepang, 99 persen dari bensin yang dipasarkan sudah bebas Pb. Di AS, sejak 1985 angka itu sudah 77 persen. Sedangkan sejak 1987 diterapkan kadar Pb maksimal 0,026 gram/ liter. Sebagian besar negara Eropa memberlakukan batas maksimal Pb 0,15 gram/liter, sedangkan 20-35 persen bensin yang dipasarkan sudah bebas Pb. Singapura memberlakukan batas 0,15 gram/liter sejak 1987. Terakhir, Australia menegaskan, sejak 1987 kendaraan yang diproduksi dirancang untuk bensin tanpa Pb.

Namun di Indonesia untuk, sementara ini masih ditolerir. Sementara itu, bisa dicari jenis zat tambahan lain yang kurang beracun ketimbang Pb. Menteri Pertambangan dan Energi, Ir Ginandjar Kartasasmita dalam dengar pendapat dengan Komisi-VI DPR-RI (Kompas, 21/9/89), mengatakan selama ini untuk meningkatkan oktan BBM yang baru keluar dari kilang dari 67 menjadi 87, perlu ditambah TEL 0,45 gram/liter. Padahal jumlah itu sudah tiga kali di atas ambang batas maksimal yang dapat diterima IATO, yakni, 0,15 gram/liter. Untuk mendapatkan oktan Super-98, harus ditambah 0,75 gram/liter TEL, lima kali di atas ambang batas maksimal IATO.

Penghematan
Menurut Menteri, pemakai Super-98 selama in hanya merupakan 6,3 persen dari seluruh pemilik kendaraan di dalam negeri. Pemakai kendaraan terbesar, sekitar 97 persen, menggunakan Premium-87. Menurut perhitungan Kompas, jika pemakai Premium-87 bergeser menjadi pemakai RON-88, sedangkan pemakai Super-98 bargeser jadi pemakai Premix-92, maka tingkat penggunaan TEL masih cukup besar. RON-88 mempunyai kandungan TEL 1,5 cc/gallon atau sekitar 0,396 cc/liter. Namun dengan peningkatan analisis reformat di kilang Cilacap, seperti ditegaskan menteri, diharapkan pada tahun 1992 di dalam negeri tidak lagi digunakan bensin yang mengandung Pb.

Arti penting penerapan bensin RON-88 bagi Pertamina sendiri adalah penghematan biaya. Selama ini, Pertamina memproduksi dua jenis bahan bakar, yakni Premium-87 yang banyak digunakan dan Super-98 yang sedikit sekali digunakan. Berdasarkan data Departemen Pertambangan dan Energi, pada tahun 1988 konsumsi Premium-87 mencapai 4.913 kl dan Super-98 mencapai 293 kl. Padahal sejak dari pengolahan sampai distribusi, kedua jenis bahan bakar itu menyita kegiatan yang sama besarnya. Di antaranya di kilang, pengolahan dilakukan terpisah. Begitu pula, pipa penyaluran dan pompa harus diadakan terpisah untuk menghindarkan kontaminasi. Ini tentunya sangat tidak ekonomis.

Maka penghapusan Super-98 dan penetapan RON-88 (Premium-87 yang dinaikkan angka oktannya) sebagai satu-satunya bahan bakar yang diproduksi Pertamina, adalah kebijakan yang tepat. Proses produksi dan sistem logistik untuk distribusi bensin dapat disederhanakan. Juga dapat mengurangi emisi polutan Pb di udara, terutama di wilayah yang padat lalu lintas. Kemudian, membuka peluang untuk diterapkannya teknik-teknik penanggulangan polusi udara dari gas buang kendaraan bermotor dengan menggunakan katalis, yang akan keracunan jika gas buang itu mengandung Pb. Dalam kaitan itu, terbuka kesempatan lebih baik, untuk menekan lebih jauh emisi-emisi senyawa hasil seperti CO, SO2, dan NOx.

Namun asal Anda tahu, menaikan angka oktan dari Premium-87 ke RON-88 berarti menambah biaya produksi, meski tambahan biaya ini diimbangi dengan pengurangan biaya besar-besaran dari penghapusan Super-98. Dengan berbagai perhitungan di atas, yang diharapkan masyarakat, tentunya, penerapan RON-88 ini tidak lalu berarti kenaikan harga BBM pula. (Satrio)

Sumber: Kompas, tanpa tanggal dan tahun
——————–
Ketahui Manfaat Konsumsi Bahan Bakar Berjenis RON 88, RON 90, dan RON 92

Kehadiran bahan bakar berjenis RON 90 (petralite) boleh jadi alternatif apabila Anda ingin performa mesin yang tangguh namun harga tetap ekonomis

Semenjak Pertamina meluncurkan pertalite , bahan bakar yang memiliki RON 90, publik merespons positif. Hal ini terlihat pemasaran pertalite yang semakin menyebar ke sejumlah daerah di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Pada tahap awal peluncurannya, pertalite hanya bisa dirasakan publik yang berdomisili di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Bahan bakar RON 90 ini diposisikan di antara premium, pertamax, dan pertamax plus dari segi kadar oktan dan harga.

Respons positif publik yang sudah merasakan manfaat pertalite, membuat Pertamina menargetkan ada 1.900 SPBU se-Indonesia yang menjual bahan bakar jenis pertalite sampai akhir tahun 2015. Menurut Vice President for Corporate Communication PT. Pertamina (Persero), Wianda Pusponegoro seperti yang dikutip dari laman kompas.com, hingga kini sudah ada 1.600 SPBU se-Indonesia yang menjual pertalite.

“Konsumsi pertalite terus mengalami peningkatan. Masyarakat bisa memilih bahan bakar mana yang cocok dengan kendaraan pribadinya”, jelas Wianda.

Dan respons positif publik terhadap kehadiran bahan bakar Ron 90 yang dipasarkan dengan harga Rp 8.400/liter ini ditandai dengan jumlah penjualannya yang sudah menembus 2 juta kiloliter. Dari kadar oktan dan harga, pertalite diposisikan di antara premium, pertamax, dan pertamax plus.Wianda memperkirakan masing-masing SPBU mampu menjual 2.500-3.000 liter atau setara dengan 11 persen untuk menjadi konsumsi BBM nasional. Permintaan pasar yang kian melambung inilah akhirnya memicu Pertamina untuk menambah lokasi pemasaran pertalite di sejumlah SPBU.

Kehadiran pertalite memang membuat animo masyarakat beralih bahan bakar. Bahkan Wianda menuturkan, jika dilihat dari sisi nasional seluruh SPBU, semenjak ada pertalite penjualan premium menurun dari 78 persen menjadi 68 persen. Hal ini tentu berdampak baik juga untuk perekonomian negara. Memang Pertamina bertujuan meluncurkan pertalite guna menekan konsumsi premium. Margin pertalite lebih tinggi dibanding premium lantaran ini adalah bahan bakar non subsidi, harganya mengikuti fluktuasi rupiah.

“Pertalite merupakan BBM non-subsidi yang diproduksi oleh Pertamina sebagai alternatif pilihan kepada konsumen khususnya konsumen BBM Jenis Premium dengan level Research Octane Number (RON) 90 dan di atas kualitas BBM jenis premium, yang lebih berkualitas, hemat BBM, ramah lingkungan dan dengan harga yang terjangkau,” jelas Faris Aziz, General Manager PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VI Kalimantan.

Apabila publik menginginkan kualitas bahan bakar yang lebih baik dari RON 88 (Premium)namun harga jualnya lebih terjangkau ketimbang RON 92 (pertamax), maka pertalite adalah jawabannya. Ada beragam kelebihan bahan bakar RON 90 ini dibanding RON 88. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan ketiga bahan bakar yang beredar di Indonesia, simak penjelasan berikut.

Berdasar spesifikasi di atas, beralih dari premium ke pertalite banyak memberikan manfaat. Selain meningkatkan performa mesin, mengonsumsi pertalite ternyata lebih ekonomis. Pertamina melakukan uji coba dua jenis bahan bakar (premium dan pertalite) terhadap kendaraan Avanza dan Camry. Ini hasilnya:

RON 88 (premium) RON 90 (pertalite) RON 92 (pertamax)
Penggunaan premium dalam mesin kompresi tinggi akan menyebabkan knocking. Knocking menyebabkan tenaga mesin berkurang sehingga terjadi pemborosan atau inefisiensi Membuat mesin kendaraan awet dan terawat Mampu menerima tekanan pada mesin kompresi tinggi sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan pertamax lebih maksimal
Knocking berkepanjangan mengakibatkan kerusakan pada piston sehingga komponen tersebut lebih cepat diganti Nilai oktan yang lebih tinggi, membuat tingkat pembakarannya lebih baik RON 88 Bahan bakar bebas timbal
Premium tidak memiliki zat aditif, sehingga kondisi mesin kurang berfungsi prima dan terjaga Pertalite memiliki zat aditif yang bersifat detergency atau pembersih. Adanya zat aditif ini memberikan efek kebersihan mesin yang lebih terjaga Pertamax memiliki zat aditif seperti halnya pertalite
Menggunakan tambahan pewarna Terdapat kandungan anti oksidan dan anti korosi serta pemisah air. Kandungan tersebut berfungsi menghambat proses korosi dan pembentukan deposit dalam mesin Ditujukan untuk kendaraan yang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal
Menghasilkan Nox dan Cox dalam jumlah besar Ramah lingkungan karena kadar gas emisi yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit Menghasilkan Nox dan Cox dalam jumlah yang sangat sedikit dibanding premium
Harga jual Rp 7.400/liter Harga jual Rp 8.400/liter (lebih ekonomis karena bisa menghemat antara 10% hingga 16% dibandingkan premium) Harga jual Rp 8.850/liter

Setelah mengamati spesifikasi ketiga bahan bakar yang dipasarkan di Indonesia, Anda bisa memilih yang sesuai kebutuhan. Jangan juga memaksakan mengonsumsi bahan bakar yang berkualitas maksimal namun tak sesuai kondisi finansial. Nah, sebenarnya dengan hadirnya pertalite, Anda bisa beralih ke bahan bakar tersebut. Pun, Anda dapat merasakan performa mesin yang tangguh tanpa harus terkendala finansial.

Sumber: https://www.aturduit.com, November 19, 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: