Home / Artikel / MTBE Aditif Bahan Bakar Masa Depan

MTBE Aditif Bahan Bakar Masa Depan

MUNCULNYA Premix sebagai bahan bakar jenis baru untuk kendaraan bermotor sebagai ganti dari Super 98, menimbulkan berbagai reaksi. Hampir semua media massa mengulas kelebihan dan kekurangan bahan bakar yang beroktan lebih rendah dari Super 98 ini, karena munculnya Premix dan hilangnya Super 98 dibarengi dengan kenaikan harga bensin yang sudah menjadi ketetapan pemerintah. Harga bensin Premium yang meningkat menjadi Rp 450,- per liter ini, kelihatannya tidak menjadikan topik perdebatan yang hangat, sebaliknya harga Premix yang berkisar antara Rp 555,- sampai
Rp 595,- per liternya malah menjadi bahan gunjingan pemakai Premix.

Bensin Super yang mempunyai angka oktan 98 digantikan oleh Premix yang mempunya angka oktan 92, yang merupakan campuran antara Premium (angka oktan 88) dengan sebuah aditif yaitu MTBE.

Turunnya angka oktan bahan bakar kendaraan bermotor dari 98 menjadi 92 menyebabkan terjadi sedikit perubahan pada unjuk kerja beberapa jenis mobil. Pada umumnya keluhan pemilik mobil disebabkan karena mobilnya “ngeglitik”.

Mengingat cukup beragamnya masalah yang terkait dalam teknologi bahan bakar kendaraan bemotor ini, AKUTAHU akan mencoba membahas sedikit banyak, dan pada pada edisi ini AKUTAHU akan mengupas soal bahan aditif bagi Premium yaitu MTBE (Metil Tersier Butil Eter) dimana hasil pencampurannya itulah yang dipasarkan sekarang sebagai Premix.

OKTAN
Sebelum kita bicara lebih banyak mengenai MTBE, maritah kita samakan dulu pengertian kita mengenai angka oktan. Skala oktan diperkenalkan oleh DR. Graham Edgar dari Ehytl Corporation yang memilih hidrokarbon rantai lurus n heptana sebagai skala nol yang meyebabkan ketukan (knocking) paling banyak, sedangkan skala 100 (saat itu paling tinggi) dipilih rantai cabang 2,2,4 trimetil pentana atau isooktan. Di kemudian hari angka oktan menjadi parameter yang penting serta didefinisikan sebagai prosentase isooktan yang diperlukan dalam bahan bakar cair untuk menghindari ketukan. Beberapa waktu sebelum DR. Graham Edgar memperkenalkan skala oktan, di Dayton, Ohio sudah pula ditemukan zat anti knocking (antiketuk) yaitu TEL (Tetra Ethyl Lead) yang merupakan senyawa Pb (timbal) bersifat racun hasil rekayasa Thomas Midgely (1922). Sebagai bahan antiketuk,TEL ini ditambahkan ke dalam bensin. Sebagai peningkat angka oktan dari bensin, TEL dikenal mempunyai kestabilan tinggi pada temperatur kamar dengan mempunyai angka oktan yang tinggi, sckitar 118 (RON). Penambahan TEL ke dalam bensin sangat dibatasi, karena gas buang (exhaust gas) yang dihasilkan dapat mencemarkan lingkungan, seperti CO, SO2, HC, NOx, PNA (polynuclear uromatic). Kekurangan dari segi mekanis adalah timbulnya deposit (Pb02) pada elemen mesin yang terdapat pada ruang bakar.

Akibat tingginya polusi yang ditimbulkan oleh bahan bakar dengan campuran TEL, maka sejak tahun 1970 pemerintah Amerika Serikat telah memutuskan untuk, mengurangi pemakaian Pb dalam bahan bakar secara perlahan. Diharapkan hampir semua negara dalam kurun waktu 10 – 15 tahun akan menghilangkan pcmakaian Pb tersebut.

Ada 3 cara untuk meningkatkan angka oktan dari bensin, yaitu
— meningkatkan teknologi dari kilang (biaya sangat mahal)
— memakai TEL sebagai aditif anti ketuk (biaya sangat murah)
— memakai bahan pencampur peningkat angka oktan yang mengandung oksigen seperti MTBE, Metanol, dll. (biaya cukup mahal)
MTBE telah dipilih sebagai salah satu aditif untuk meningkatkan angka oktan pada bahan bakar yang dipasarkan di Indonesia. Aditif lain yang telah dipakai sebelum MTBE adalah TEL.

ADITIF
Untuk menaikkan kualitas bahan bakar, dapat dicapai dengan proses pengolahan, pemurnian, atau dapat juga ditambahkan sejumlah bahan kimia tertentu. Bahan tambahan itu disebut aditif. Ada beberapa macam aditif yang dikenal:
— Aditif penghambat pembentukan es pada karburator
— Aditif pewarna
— Aditif penghambat oksidasi
— Aditif peningkat angka oktan (TEL, TML, TBA, Mctanol, MTBE)

Dari beberapa macam aditif yang ada, maka aditif peningkat angka oktan selalu menjadi topik pembicaraan bagi pemakai bahan bakar di Indonesia. Pilihan lain dari aditif TEL yang mulai dipakai saat ini adalah MTBE.

MTBE
MTBE (Metil Tersier Butil Eter) mulanya dibuat karena adanya hasil samping yang cukup besar dari pabrik Etilen. Salah satu hasil samping itu adalah Isobutilen. Dari beberapa metode pcmbuatan MTBE, satu metode yang dipakai adalah dengan mencampurkan isobutilen dengan metanol. MTBE mulai diproduksi pada pertengahan tahun 1973 di Ravenna, Italy oleh perusahaan Snamprogetti/ Anic dengan kapasitas produksi 100.000 metrik ton/tahun.

Pada tahun 1979 di U.S.A telah dioperasikan pabrik pembuat MTBE dengan kapasitas 280.000 metrik ton/ tahun. Hampir seluruh negara di Eropa, beberapa negara di Arab/ Afrika, dan negara di Asia telah memproduksi MTBE ini, tidak ketinggalan negara kita Indonesia juga sedang bersiap akan memproduksinya.

Angka oktan dari MTBE cukup tinggi, yaitu 106 sampai 123, sehingga cukup baik dipakai sebagai bahan pencampur pada bahan bakar. Beberapa kandungan dari gas buang pada kendaraan yang memakai bahan bakar dengan campuran MTBE dapat dikurangi scperti, CO, HC, NOx, SO2, PNA , dan juga mereduksi pemakaian Pb tanpa mempengaruhi angka oktan. Tidak terbentuk peroksida pada saat pembakaran, stabil pada saat penyimpanan, larut sempurna bersama bensin dalam berbagai % volume. Bila bensin bercampur dengan air, maka kelarutan MTBE dalam campuran tidak akan terpengaruh.

SIFAT – SIFAT MTBE:

Sifat Satuan MTBE
* Rumus kimia   H3C-O-C4H9
* Berat jenis   0,746
* Berat molekul   88
* Titik didih °C 55
* Titik beku °C -108
* Index bias 20°C   1,3689
* Tekanan uap 25°C mmHg 245
* Panas penguapan cal/gr 76,8
* Panas jenis cal/gr 0,51
* Kelarutan    
– MTBE dalam air (20°C) gr/100 gr 4,8
– Air dalam MTBE (20°C) gr/100 gr 1,5
* Sifat kimia, bersifat innert    

DESKRIPSI PEMBUATAN MTBE
Dalam proses pembuatan MTBE diperlukan bahan baku yaitu, metanol dan butena. Metanol bisa didapatkan dari hasil fermentasi, gas alam, dan biomas. Butena (C4 cut) bisa didapatkan dari perengkahan panas (steam cracking) atau perengkahan katalitik. Butena ini mengandung beberapa substituen seperti isobutena, butana, butadiena.

Metanol dan butena dimasukkan kedalam tangki reaksi, di mana sebclumnya dilewatkan kedalam ‘loop’ katalis resin penukar ion (ion exchange resin) pada temperatur 40 -45°C. Terjadinya reaksi selektif antara isobutena dan metanol akan terbentuk MTBE. Panas reaksi yang terjadi harus dinetralkan dengan menggunakan air yang berada pada loop, agar didapatkan suhu yang konstan. Pada keadaan ini isobutena telah dikonversi menjadi produk MTBE, yang nantinya harus mengalami fraksinasi agar didapatkan metanol bebas MTBE sebagai aliran bawah (bottom stream). Persentase hasil samping cukup kecil, sehingga kemurnian produk MTBE yang didapatkan selalu melebihi 99%.

Pemakaian bahan bakar yang masih mengandung TEL seperti bensin Premium, menghasilkan gas buang yang bersifat toksik lebih tinggi dibandingkan dengan campuran bensin premium ditambah MTBE. Gas buang yang bersifat toksik paling kecil, mungkin dapat ditemukan bila bahan bakar yang dipasarkan tidak mengandung 1EL dan dicampur dengan MTBE. Pemakaian bahan bakar (bebas TEL) setelah dicampur dengan MTBE yang semakin meluas, tentu akan mengakibatkan turunnya tingkat pencemaran lingkungan akibat gas buang, terutama akibat kendaraan bermotor.

Sumber : Snamprogetti/ Anic Report., SRI.

OLEH: FLORA ELVISTIA F.

Sumber: Majalah AKUTAHU/ JULI 1990

Share
%d blogger menyukai ini: