Home / Berita / kebencanaan / Pengetahuan Kebencanaan yang Menyelamatkan

Pengetahuan Kebencanaan yang Menyelamatkan

Tak ada orang yang mengharap kemalangan. Namun saat bala datang, tak ada pilihan lain selain menghadapi sembari meminimalkan risiko yang ada. Hanya ketenangan dan pengetahuan yang akan menjaga dan menyelamatkan mereka hingga bencana tak meninggalkan banyak dampak.

Saat ombak besar itu datang, Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 21.30, Indra Firdaus sedang duduk-duduk bersama teman-temannya dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) di pendopo Pondok Club Bahari, Anyer, Banten.

Meski acara resmi rapat akhir tahun selesai setengah jam lalu, mereka duduk mengobrol tentang teleskop yang mereka bawa. Rencananya, teleskop itu akan digunakan untuk mengamati komet 46P/Wirtanen yang seminggu lalu mencapai titik terdekatnya dengan Matahari.

Namun cuaca tak mendukung membuat teleskop itu disimpan di dalam pendopo. Pantai dan pendopo dipisahkan jalan selebar 3-4 meter yang sekaligus berfungsi sebagai tanggul. Sedangkan antara jalan dan pendopo hanya dibatasi pagar tembok setinggi setengah meter.

MUHAMMAD RAYHAN–Puncak Gunung Anak Krakatau yang dipotret Koordinator Kegiatan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Muhammad Rayhan, dari Pondok Club Bahari, Anyer, Banten Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 19.00-19.30 WIB. Selanjutnya pada pukul 21.03 WIB terjadi longsor lereng Anak Krakatau yang diduga memicu tsunami di pantai barat Banten dan selatan Lampung.

Tepat di bawah tanggul, ketinggian muka air laut hanya terpaut satu meter dengan bibir tanggul. Pasir pantai hampir tak terlihat. Tingginya muka air laut itu terjadi sejak siang hari. Indra dan teman-temannya memaklumi situasi itu karena Bulan sedang purnama sehingga air laut mengalami pasang naik.

Sekitar dua jam sebelumnya, saat Matahari baru terbenam, mereka sempat mengambil citra Gunung Anak Krakatau dengan teleskop. Puncak gunung tampak merah menyala akibat lelehan lava pijar. Dengan mata telanjang, percikan api lava juga terlihat jelas.

“Percikan lava itu terlihat indah dan menakjubkan, bukan seram,” kata Koordinator Kegiatan HAAJ Muhammad Rayhan. Vila mereka berjarak sekitar 50 kilometer dari Anak Krakatau.

Indra menambahkan, sejak siang, saat mereka datang, dentuman Anak Krakatau terdengar tiap 15-20 detik. Beberapa dentuman diikuti suara gemuruh yang kuat hingga kaca jendela vila bergetar keras. Suara gemuruh itu tak membuat khawatir karena masyarakat setempat menilai itu lumrah terjadi.

“Dua kali ombak memercik ke pendopo tak membuat kami khawatir, tapi saat ombak ketiga dan tiba-tiba air laut menggenangi lantai pendopo hingga sebetis (20 sentimeter), kami sadar itu tidak biasa,” katanya.

Kepanikan jelas terjadi. Terlebih, air laut sudah membasahi teleskop lain yang belum dipasang. Air, apalagi air asin, adalah musuh teleskop. Namun, mereka mampu mengendalikan rasa paniknya hingga dengan sigap menyelamatkan teleskop dan perlengkapan elektronik lain.

Tanpa teriakan, mereka bergerak terkoordinasi menuju vila yang berjarak 50 meter dari pendopo. Barang-barang itu mereka pindahkan ke lantai dua vila. Meski tinggi lantai pertama vila sekitar satu meter dari tanah, mereka ingin berjaga jika air laut makin meninggi.

Sembari memindahkan barang, Dmirza Pahlevi, anggota HAAJ lainnya ditugaskan memantau kondisi muka air laut. Jika air laut surut, tanda awal terjadinya tsunami, dia diminta membunyikan peluit panjang terus menerus.

Kekhawatiran itu akhirnya terjadi. Peluit panjang berbunyi berulang karena air laut surut 20-30 meter dari pinggir tanggul. Suara itu jadi tanda mereka harus bergegas ke luar vila, mencari tempat lebih tinggi.

Sementara itu, sesudah acara resmi selesai, pembina HAAJ Widya Sawitar memilih memancing di tepi laut dan membiarkan anggota HAAJ berkegiatan mandiri. Dia memilih lokasi di dekat kolam renang yang letaknya agak jauh dari pendopo.

Belum lama memancing, air laut naik tiba-tiba. Tanpa ada angin, gempa atau apapun, hanya dalam hitungan detik, air naik lebih dari satu meter. Muka air laut yang semula di bawah tanggul, kini sudah menyentuh mata kakinya dan menyatu dengan air kolam renang.

“Saya hanya menduga terjadi gempa di tempat lain yang tak dirasakan hingga air laut naik tiba-tiba,” katanya.

Widya pun refleks mundur. Di tengah kegelapan, ia sempat melihat air laut surut sebentar, meski tidak tahu seberapa besar turunnya air laut itu. Namun, air laut langsung naik lagi. Ia pun segera lari ke gerbang vila dan bertemu dengan anggota HAAJ yang siap mengungsi.

Tempat tinggi
Mereka pun bergegas keluar vila. Meski pemilik vila memberikan pilihan check out atau meninggalkan vila saat itu juga, mereka memilih mengungsi ke tempat tinggi. Pilihan itu diambil karena langsung pulang berisiko besar akibat ketidaktahuan waktu ombak besar datang atau ketidakpastian kondisi jalanan.

Tempat yang jadi pilihan mengungsi adalah bukit di belakang vila. Meski listrik tidak padam, proses evakuasi berjalan menegangkan. Gerimis membuat suasana tambah mencekam. “Terlebih, saya berjalan menembus ilalang perbukitan sambil menggendong anak umur 7 bulan,” kata Rayhan.

Fokus mereka hanya bagaimana sampai ke puncak bukit secepatnya. Akibatnya, mereka tak terlalu memerhatikan situasi jalan. Saat di atas di bukit, ternyata banyak wisatawan lain sudah berkumpul disana. Mereka pun saling berbagi informasi apa yang terjadi.

Sebagian wisatawan tak yakin terjadi tsunami karena tak ada gempa yang mendahuluinya, seperti tsunami Aceh 2004 dan Palu-Donggala, September 2018. Namun ada yang menduga tsunami karena Anak Krakatau sedang erupsi.

Dari puncak bukit itulah terdengar suara menderu dan gemuruh yang keras dari arah pantai. Meski tak melihat apa yang terjadi, mereka yakin telah terjadi sesuatu yang besar di bawah dan mereka bersyukur masih diberi keselamatan.

INDRA FIRDAUS–Suasana tempat pengungsian anggota Himpunan Astronomi Amatir Jakarta saat vila mereka di Anyer, Banten, dilanda tsunami Sabtu (22/12/2018) malam. Lokasi bangunan yang berada di ketinggian membuat mereka terhindar dari tsunami.

Di tengah gerimis, mereka melihat ada bangunan cukup terang dibalik bukit dengan lokasi cukup tinggi. Mereka pun memilih berpindah ke bangunan itu meski hanya bisa berada di terasnya karena terkunci. Berada di padang ilalang terbuka bukan pilihan karena selain gerimis, bisa saja ada ular atau binatang yang membahayakan.

Anggota HAAJ pun berinisiatif menelpon Badan SAR Nasional Banten di Serang. untuk menginformasikan situasi yang terjadi dan posisi mereka. Pihak Basarnas menjanjikan akan mengecek lokasi. Selain itu, sebagian anggota HAAJ juga memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau situs berita daring untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi.

Lepas tengah malam, setelah suara gemuruh reda, Indra memutuskan kembali ke vila mengambil makanan dan sejumlah perlengkapan pribadi. Di gerbang vila, mereka melihat bekas air laut yang mengering dan sebuah kulkas terbalik. Paginya, mereka melihat tembok pembatas areal vila dan jalan di atas tanggul sudah roboh.

Minggu pagi, mereka memutuskan pulang ke Jakarta. Meski mempersingkat agendanya, mereka bersyukur kembali dengan utuh, tanpa ada yang terluka. Kesadaran dan pengetahuan kebencanaan yang tinggi membuat anggota HAAJ bisa terhindar dari bencana yang mengancam.

INDRA FIRDAUS–Suasana vila Pondok Club Bahari, Anyer, Banten pada Minggu (23/12/2018) pagi setelah malam sebelumnya dilanda tsunami. Sebagian pagar tembok pemisah areal vila dan jalan di atas tanggul pantai rubuh. Air laut menggenangi seluruh areal vila hingga ke pintu gerbang vila.

“Panik pasti, tapi mereka bisa mengelola kepanikannya hingga tetap mampu berpikir rasional,” kata Widya.

Pengalaman itu tak membuat mereka takut untuk kembali ke pantai. “Bencana bisa datang kapan saja dan dimana saja. Yang penting tahu kapan bertindak, memprediksi secara tepat dan menyelamatkan diri secara terukur,” tambah Rayhan.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 26 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: