Home / Berita / Teknologi Penginderaan Jauh Permudah Identifikasi Kebakaran Hutan

Teknologi Penginderaan Jauh Permudah Identifikasi Kebakaran Hutan

Sistem penginderaan jarak jauh mempermudah upaya mendeteksi kebakaran hutan dan lahan. Teknologi ini sekaligus dapat memetakan riwayat kejadian kebakaran dalam periode panjang.

Sistem penginderaan jauh dengan metode digital dan dukungan data citra satelit yang tersedia secara gratis membantu proses identifikasi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Namun tantangan ke depan yakni memetakan sejarah karhutla di Indonesia dalam periode panjang.

Peneliti Pusat Pemanfaaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Yenni Vetrita mengemukakan, penginderaan jauh dibutuhkan karena identifikasi karhutla sulit dipetakan secara manual. Sistem penginderaan jauh memungkinkan identifikasi tanpa harus melalui pengukuran di lapangan.

“ Untuk memadamkan karhutla saja akan mengalami kesulitan terutama di wilayah gambut, apalagi harus memetakan kelilingnya. Kendala ini juga yang menyebabkan belum tersedianya data yang akurat dan dalam periode yang panjang,” ujarnya dalam webinar Bincang Inderaja, Jumat (18/9/2020).

Selain memungkinkan melakukan identifikasi jarak jauh, data penginderaan jauh bisa memotret kejadian lampau melalui metode waktu berkala (time series). Semua kelebihan yang didapat dari penginderaan jauh memungkinkan pemetaan riwayat karhutla.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN—Warga memanfaatkan aplikasi sipandora di Jakarta, Kamis (31/1/2019). Aplikasi Sipandora (Sistem Pemantauan Bumi Nasional berbasis Android) yang diluncurkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) kini bisa dinikmati masyarakat.

Identifikasi lahan terbakar dengan sistem penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua metode yakni visual dan digital. Metode visual mengandalkan kemampuan manusia untuk melihat, sedangkan digital mengandalkan kemampuan komputer atau mesin.

Metode visual harus didahului dengan data pendukung awal dari laporan masyarakat atau citra satelit. Selanjutnya data itu dipadukan dengan dua data citra sebelum dan sesudah kejadian kebakaran di wilayah itu. Deliniasi visual kemudian dilakukan untuk menentukan kevalidan data sebelum akhirnya divalidasi dan didapatkan hasil identifikasi karhutla.

“Kelemahan metode ini yaitu hanya ideal untuk wilayah kecil, tetapi untuk wilayah yang luas membutuhkan waktu dan sumber daya manusia yang banyak. Kelemahan lainnya, akurasi tergantung pada keahlian maupun pengetahuan dari interpreter satelit itu sendiri. Meski demikian, metode ini sangat dibutuhkan untuk pengecekan digital,” tutur Yenni.

Sementara metode digital memiliki sejumlah permodelan dengan berbagai variabel. Permodelan yang kerap digunakan yaitu spektra indeks dengan memanfaatkan berbagai macam citra sebelum dan sesudah kejadian kebakaran untuk memastikan deliniasi daerah terbakar. Adapun sistem permodelan yang saat ini mulai banyak digunakan yaitu random forest, boosting regression trees, dan google earth engine platform.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN—Peneliti dan teknisi mengawasi tampilan data penginderaan jauh untuk pemantauan lingkungan dan mitigasi bencana di Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta, Kamis (25/7/2013). Data didapat dari citra satelit atau pemantauan pesawat nirawak yang diolah para peneliti untuk disajikan dalam Sistem Informasi Mitigasi Bencana Alam (SIMBA).

Sama halnya dengan metode visual, metode digital memiliki kelemahan dan tidak bisa diterapkan secara maksimal jika ada tutupan awan dan kebakaran parah hingga menimbulkan asap. Solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kendala tersebut yakni mengombinasikan dengan metode visual.

Mendeteksi titik panas
Peneliti Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh LAPAN Andy Indrajad memaparkan, LAPAN telah mengembangkan sistem Fire Hotspot versi kedua untuk mendeteksi titik panas penyebab kebakaran. Sistem dengan penginderaan jauh versi terbaru tersebut dapat menentukan metode untuk menampilkan wilayah berdasarkan klaster dan piksel.

Ke depan, LAPAN berencana menambahkan klaster titik panas harian dalam sistem tersebut yang memungkinkan munculnya informasi titik panas setiap hari. Selain itu sistem pelaporan kebakaran akan dikembangkan sebagai verifikasi manual antarmuka.

KOMPAS/YUNI IKAWATI—Meteorology Early Warning Center di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menampilkan citra liputan awan, arah dan kecepatan angin, serta sistem prakiraan kondisi kelautan. Citra yang nampak di layar monitor hasil penginderaan jauh satelit cuaca Himawari dan radar.

Kepala Subdirektorat Mitigasi Struktural Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Radito Pramono mengatakan, data dan informasi yang dituangkan LAPAN dapat digunakan sebagai upaya pencegahan karhutla. Pencegahan dilakukan dengan mengidentifikasi data cuaca dan iklim, ketinggian air gambut, serta sebaran titik panas.

“Setelah memonitor hotspot (titik panas) yang ada di teknologi, maka perlu dicek kebenarannya di lokasi. Monitoring dilakukan oleh personel di lokasi terdekat dengan informasi hotspot,” katanya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 19 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: