Home / Berita / Tes Cepat Antigen untuk Atasi Keterbatasan PCR

Tes Cepat Antigen untuk Atasi Keterbatasan PCR

Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan terobosan teknologi berupa tes cepat berbasis antigen. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pemeriksaan spesimen terkait Covid-19 demi memutus rantai penularan penyakit tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia telah menyetujui penggunaan tes antigen untuk Covid-19 yang berbiaya murah dan bisa memberikan hasil dalam 15 hingga 30 menit. Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan terobosan teknologi ini guna mengejar kekurangan pemeriksaan.

“Tes cepat berkualitas tinggi (antigen) bisa menunjukkan kepada kita di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk melacak dan mengisolasi kontak dengan cepat dan memutus rantai penularan,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam keterangan tertulis, Selasa (28/9).

Menurut Tedros, tes adalah alat penting bagi pemerintah sebelum ingin membuka kembali ekonomi. Sesuai rekomendasi WHO, setiap wilayah seharusnya minimal melakukan tes 1 per 1.000 populasi per minggu.

Sejauh ini WHO baru memberikan persetujuan untuk penggunaan darurat kepada satu produk tes antigen dari perusahaan Korea Selatan SD BioSensor, sementara yang lain, dari perusahaan Amerika Serikat Abbott, dalam proses validasi.

Saat ini WHO telah bekerja sama dengan Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), the Bill & Melinda Gates Foundation, the Clinton Health Access Initiative (CHAI) dan sejumlah lembaga lain untuk menyediakan tes cepat antigen ini di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Mereka berencana menyediakan 120 juta tes diagnostik cepat antigen dengan harga maksimum 5 dollar per unit selama periode enam bulan.

Tes menjadi landasan penting dari respons terhadap Covid-19, yang memungkinkan negara-negara untuk melacak dan menahan virus, sebelum vaksin tersedia. Panduan WHO pada 11 September 2020 menyoroti fungsi penting tes cepat antigen ini di wilayah di mana transmisi komunitas tersebar luas sedangkan pengujian diagnostik berbasis reaksi berantai polimerase (PCR) masih terbatas.

Pemeriksaan dengan PCR selama ini menjadi kendala bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang menurut laporan WHO pekan lalu jumlahnya belum separuh dari ambang minimal. Selain membutuhkan laboratorium memadai dan tenaga analisis terlatih, tes PCR berbiaya relatif mahal. Di Indonesia, sejumlah laboratorium swasta mematok harga Rp 1 juta hingga 2,5 juta untuk tes PCR.

Sebelumnya, untuk menutupi kekurangan pemeriksaan, Indonesia menggunakan tes cepat antibodi, termasuk di antaranya menjadi syarat penerbangan. Padahal, menurut epidemiolog kolaborator Laporcovid19.org Henry Surendra, tes cepat antibodi tidak tepat untuk diagnosa. “Untuk diagnosa paling baik PCR atau minimal antigen ini.

Tes antigen ditujukan untuk deteksi keberadaan protein yang menjadi bagian dari virusnya, sementara tes antibodi untuk memeriksa antibodi yang dikeluarkan tubuh sebagai respon infeksi virus, jadi beda sekali,” katanya.

Biasanya antibodi ini akan muncul sekitar 7 -14 hari setelah infeksi, sehingga kalau pemeriksaan dengan tes cepat antibodi dilakukan di luar masa inkubasi, kemungkinan hasil negatif menjadi tinggi. Tes cepat antibodi seharusnya untuk penelitian guna melihat tingkat infeksi di suatu populasi.

Mengejar ketertinggalan
Epidemiolog Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, Indonesia harus memanfaatkan tes cepat antigen ini untuk menutupi kurangnya jumlah pemeriksaan. “India juga sudah menggunakan tes cepat antigen ini sehingga mereka bisa periksa hingga 1 juta orang per hari,” ungkapnya.

Mengacu data di worldometers.info, Indonesia menempati peringkat ke-157 dari 213 negara dalam hal jumlah tes total hanya 11,8 per 1000 penduduk. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, jumlah orang yang diperiksa secara nasional pada Selasa hanya 27.891 dengan hasil positif 4002 orang atau rasio positif sebesar 0,14 persen. Sedangkan korban jiwa bertambah 128 orang.

“Karena sudah ada persetujuan penggunaan WHO untuk kondisi darurat, artinya tingkat kepercayaannya lebih baik. Setahu saya, tes cepat antibodi belum ada persetujuan penggunaannya,” kata Dicky.

Praktisi laboratorium molekuler di Jakarta, Ungke Anto Jaya mengatakan, pemeriksaan dengan antigen ini tidak sebagus PCR, namun memiliki akurasi cukup baik. Pengujian oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menunjukkan, sensifitas tes antigen ini 84 – 97,6 persen dibandingkan PCR.

“Untuk hasil positif melalui tes antigen sama seperti PCR, kemungkinan besar tidak salah. Tetapi, kalau hasilnya negatif masih mungkin salah,” kata Ungke. Negatif palsu dari pemeriksaan antigen ini disebabkan tingkat sensitifitasnya masih lebih rendah dibandingkan PCR.

Peneliti Balai Litbang Kementerian Kesehatan Papua Hana Krisnawati menyatakan setuju penggunaan tes cepat antigen ini. Sebab, upaya meningkatkan kapasitas tes PCR mengalami banyak kendala, terutama bagi laboratorium di luar Jawa. “Namun tes antigen yang dipakai harus divalidasi, karena di pasaran banyak merek. Paling aman, pakai yang direkomendasikan WHO, jangan yang lain,” tuturnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: