Home / Berita / Pengembangan Agroekologi Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Pengembangan Agroekologi Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Konsep agroekologi bisa diterapkan di lahan gambut. Perlu ditekankan, implementasi pertanian ramah lingkungan ini pun harus memperhatikan fungsi gambut.

Konsep agroekologi perlu dikembangkan untuk mengatasi permasalahan produktivitas pertanian yang terus mengalami penurunan. Sejumlah riset yang menunjukkan penerapan konsep ini bisa membawa peningkatan produktivitas, menjadikannya potensial untuk dikembangkan dalam pertanian lahan gambut.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa mengemukakan, produktivitas pertanian di lahan gambut perlu dikembangkan. Alasannya, data yang dihimpun dari citra satelit dan berbagai sumber tersebut menunjukkan produksi padi pada 2019 menurun 7,7 persen dan pada 2020 diperkirakan kembali turun 4,7 persen.

”Terkait dengan konversi lahan sawah, dalam tempo tujuh tahun luas sawah menurun 1 juta hektar. Ini yang menjadi kecemasan kita bersama terkait masa depan pertanian di Indonesia,” ujarnya dalam kuliah umum daring bertajuk ”Peningkatan Produktivitas Pertanian di Lahan Gambut melalui Agroekologi” yang diselenggarakan Badan Restorasi Gambut (BRG), Jumat (11/9/2020).

Pengembangan agroekologi dinilai menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian. Agroekologi merupakan konsep dan prinsip ekologis untuk merancang dan mengelola ekosistem pertanian agar berkelanjutan. Dalam konsep agroekologi juga terdapat pengakuan terhadap kompleksitas produksi.

Andreas menjelaskan, ide utama dari agroekologi adalah merancang ekosistem pertanian. Dampaknya, ketergantungan dari pupuk kimia, pestisida kimia, dan mesin pertanian bisa diminimalkan tanpa harus mengganggu atau mengorbankan produktivitas lahan tersebut.

”Di seluruh dunia, penggunaan atau mengubah sistem konvensional ke agroekologi akan meningkatkan produksi 31 persen. Di negara berkembang, sistem agroekologi jika diterapkan dengan benar akan terjadi peningkatan produksi hingga 57 persen,” tuturnya.

Peningkatan produktivitas dengan mengubah sistem konvensional ke agroekologi juga ditunjukkan dari hasil riset di 13 kabupaten di Pulau Jawa. Hasil kajian dengan varietas padi IF8 ini menunjukkan, produktivitas dengan agroekologi mencapai 10,26 ton per hektar. Sementara petani di sekitarnya yang menerapkan teknologi konvensional menghasilkan 6,52 ton per hektar.

Agroekologi juga dapat dikembangkan di lahan gambut. Namun, pengembangan harus memperhatikan karakteristik lahan gambut untuk budidaya. Lahan gambut yang ideal untuk tanaman pangan harus memiliki ketebalan kurang dari 1 meter, bercampur dengan tanah atau endapan sungai, bersifat matang, dan tidak berpirit.

Namun, Andreas menegaskan, agroekologi untuk lahan gambut tetap harus mempertahankan fungsi produksi dan lingkungan. Fungsi produksi mencakup tanaman pangan atau hortikultura, sedangkan fungsi lingkungan di antaranya berupa lumbung air, sumber plasma nutfah, dan keanekaragaman hayati.

”Ciri khas dari agroekologi adalah diversity. Bagaimana kita bisa mengolah ekosistem yang ada sehingga serangan organisme pengganggu tanaman bisa ditekan dan kesejahteraan petani bisa ditingkatkan karena jika gagal di satu budidaya ada budidaya lain yang bisa diharapkan untuk memberikan pemasukan,” ungkapnya.

Dukungan petani
Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG Myrna A Safitri mengatakan, BRG menyadari bahwa restorasi tidak bisa menafikan keadaan masyarakat, termasuk petani. Di areal target restorasi gambut seluas 2,6 juta hektar, terdapat 1.205 desa dan kelurahan. Dari jumlah tersebut, 590 di antaranya tengah didampingi melalui program desa peduli gambut.

”Salah satu kegiatan yang dilakukan desa peduli gambut adalah mengembangkan inovasi berkaitan dengan pertanian di lahan gambut. Dari komunikasi dengan petani, kami menyimpulkan bahwa petani di lahan gambut memerlukan solusi dalam penyelenggaraan pertaniannya,” ujarnya.

Menurut Myrna, solusi dibutuhkan karena ekosistem yang menjadi target restorasi gambut telah rusak. Tetapi di sisi lain, petani diharapkan bisa mengembangkan inovasi teknologi yang menjamin kegiatan pertanian tetap berjalan sekaligus menghilangkan kejadian kebakaran.

”Salah satu isu yang penting di dalam pertanian lahan gambut adalah agroekologi. Pemahaman tentang agroekologi sangat penting disampaikan ke para petani untuk menguatkan mereka bahwa pertanian yang ramah lingkungan dan bertumpu pada keswadayaan petani itu bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan,” ucapnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 12 September 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: