Home / Berita / Penemuan Spesies Baru Berpacu dengan Kepunahan

Penemuan Spesies Baru Berpacu dengan Kepunahan

Bertambahnya temuan spesies baru fauna kian membuktikan Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Namun, temuan spesies baru ini tidak sebanding dengan laju kepunahan yang terjadi. Kerusakan ekosistem karena perilaku manusia menjadi penyebab utama. Langkah antisipasi serta perlindungan pun masih lemah.

Setidaknya dalam Buku Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014 tercatat, terdapat 8.157 jenis fauna vertebrata atau bertulang belakang di Indonesia. Jenis ini termasuk jenis mamalia, burung, amfibi, reptil, dan ikan. Selain itu, 10 persen dari jenis kupu-kupu di dunia atau sekitar 1.900 jenis ditemukan di Indonesia.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Jenis baru burung Myzomela prawiradilagae yang ditemukan oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lipi yang ditampilkan di kawasan Pusat Penelitian Biologi, Bogor, Selasa (8/10/2019).

Jumlah spesies fauna baru yang ditemukan pun semakin meningkat. Pada 2015, ada 43 jenis baru fauna yang ditemukan. Jumlah ini terus bertambah setiap tahun. Dari 2016-2018 tercatat ada penambahan 64 jenis baru. Sejak Januari 2019-Oktober 2019 sudah ditemukan 33 jenis baru. Ditargetkan, jumlah ini bisa bertambah sampai 50 spesies hingga akhir tahun.

“Jumlah penambahan spesies baru ini memberi angin segar di tengah krisis keragaman hayati di Indonesia. Sayangnya, para peneliti hanya mampu menemukan 30-40 persen spesies atau jenis fauna baru setiap tahun. Masih banyak sekali spesies yang belum teridentifikasi manfaatnya, bahkan belum ditemukan. Sementara, laju kepunahan akibat kerusakan ekosistem semakin tinggi,” ujar Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi di Bogor, Selasa (8/10/2019).

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Jumlah temuan jenis fauna baru di Indonesia.

Menurut dia, penyebab utama kepunahan jenis fauna di Indonesia adalah ulah dari manusia. Hal itu antara lain karena perubahan tata guna lahan dan lautan, eksplotasi langsung pada organisme fauna, perubahan iklim, pencemaran air dan udara, serta spesies invasif.

Belum ada data pasti terkait laju kepunahan fauna di Indonesia. Namun, merujuk pada laporan The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), satu juta spesies tanaman dan hewan menuju kepunahan. Jika tidak ada upaya yang masif dan serius untuk melindungi keragaman jenis hayati, Indonesia sangat dirugikan.

“Pemerintah telah menetapkan ratusan jenis fauna dan flora utuk dilindungi melalui berbagai jenis regulasi. Namun, pengawasan yang masih lemah di lapangan membuat eksploitasi masih berlebihan,” kata Cahyo.

Peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy menambahkan, penemuan baru jenis fauna di Indonesia memiliki manfaat yang sangat penting. Selain menambah data biodiversitas hayati di Indonesia, identifikasi yang dilakukan pada spesies baru bisa diteliti lebih lanjut untuk diketahui manfaatnya bagi manusia.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy

Potensi keragaman hayati di Indonesia saat ini belum tergali dan terevaluasi dengan baik. Karena itu, perlu dilakukan pemetaan manfaat, sebaran, dan data karakteristik hayati. Jenis hayati yang telah dievaluasi dan diketahui manfaatnya dapat dijadikan produk bernilai tinggi dan digunakan untuk mengatasi masalah di masyarakat, seperti kelaparan dan kemiskinan.

Spesies baru
Ancaman kepunahan yang terus meningkat membuat para peneliti semakin terpacu untuk bisa mengidentifikasi spesies fauna baru di Indonesia. Para peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI telah mengidentifikasi lima jenis fauna baru. Fauna ini adalah katak tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis), burung Myzomela prawiradilagae, serta tiga jenis baru kodok wayang yakni Sigalegalephrynus gayoluesensis, Sigalegalephrynus burnitelongensis, dan Sigalegalephrynus harveyi.

Amir menyampaikan, jenis katak tanduk Kalimantan telah dicatatkan dalam jurnal Zootaxa volume 4679 pada 2019. Secara morfologi, jenis katak ini mirip dengan katak tanduk pinokio (Megophrys nasuta) yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Meski begitu, tanduk pada bagian moncong dan mata katak tanduk Kalimantan lebih pendek dibandingkan katak tanduk pinokio. Secara genetik pun telah terbukti berbeda. Selain itu, secara akustik, suara individu jantan dari jenis katak ini cenderung lebih panjang dengan variasi yang lebih banyak jika dibanding katak lain.

Sementara untuk tiga jenis kodok yang baru ditemukan, Amir mengungkapkan, masing-masing ditemukan di sekitar pegunungan tinggi yang membujur di Sumatera. Ketiganya telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa volume 4679 tahun 2019. Untuk jenis Sigalegalephrynus gayoluesensis ditemukan di kawasan Gayo Lues, Aceh. Sementara jenis Sigalegalephrynus burnitelongensis ditemukan di Gunung Burni, Telong, Aceh dan jenis Sigalegalephrynus harveyi berasal dari Gunung Dempo, Sumatera Selatan.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Tiga jenis baru kodok wayang yang teridentifikasi pada 2019 yakni Sigalegalephrynus gayoluesensis, Sigalegalephrynus burnitelongensis, dan Sigalegalephrynus harveyi.

“Setelah teridentifikasi, kami langsung mengusulkan ketiga kodok ini masuk dalam kategori kritis (critically endangered). Kodok ini termasuk hewan endemis yang hanya ditemukan di pegunungan tinggi. Kawasan pegunungan ini saat ini semakin terancam, baik karena tata guna lahan yang bermasalah serta rawan terjadinya bencana alam. Upaya perlindungan sangat dibutuhkan,” ucap Amir.–DEONISIA ARLINTA

Editor M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 8 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Dihuni 13.000 Jenis Tumbuhan, Papua Pulau dengan Biodiversitas Flora Tertinggi Geser Madagaskar

Kerja keras 99 peneliti dari 19 negara menyodorkan fakta bahwa Pulau Papua memiliki 13.634 spesies ...

%d blogger menyukai ini: