Home / Berita / arkeologi-antropologi / Penemuan Homo Floresiensis

Penemuan Homo Floresiensis

Awalnya kami kira kerangka balita, mungkin berusia tiga tahun. Tetapi ternyata tulang belulang mungil dan rapuh yang baru kami hamparkan di dalam sebuah gua besar di pulau Flores itu, adalah kerangka manusia dewasa setinggi kira-kira satu meter.

Pertanyaan pertama yang hinggap di kepala kami: apakah kami baru saja menemukan kerangka manusia modern yang terserang penyakit atau malnutrisi? Tidak. Karena tulang belulangnya tampak primitif, dan sisa kerangka lain dari gua Liang Bua menunjukkan tulang-belulang ini sama. Berarti kerangka itu mencirikan seluruh populasi mahluk kerdil yang pernah hidup di pulau terpencil ini. Jadi kami telah menemukan spesies manusia baru!

Saat kembali ke laboratorium, gambaran besar dari apa yang kami temukan mulai nampak. Si manusia kecil ini kami juluki Hobbit, seperti julukan orang kerdil dalam buku Lord of the Rings, hidup 18 ribu tahun yang lalu saat manusia modern bergerak mengitari bola dunia. Dia mirip versi yang lebih kecil dibandingkan nenek moyang manusia yang ditemukan di barat Asia laut yakni daerah Georgia, tetapi usianya beberapa ratus kali lebih tua. Secara kebetulan kami menemukan dunia yang hilang, yaitu orang kerdil yang bertahan hidup pada jaman prasejarah. Siapakah mereka? Dan apakah melalui sanak yang hilang ini kita akan mengetahui evolusi masa lalu kita?

Flores, pulau sepanjang 360 kilometer, terbentang di antara Asia dan Australia, tanpa pernah terhubung ke benua-benua itu. Bahkan saat permukaan laut rendah, untuk menuju Flores dari daratan Asia kita harus menyeberang lautan sepanjang 24 kilometer. Sebelum manusia modern mulai mengangkut binatang ke pulau itu sekitar 4 ribu tahun yang lalu, satu-satunya mamalia darat yang sampai di sana adalah stegodon (nenek moyang gajah yang telah punah) dan tikus —stegodon berenang dan tikus menumpang batangan kayu yang terapung di laut. Tak ada orang yang dapat menginjakkan kaki di Flores sampai manusia modern datang, dengan kemampuan otak yang diperlukan untuk dapat membangun perahu. Begitulah pendapat sebagian besar ilmuwan.

Tetapi pada tahun 1950-an dan 1960-an, Pastor Theodor Verhoeven, seorang pastor dan arkeolog paruh waktu, me-nemukan tanda-tanda kehadiran manusia purba. Di Lembah Soa, Flores, ia menemukan peralatan dari batu di dekat fosil stegodon, yang diperkirakan berusia 750 ribu tahun. Homo erectus, ho-minin purba atau sanak manusia, diketahui telah tinggal di pulau Jawa sedikitnya 1,5 juta tahun lalu. Jadi Verhoeven menyimpulkan bahwa erec-tus berhasil menyeberang ke Flores.

Infografis penemuan Homo floresiensis

Pastor Verhoeven gagal meyakinkan kalangan arkeologi. Tetapi pada tahun 1990-an, peneliti-peneliti lainnya memakai teknik modern untuk mengetahui umur alat-alat dari Lembah Soa dan memperkirakan bahwa peralatan itu dibuat kira-kira 840 ribu tahun lalu. Verhoeven benar: Nenek moyang manusia telah berada di Flores jauh sebelum manusia modern mendarat di sana. Tetapi belum ditemukan sisa peninggalan penghuni yang sebelumnya. Jadi kami terus mencari dengan fokus di Liang Bua, di kawasan Flores barat laut. Menjelang September 2003, tim kami yang terdiri dari peneliti Indonesia dan Australia, dibantu 35 pekerja orang Manggarai, menggali 6 meter ke dasar gua. Banyak perkakas batu dan tulang belulang binatang ditemukan pada lapisan-lapisan yang lebih muda, tetapi pada titik ini, penggalian tampaknya harus berakhir.

Beberapa hari sebelum penggalian tiga bulan itu berakhir, nasib kami berubah. Sepotong tulang menjadi petunjuk pertama. Lalu tampak bagian atas tengkorak, rahang, tulang panggul dan satu rangkaian tulang kaki yang masih merekat bersama —hampir seluruh kerangka Hobbit sudah terlihat. Kami tahu telah membuat penemuan mencengangkan, tetapi kami tak berani memindahkan tulang belulang itu untuk diteliti. Kerangka yang terendam air itu rapuh seperti tisu yang basah kuyup. Jadi kami membiarkannya di sana selama tiga hari supaya kering, memberinya pengeras dan menggali sisa-sisa peninggalan di seluruh blok.

Kami memangku kerangka itu dalam pener-bangan kembali ke Jakarta. Di Ibu Kota, Peter Brown seorang paleoantropolog, mengawasi pembersihan, konservasi, dan analisa. Struktur tulang panggul menunjukkan Hobbit itu perempuan, dan dari giginya dipastikan bahwa ia sudah dewasa. Dahinya yang miring, kening yang melengkung, dan rahang yang tebal mirip Homo erectus, tetapi berukuran unik. Bukan hanya bentuknya yang kecil dan beratnya yang ringan —sekitar 25 kilogram— tetapi otaknya ternyata amat kecil, kurang sepertiga otak manusia modern. Sejauh ini otak Hobbit yang terkecil dari anggota genus Homo.

Kerangka mungil itu mengingatkan pada fosil yang lebih tua dan lebih kecil, tapi berbeda dengan Homo erectus besar manapun di Asia Timur. Tengkoraknya tertekuk ke dalam di bagian pelipis, seperti orang Dmanisi dari Georgia, di Asia barat laut yang berusia 1,77 juta tahun. Dan dalam beberapa hal, seperti tajamnya rahang bawah, hominin Liang Bua mengingatkan pada fosil yang lebih tua yakni Lucy, spesies Australopithecus berusia 3,2 juta tahun dari Ethiopia.

Anehnya, ia kelihatan hidup di era modern. Penanggalan radiokarbon dan penyinaran laser mengungkapkan usianya 18 ribu tahun. Saat penggalian di Liang Bua pada pertengahan 2004, kami menemukan tulang belulang dan gigi, milik sekitar enam orang lainnya, berasal 95 ribu sampai 13 ribu tahun lalu.

Bagi beberapa orang skeptis, semuanya terasa terlalu berlebihan untuk dipercaya. Mereka ber-kilah kerangka yang lengkap itu pasti kerangka manusia modern dengan kondisi langka yang disebut mikrosepali, di mana otak mengerut dan tubuh mengerdil. Tulang belulang kecil yang lain, katanya, mungkin milik anak-anak. Tetapi apa yang ditemukan tahun lalu, yaitu bagian dari tengkorak orang dewasa yang kedua, rahang bawahnya sama kecilnya seperti yang pertama. Artinya argumentasi tentang penyakit langka pada kedua kerangka itu patut diragukan

Sekilas, kami sudah mengira Hobbit spesies manusia baru: Homo floresiensis. Spesies ini mungkin berevolusi dari populasi Homo erectus awal, yang perkakasnya ditemukan Pastor Verhoeven. Tetapi setelah ratusan ribu tahun hidup terisolasi di Flores, mereka mengecil.

Pengerdilan itu sering dialami mamalia besar yang terdampar di daratan. Mereka biasanya menghadapi lebih sedikit pemangsa —di Flores, komodo adalah satu-satunya ancaman— yang membuat ukuran dan tenaga kurang penting. Jarangnya sumber makanan di satu pulau kecil ternyata mernbuat badan yang besar dan kurang kalori itu susut. Dulu para antropolog berdebat apakah di jaman prasejarah manusia dapat beradaptasi dengan lingkungan baru, melalui penemuan peralatan atau kebiasaan baru, dan bukannya berevolusi fisik seperti mahluk lain. Pengerdilan yang tampak di Flores adalah bukti kuat manusia tak lepas dari seleksi alam. Penemuan Hobbit juga petunjuk tetap adanya variasi manusia lain yang mungkin pernah tinggal di sudut terpencil dunia itu.

Meskipun otaknya mengecil, orang-orang kerdil itu tampaknya berteknologi maju. Perapian, tulang terbakar, dan ribuan peralatan batu yang kami temukan di antara sisa-sisa peninggalan mereka pasti pekerjaan tangan mereka. Batu yang runcing, mungkin pernah dipasang di tombak, ada di antara tulang-tulang stegodon, beberapa dengan tanda irisan. Tampaknya mereka memburu binatang besar di sekelilingnya. Perburuan itu kegiatan berkelompok, karena stegodon dewasa meskipun mengecil, beratnya masih lebih dari 350 kilogram. Bobot yang menakutkan bagi “anak kecil.”

Penemuan itu menambah teka-teki yang pernah ditanyakan Verhoeven: Bagaimana hominin purba bisa ada di Flores? Apakah Homo erectus adalah pelaut yang mampu membuat rakit dan merancang pelayaran? Pertanyaan menggelitik lainnya: Manusia modern yang mendiami Australia datang dari daratan utam”sia sekitar 50 ribu tahun lalu, dan tinggal di Indonesia dalam perjalanan mereka. Mungkinkah mereka dan Hobbit saling berjumpa?

Mungkin mereka pernah berjumpa sebelum sesuatu- mungkin perubahan lingkungan, per-saingan atau konflik dengan manusia modern —membuat orang-orang kecil musnah. Penggalian di habitat Hobbit mungkin bisa menjawab. Petunjuk datang dari cerita rakyat mengenai orang bertubuh setengah orang biasa, berbulu dan berdahi rata— cerita yang dikisahkan pen-duduk pulau itu sampai sekarang. Sungguh menakjubkan, manusia modern masih memili-ki sejarah lisan kehidupan masa lalu, saat hidup berdampingan dengan jenis manusia lain.

Petunjuk dari sebuah gua di pulau
Manusia pengelana pertama, Homo erectus, menyeberangi jembatan darat dari Asia ke indonesia. Rute mereka berakhir di Jawa (atas), tempat ditemukannya tulang Homo erectus berusia 1,5 juta tahun. Tak ada yang percaya manusia awal ini bisa menyeberangi Garis Wallacea yang berupa samudera. Para ilmuwan menduga, baru 50 ribu tahun lalu manusia Homo sapiens bisa melakukannya. Namun perkakas batu berusia 840 ri tahun yang ditemukan di Lembah Soa, Flores, adalah tanda Homo erectus menyeberangi Garis Wallacea jauh sebelumnya. “Bagaimana mereka sampai di sana, tetap misteri besar,” kata Mike Morwood dari Univesitas England, Australia. Untuk mencari tanda manusia purba, arkeolog Wahyu Saptomo dan Mike Morwood Ibawah) memeriksa perkakas batu yang ditemukan terkubur dalam gua kapur yang disebut Liang Bua oleh orang Manggarai. Di atas jalan masuk yang luas (atas kanan) stalaktit abu menggantung bak srigala bergigi tajam, tapi bagian dalamnya ternyata indah..” Seperti katedral,” kata Morwood, yang menggali sejak 2001. Penduduk memakai gua untuk kuburan selama ribuan tahun. Di bawah lantai tanah liat, ada lapisan yang dipenuhi tulang-belulang manusia dari berbagai zaman. Tetapi Morwood tertarik dengan penghuni pertama, Homo floresiensis, yang tiba 95 ribu tahun lalu. Tanah diangkut ember demi ember ke pos mencucian di dekat sepetak sawah (atas kiri), di-mana para peneliti membersihkan lumpur dari perkakas dan tulang. Pekerjaan itu tak sia-sia karena ditemukan peninggalan milik sekitar tujuh individu, juga batu runcing yang terasah baik, mungkin ujung tombak yang menyiratkan Homo floresiensis, lebih pintar daripada Homo erectus.

Kerangka Homo floresiensis hanya sekitar setengah kerangka manusia modern dewasa. “Aku tahu dalam waktu 60 menit setelah melihat tulang rahangnya, bahwa ini adalah sesuatu yang sama sekali baru,” kata paleontropolog Peter Brown, yang memeriksa tulang itu. la mengetahui hal itu dari gigi-gigi di depan gerahamnya yang mempunyai akar berbeda jauh dengan akar gigi kita. Tulang panggul perempuan ini juga lebih lebar dari tulang panggul Homo sapiens. Lengannya terjuntai hampir sampai ke lutut, kata Brown, tetapi tangannya yang halus dan tulang pinggangnya menunjukkan bahwa “ia jarang memanjat.”

Di mana orang kerdil bertemu raksasa
Mengapa orang Flores itu sangat pendek? Kata biogeografer Mark Lomolino yang mempelajari fenomena pengerdilan oleh pulau, “Evolusi menekankan perubahan, dan beberapa spesies melakukannya dengan menciut.” Stegodon, nenek moyang gajah yang telah punah, rentan terhadap pengerdilan, karena mereka kerap tinggal di pulau. “Gajah adalah perenang yang kuat,” katanya. Sekali sampai di pulau yang sumber makanan dan mangsanya sedikit, ukurannya menyusut. Di Pulau Sisilia, Kreta dan Malta, para ilmuwan telah menggali tulang belulang gajah primitif yang ukurannya seperduapuluh gajah di daratan utama. Tetapi jenis tikus, cenderung membesar di tempat tanpa pesaing. Di Flores ditemukan banyak fosil tikus dan kadal raksasa, juga stegodon kerdil sebesar kerbau dan rangka-manusia mungil (ditunjukkan di atas dengan perkakas batu dan gigi stegodon). Kata Peter Brown, Homo floresiensis mungil mungkin berevolusi dari Homo erectus yang mencapai Flores sekitar 800 ribu tahun lalu. “Tulang Homo erectus belum kita temukan,” katanya, “yang ada hanya manusia bertubuh kecil ini.”

Dua spesies terpisah 1,8 juta tahun dan 10.000 kilometer. Adakah mereka kerabat jauh?
Saat menganalisa rangka manusia kecil dari Flores yang disebut hobbit, kata Peter Brown mereka lebih mirip kerangka Homo erectus yang ditemukan di Dmanisi„Asia bagian barat dibandingkan dari Indone-sia. “Ini aneh,”katanya. Banyak penelitian harus dilakukan untuk menentukan apakah kedua spesies berhubungan. Penemuan itu menambah gambaran diaspora manusia di era awal. Dmanisi menunjukkan, nenek moyang Pengen manusia meninggalkan Afrika lebih awai dari yang diduga, dan pengembara ini adalah karnivora yang menyantap banyak protein. Makan daging mungkin kunci bertahan hidup di luar Afrika, dan membuat nenek moyang manusia berevolusi dengan otak lebih besar, yang biasa terjadi pada pemangsa. Penemuan di Flores menyatakan hominin menyeberangi laut jauh sebelum yang diduga para ilmuwan, membuat mereka bertanya-tanya adanya spesies manusia yang belum dikenal. ” Homo erectus mungkin mendarat di berbagai pulau di Indonesia dan berevolusi,” kata Richard Roberts dari Universitas Wol-longong, Australia. ” Nanti bisa jadi kita akan lebih kaget dengan penemuan lainnya.”

Oleh Mike Morwood, Thomas Sutikna, Richard Robertus
Foto oleh Kenneth Garrett
Gambar oleh Lars Grant-West

Sumber: Majalah national Geographic Indonesia, Edisi Perdana April 2005

Share
%d blogger menyukai ini: