Home / Berita / Peneliti Ukur Kadar Merkuri dari Rambut

Peneliti Ukur Kadar Merkuri dari Rambut

Dalam penelitian selama tujuh bulan, tim peneliti dari Indonesia dan Italia mengukur kadar merkuri pada rambut orang-orang di area pertambangan emas skala kecil. Hasil riset itu menunjukkan, meski tak terlibat langsung dalam kegiatan pertambangan, mereka tetap terpapar merkuri dalam jumlah membahayakan.

Peneliti mengumpulkan sampel rambut dari 150 orang di wilayah pertambangan emas skala kecil (PESK) di Sumbawa Barat dan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, dalam kurun 2014-2015. Sampel terdiri atas tiga kelompok, yakni kelompok petambang 90 orang, kelompok yang tak terpapar pertambangan secara langsung (jarak 500-1.000 meter dari lokasi pertambangan) 30 orang, dan kelompok yang tak terpapar sama sekali (jarak lebih dari 5.000 meter dari pertambangan) 30 orang.

“Hanya dua sampel rambut yang menunjukkan kadar merkuri di bawah 1 ppm (bagian per juta) atau di bawah 1 miligram merkuri per 1 kilogram rambut,” kata pengajar dan peneliti pada Universita degli Studi di Bologna, Italia, Ivano Vassura, dalam seminar tentang pengukuran kadar merkuri dari rambut di area tambang emas, Senin (7/9) di Jakarta. Seminar itu digelar Kedutaan Besar Italia di Jakarta bersama Italian Institute of Culture Jakarta.

Hasil studi itu membuktikan merkuri bisa berpindah dalam jarak jauh di atmosfer. Padahal, merkuri membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia, antara lain bersifat toksik bagi sistem saraf, pencernaan, dan kekebalan tubuh. Kadar 1 ppm adalah batas aman kandungan merkuri sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Rambut, lanjut Vassura, dipilih karena jadi rekaman jejak yang bertahan lama terkait metabolisme normal dan abnormal serta kontaminasi lingkungan. Rambut juga mudah dikumpulkan, disimpan, dan bisa dianalisis secara cepat. Itu berbeda dengan darah yang perlu prosedur penyimpanan dan perizinan khusus untuk dibawa ke Italia.

Tambang-emas-tradisionalDalam riset itu, Vassura bekerja sama dengan peneliti muda dari Jurusan Pertanian dan Lingkungan Universitas Mataram, NTB, Maywin Dwi Asmara, yang terlibat riset dampak merkuri pada sektor PESK, terutama di wilayah sekitarnya. Maywin mendapat beasiswa untuk ikut meneliti di Italia selama tiga bulan.

Merkuri biasa dipakai petambang emas skala kecil karena praktis untuk mengolah emas. Logam berat itu berfungsi dalam proses amalgamasi untuk mengekstrak emas dari batuan. Karena amat berbahaya, pemakaian merkuri jadi perhatian global sehingga melahirkan Konvensi Minamata tentang Merkuri pada 2013, yang turut ditandatangani Indonesia. Pemerintah berkomitmen menghapus penggunaan merkuri di PESK pada 2018.

Maywin menjelaskan, ada tiga tahap pengukuran kadar merkuri pada sampel rambut, yakni membersihkan rambut, menghancurkan rambut dengan dicampur asam nitrat, lalu menganalisis merkuri. Analisis merkuri memakai MHS-15 Mercury/Hydride System terkoneksi pada Atomic Absorption Spectrometer AAnalyst 400 (PerkinElmer).

Sejauh ini, masalah merkuri pada PESK tak hanya terkait dengan riset kadar merkuri dan dampaknya, tetapi amat kompleks, termasuk soal kesejahteraan rakyat. (JOG)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 September 2015, di halaman 14 dengan judul “Peneliti Ukur Kadar Merkuri dari Rambut”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: