Kerugian akibat Merkuri Capai Rp 24 Miliar

- Editor

Rabu, 3 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tingkat Kecerdasan Masyarakat Menurun
Indonesia mengalami kerugian Rp 12 miliar hingga Rp 24 miliar setiap tahun karena pencemaran merkuri. Kerugian itu dihitung dari hilangnya potensi ekonomi akibat terjadi penurunan tingkat kecerdasan masyarakat sekitar penambangan emas yang terpapar merkuri.

Hasil studi yang diterbitkan dalam The Journal of Environmental Management itu membandingkan dampak pemakaian merkuri di 17 lokasi penambangan di 15 negara. Kajian itu dipimpin oleh Leonardo Trasande dari Department of Environmental Medicine University School of Medicine, New York, Amerika Serikat.

“Studi ini mengungkapkan pentingnya memantau pencemaran merkuri melalui pemantauan biologi,” kata David Evers, Direktur Eksekutif di Biodiversity Research Institute dan salah satu penulis studi ini, dalam siaran pers.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Evers, studi itu merupakan upaya pertama melakukan analisis standar secara global dalam menentukan tingkat keparahan dampak merkuri. Fokus studi kali ini adalah dampak pencemaran merkuri pada penurunan kecerdasan.

Penambangan emas
“Untuk Indonesia, yang diambil adalah sampel rambut 60 orang di dua lokasi penambangan emas masyarakat, yakni Sekotong (Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat) dan Poboya (Sulawesi Tengah),” kata Yuyun Ismawati, Penasihat Senior BaliFokus, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (2/6). BaliFokus adalah lembaga swadaya masyarakat yang mengambil sampel di Indonesia untuk riset itu.

Petambang di dua lokasi itu mencampur bijih yang mengandung emas dengan merkuri, lalu membakar merkuri untuk mendapat emas. Pengolahan terjadi di halaman belakang rumah atau di dekat sawah. Petambang mengolah tailing yang terkontaminasi lebih lanjut dengan sianida atau mengalirkannya ke sungai.

Menurut kajian itu, 61 persen sampel riset di dua lokasi di Indonesia itu punya kadar merkuri lebih besar dari 1 bagian per juta (ppm), referensi dosis yang dikeluarkan US Environmental Protection Agency (EPA). “Saat dianalisis dengan standar 0,58 ppm, proporsi orang dengan kadar merkuri tinggi hampir 3 dari 4 orang (73 persen),” ujarnya.

Dengan menghitung tingginya masyarakat yang terpapar merkuri ini, para peneliti menghitung kemungkinan jumlah bayi lahir dengan kondisi kecerdasan (IQ) rendah. Dari 1.244 kemungkinan bayi lahir di dua lokasi penambangan emas di Indonesia ini, diperkirakan yang akan mengalami penurunan kecerdasan 520-885 bayi. Lalu nilai kerugian secara ekonomi dihitung, dan kerugian Indonesia diperkirakan Rp 12 miliar sampai Rp 24 miliar per tahun.

“Studi itu menunjukkan contoh kecil tingkat kerusakan yang terjadi di semua tempat serupa di Indonesia. Biaya pencemaran merkuri yang tak terlihat berupa rendahnya kualitas hidup, lingkungan tak sehat, dan berkurangnya peluang sosio-ekonomi amat tinggi,” kata Yuyun.

Terkait hal itu, Indonesia perlu segera meratifikasi Konvensi Minamata yang melarang penggunaan dan perdagangan merkuri. Pemerintah juga harus segera melaksanakan rencana aksi nasional untuk mencegah hilangnya potensi penghasilan di Indonesia dan dampak buruk bagi kesehatan generasi masa depan negara ini.

Toxic Program Manager BaliFokus Krishna Zaki menambahkan, paparan merkuri juga meningkatkan risiko kerusakan sistem saraf, ginjal, dan kardiovaskular. Dampak merkuri bagi sistem organ yang berkembang seperti sistem saraf janin adalah efek toksik merkuri paling sensitif meski hampir semua organ tubuh manusia rentan.

Paparan merkuri pada manusia terutama melalui konsumsi ikan yang terkontaminasi. Paparan langsung dalam bentuk menghirup uap merkuri juga menjadi sumber paparan merkuri yang berbahaya. (AIK)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Kerugian akibat Merkuri Capai Rp 24 Miliar”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB