Home / Berita / Pendekatan Budaya Atasi Konflik Buaya-Manusia

Pendekatan Budaya Atasi Konflik Buaya-Manusia

Interaksi dan konflik buaya dengan manusia yang tinggal di dekatnya sering berakhir dengan pembantaian buaya. Untuk mengurangi konflik buaya-manusia tersebut, penelitian di Timor Leste menganjurkan pendekatan budaya lokal. Pendekatan ini dapat dilakukan di Indonesia yang juga sering terjadi konflik buaya-manusia.

ANTARA/OLHA MULALINDA–Warga melihat ratusan bangkai buaya setelah dibantai warga setempat di Kabupaten Sorong, Papua Barat, Sabtu (14/7/2018). Aksi itu merupakan bentuk kemarahan warga terhadap pengelola penangkaran yang dinilai lalai setelah seorang warga tewas akibat diterkam buaya.

Penelitian berjudul ”Manajemen Buaya di Timor Leste: Menggunakan Pengetahuan Ekologis Tradisional dan Kepercayaan Budaya” itu dimuat dalam jurnal Human Dimensions of Wildlife yang juga dipublikasikan Science Daily, 2 Juli 2019. Penelitian dilakukan tim peneliti Timor Leste, Jerman, Australia, dan Turki.

Status populasi buaya air asin (Crocodylus porosus) di Timor Leste sebelum kemerdekaan dari Indonesia pada tahun 2002 sebagian besar tidak diketahui. Brackhane, Webb, Xavier, Gusmao, dan Pechacek dalam penelitiannya tahun 2018 menghitung, terjadi peningkatan 23 kali lipat dalam serangan buaya air asin terhadap manusia di Timor Leste sejak 2007. Kematian akibat buaya air asin merupakan 14 persen dari kematian dan 10 kali lebih tinggi daripada kematian akibat malaria dan 2,5 kali lebih tinggi daripada kematian akibat demam berdarah.

Menghadapi konflik buaya-manusia ini, Timor Leste membentuk Satuan Tugas Buaya Nasional pada 2012, tetapi tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk merancang dan mengimplementasikan program manajemen yang efektif. Namun, dengan serangan di daerah wisata yang ditunjuk, seperti Com dan Tutuala, dan dengan peningkatan buaya penampakan di ibu kota Dili, tekanan terhadap Satuan Tugas Buaya untuk mengambil lebih banyak tindakan sedang meningkat.

Padahal, Timor Leste atau Timor Lorosae dikatakan telah terbentuk dari ”kakek buaya”. Itulah sebabnya, banyak orang yang tinggal di Timor Timur memuja binatang yang mereka yakini mendirikan pulau itu.

”Status budaya buaya dapat ditelusuri kembali ke mitos penciptaan Timor Leste. Suatu ketika, seorang anak lelaki kecil menyelamatkan seekor buaya. Ia dan buaya menjadi teman dan mereka melakukan perjalanan laut bersama. Setelah buaya meninggal, pulau Timor Leste terbentuk dari tubuhnya,” tutur Sebastian Brackhane dari Fakultas Lingkungan dan Sumber Daya Alam di Universitas Freiburg, Jerman.

Di banyak komunitas Timor Leste, kepercayaan ini terus hidup berdampingan dengan agama Katolik. Hubungan khusus antara manusia dan hewan ditunjukkan dengan berbagai cara. ”Ada ritual untuk buaya air asin yang melibatkan pengorbanan hewan lain, seperti babi. Di tingkat nasional, tim sepak bola dan perusahaan telekomunikasi terbesar Timor Lorosae menggunakan buaya sebagai logo,” kata Brackhane.

Mengingat kepatuhan yang meluas terhadap pemujaan leluhur buaya di Timor Leste, merasionalisasi meningkatnya konflik manusia-buaya menciptakan beberapa tantangan pengelolaan satwa liar yang unik. Presiden Timor Leste Taur Matan Ruak ketika mencari bimbingan teknis menggambarkan dilemanya, ”Kakek kita sekarang sedang memakan cucu-cucunya.”

Mempertimbangkan konteks budaya yang kuat di Timor Leste ini, peneliti berharap bahwa para pemangku kepentingan lokal akan memahami interaksi buaya-manusia dan strategi manajemen buaya yang sebagian besar didasarkan pada sistem kepercayaan budaya dan pengetahuan ekologi tradisional mereka.

KOMPAS–Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah Seksi Konservasi II Cilacap-Pemalang tengah berupaya mengevakuasi seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dari sebuah kolam di salah satu hotel di kawasan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 6 Oktober 2015.

”Buaya dapat ditangkap di daerah di mana aktivitas manusia dan buaya sering tumpang tindih dan kemudian dipindahkan ke kandang. Habitat buaya yang penting untuk bersarang dapat menjadi daerah yang dilindungi dengan akses terbatas bagi manusia,” kata Brackhane memberi saran.

Menurut peneliti, mengintegrasikan nilai-nilai budaya tradisional tentang buaya ke dalam program manajemen modern memiliki berbagai preseden di negara lain. Di wilayah utara Australia, orang Aborigin memiliki keyakinan budaya yang kuat tentang buaya, yang diintegrasikan ke dalam program manajemen konflik buaya-manusia. Hal yang sama juga telah dilakukan di Papua Niugini, Afrika Barat, Tanzania, Benin, Madagaskar.

Di Laos dan Kamboja, pengetahuan ekologi tradisional dan kepercayaan budaya membantu melestarikan buaya siam (Crocodylus siamensis) yang terancam punah.

Pada Agustus 2014, Wildlife Conservation Society (WCS) melepas 17 buaya siam yang terancam punah ke lahan basah Xe Champhone, Desa Than Soum, Provinsi Savannakhet, Laos. Diperkirakan ada kurang dari 1.000 buaya siam yang tersisa di alam dengan proporsi yang signifikan dari populasi ini terletak di Laos.

AFP/STRINGER–Penjaga melepaskan buaya yang dinamai Gustave Junior setelah mengobati luka-luka yang diderita buaya tersebut selama tiga minggu akibat terjebak perangkap, Selasa (18/9/2018), di Taman Nasional Ruzizi, pinggiran Bujumbura, Burundi.

”Kami sangat senang dengan keberhasilan program kolaboratif ini dan percaya ini adalah langkah penting dalam berkontribusi pada konservasi spesies dengan melibatkan komunitas lokal dalam lahan basah jangka panjang dan pengelolaan spesies,” tutur Alex McWilliam dari WCS Laos, seperti dikutip Science Daily, 28 Agustus 2014.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 3 Juli 2019

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: