Plastik Bisa Terurai dalam Sepekan

- Editor

Selasa, 20 Juli 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Humaira, 21 tahun, mahasiswi jurusan kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, berhasl membuat plastik ramah lingkungan, yang mudah terurai oleh tanah, hanya dalam waktu sepekan.

Penelitiannya ini dilatarbelakangi, plastik yang sudah terpakai kerap menimbulkan pencemaran lingkungan karena menumpuknya sampah terlalu lama, sehingga rawan bencana banjir.

“Plastik yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan hingga bertahun-tahun dapat terdegradasi atau terurai dengan tanah hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu,” ujar gadis kelahiran Jombang tersebut, Selasa (20/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

humairaIa menjelaskan, plastik sintetis merupakan bahan pengemas makanan yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, berasal dari bahan – bahan sintesis seperti “selulosa asetat”, “polietilen”, “polipropilen”, “poliamida”, “poliester”, “polivinil klorida” (PVC), “polivinil asetat” dan “aluminium foil”.

Plastik yang dibuat dari bahan-bahan tersebut bersifat non “biodegradable” atau tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme di dalam tanah.

Tidak hanya itu saja, biasanya plastik sintetis ditambahkan bahan pelembut (“plasticizer”) agar tidak kaku dan tidak mudah rapuh. Bahan pelembut ini, sebagian besar terdiri atas senyawa golongan “ftalat” (ester turunan dari asam ftalat).

“Padahal, penggunaan `plasticizers` seperti PCB dan DEHA dapat menimbulkan kematian jaringan dan bersifat karsinogenik pada manusia,” ucapnya mengungkapkan.

Ia mengungkapkan, penelitiannya kali ini memberikan terobosan alternatif melalui pengembangan plastik “biodegradabel” yang mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah dan “renewable” (terbarukan).

Lebih lanjut dia mengemukakan, bahan yang digunakan untuk pembuatan plastik biodegradabel ini antara lain pati lidah buaya, kitosan, dengan gliserol sebagai “plasticizer”.

“Lidah buaya mengandung `polisakarida` yang dapat membentuk lapisan film plastik yang memiliki sifat antibakteri, sedangkan kitosan mengandung protein untuk memperkuat sifat mekanika atau kekuatan plastik, serta gliserol sebagai `plasticizer` yang ramah lingkungan untuk memberikan kelenturan atau elastisitas pada plastik,” tukas alumnus SMA Negeri 2 Jombang tersebut.

Oleh karena itu, plastik biodegradabel dari lidah buaya ini memiliki keunggulan yaitu bersifat antibakteri dan mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah, paparnya.

Humairah juga mengatakan, plastik dari pati lidah buaya-kitosan dibuat dengan variasi konsentrasi kitosan tiga persen, empat persen, lima persen, enam persen, dan tujuh persen (b/v). Sedangkan konsentrasi lidah buaya dan gliserol dibuat tetap yaitu lima persen (b/v) dan 10 mililiter.

Tentang metode, ia menerangkan, metode yang digunakan dalam sintesis plastik dari lidah buaya-kitosan, yakni “inverse fasa” dengan penguapan pelarut pada temperatur 60 derajat celcius.

“Untuk karakterisasi plastik ini meliputi pengukuran ketebalan, uji sifat mekanik, uji `swelling`, penentuan morfologi dan uji sifat `biodegradable`,” paparnya.

Dari hasil penelitian, kata dia, diperoleh nilai daya tarik prosentase pemanjangan film plastik dan modulus yang optimal pada komposisi pati lidah buaya dan kitosan 5 persen dibanding 7 persen (b/v), yaitu masing-masing 461,538 MPa, 6,2 persen, dan 744,416 MPa.

“Prosentase penggembungan (`swelling`) yang optimal diperoleh pada komposisi plastik antara pati lidah buaya-kitosan lima persen dibanding empat persen (b/v), dengan nilai 12,5 persen. Disamping itu, berdasarkan hasil `Scanning Electron Microscopy` (SEM), dihasilkan morfologi film plastik yang rata dan tidak berongga,” tutur Humaira menjelaskan.

Sehingga, dalam uji biodegradable terhadap plastik dari lidah buaya-kitosan dengan menggunakan bakteri EM4 menunjukkan bahwa film plastik terdegradasi dalam waktu sepekan saja. [TMA, Ant]

Sumber: Gatra, 20 Juli 2010

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB