Soal Terdegradasi atau Terurai

- Editor

Sabtu, 20 Februari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pihak menilai program kantong plastik atau keresek berbayar di ritel modern tak perlu. Alasan program itu untuk mengurangi timbulan sampah juga dinilai mengada-ada. Toh, lebih dari 95 persen peritel di Indonesia telah menggunakan plastik yang bisa terdegradasi. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan bagi lingkungan?

Menurut peneliti polimer pada Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, plastik dengan klaim degradable yang umumnya disediakan peritel-peritel itu hanya pecah di alam, bukan terurai secara biologis. Contohnya, jenis oxodegradable yang merupakan plastik yang terpecah-pecah karena teroksidasi.

“Oxo itu plastik biasa yang ditambahkan zat aditif atau logam berat sehingga ketika berada di lingkungan panas dan sinar matahari, lapisan akan luruh. Katalis akan memecah plastik,” urainya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Plastik yang merupakan senyawa polimer berantai sangat panjang dipengaruhi zat aditif dan katalis logam berat itu akhirnya pecah kecil-kecil. Bahkan, bisa berukuran mikro atau biasa disebut mikroplastik.

Masyarakat bisa terjebak pada klaim “ramah lingkungan” atas produk oxodegradable. Seolah, dengan memakai plastik jenis itu, maka sudah go green. Padahal, plastik itu hanya terpecah dari bentuk besar menjadi bentuk mikro.

Kekhawatiran “menggampangkan” persoalan plastik itu muncul dalam laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul “Biodegradable Plastics and Marine Litter: Misconception, Concerns, and Impacts on Marine Environments” pada akhir 2015. Penggunaan plastik degradable pun seakan membuat siapa saja lepas tanggung jawab karena berpikir materi itu akan terurai sendiri di alam.

Untuk benar-benar terurai habis membutuhkan proses dan kondisi tertentu serta waktu lama. Di perairan, persyaratan utama terdegradasi, seperti suhu tinggi (di atas 50 derajat celsius) dan radiasi sinar ultraviolet dari matahari, tak mungkin memapar kantong plastik degradable di lautan dingin dan gelap.

Kondisi dingin ekstrem di kutub utara, misalnya, es akan memerangkap plastik sehingga hampir tak mungkin terurai. Itu membuat kelimpahan mikroplastik di sana, setidaknya tiga kali lebih banyak daripada di daerah lain di lautan, termasuk Great Pacific Garbage Patch, pusat konsentrasi plastik di laut (Kompas, 10 Desember 2015).

Di lautan, plastik yang pecah menjadi mikroplastik menimbulkan berbagai masalah. Ketika mikroplastik berada di lautan, fauna setempat salah mengidentifikasinya sebagai plankton sehingga memakan dan menelannya. Perjalanan rantai makanan pun berlanjut hingga membahayakan manusia.

Bagi kesehatan, kata Agus, zat aditif yang ditaruh sebagai campuran plastik bisa terlepas dan terserap tubuh. “Aditif plastik bermacam-macam sesuai tujuan dan fungsi plastik itu,” ujarnya.

Zat aditif pada plastik PVC merupakan senyawa phthalate yang di Uni Eropa mulai dilarang. Pelepasan senyawa aromatik itu bisa memengaruhi hormon pada tubuh. Keberadaan senyawa itu di sungai diduga penyebab ikan-ikan pejantan berubah jadi betina.

Di dunia, kata Agus, mikroplastik itu masih diperdebatkan apakah akan terurai di alam atau masih membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk terurai. “Molekul polimer ini tersisa dan tertinggal di alam,” ujarnya.

Beda lagi dengan plastik biodegradable. Plastik jenis ini dibuat dari bahan tepung nabati, seperti sagu, jagung, dan tapioka. Di tengah risiko pengembangannya akan berkonflik dengan kebutuhan pangan, plastik jenis ini bisa terurai secara biologi di alam.

Plastik jenis ini terurai jadi senyawa organik berbeda yang rantai polimernya telah terpecah. Agus mengatakan, plastik biodegradable bisa diatur formulasi pembuatannya agar sifat dan waktu terurainya sesuai keinginan manusia.

Namun, plastik biodegradable masih sangat mahal. Seperti sumber energi dari tanaman yang belum bisa bersaing dengan energi fosil, demikian nasib plastik mudah terurai di alam itu. Harga plastik biodegradable bisa 10 kali lipat dari harga plastik biasa yang terbuat dari minyak bumi.

Untuk bisa bersaing dengan plastik biasa atau degradable, kantong plastik biodegradable itu membutuhkan keberpihakan. Salah satunya, pengenaan cukai bagi plastik jenis lain agar harga bisa bersaing. Jadi, pembatasan penggunaan kantong keresek tetaplah perlu.–ICHWAN SUSANTO
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Soal Terdegradasi atau Terurai”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 37 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB